Markus 4 : 26 - 29
4:26 Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,
4:27
lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih
itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya
tidak diketahui orang itu.
4:28 Bumi dengan sendirinya
mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian
butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.
4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."
Tugasku Mengabarkan, tapi Tuhan yang Mempertobatkan
Biasanya
kita berpikir bahwa setiap yang kita kerjakan perlu ada kalkulasi atau
perhitungannya. Kita bisa memperhitungkan seberapa jauh persiapannya,
apa yang harus dilakukan, bagaimana prosesnya dan seperti apa nanti
hasilnya. Tapi tentu kita juga tahu bahwa ada banyak dalam hidup kita
yang kita tidak bisa kendalikan sepenuhnya dan menentukan hasilnya
seperti apa. Bahkan banyak dalam hidup kita yang terjadi dimana kita
tidak lihat prosesnya secara langsung, tapi tiba-tiba kita lihat
hasilnya.
Perumpamaan tentang benih yang tumbuh ini bicara
tentang bagaimana Kerajan Allah terwujudkan dengan ajaib. Seperti orang
yang menabur benih di tanah, lalu orang yang menabur itu tidur. Tidur
disini tidak perlu diartikan bahwa dia tidak perduli, atau
malas-malasan, karena yang ditekan adalah terjadinya sesuatu pada benih
itu yang penaburnya tidak tahu bahkan tidak dapat mendeteksi bagaimana
prosesnya. Ada suatu proses yang terjadi antara waktu menabur dan waktu
menuai; kenyataan bahwa yang menabur ini tidur, sebenarnya mau
menunjukkan bahwa proses tersebut terjadi justru tanpa campur tangan si
penabur.
Perumpaman ini bicara tentang salah satu aspek Kerajaan
Allah, bahwa Kerajan Allah juga dinyatakan dengan cara yang misterius.
Seringkali Allah bekerja dengan misterius, datang dengan inisiatif
sepenuhnya dan tanpa menggunakan campur tangan manusia sama sekali. Hal
ini dapat kita lihat dalam pertobatan seseorang.
Allah bekerja
dengan misterius mempertobatkan orang. Seringkali kita mendengar
tagline: mengabarkan injil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang sesat.
Pdahal sebenarnya kita tidak bisa menyelamatkan jiwa-jiwa yang sesat,
kita tidak bisa mempertobatkan orang. Yang bisa kita lakukan adalah
mengabarkan inji dan menaburkan benih! Kita sebenarnya hanya tahu
tiba-tiba orang percaya dan panen tiba!
Ada orang bisa mendengar
khotbah berkali-kali tapi tidak juga bergeming dan tidak bertobat juga.
Atau ada juga orang yang mendoakan pasangannya atau orang tuanya selama
bertahun-tahun supaya percaya Tuhan, tanpa tahu kapan yang didoakan
bertobat. Tapi suatu hari tiba-tiba saja orang itu bertobat karena suatu
khotbah yang sederhana, atau peristiwa hidup yang biasa dan tiba-tiba
saja hatinya berubah dan menerima Kristus. Mengapa demikian? Karena
Allah bekerja dengan kuasaNya secara penuh dan tidak bergantung pada
siapapun dan apapun juga untuk menjalankan rencanaNya. Ini adalah
proses yang hanya Tuhan secara eksklusif bisa lakukan dan tidak ada
campur tangan manusia didalamnya. Mengapa bisa demikian?
Karena
memang Dia adalah Allah yang berdaulat penuh, dan keberadaanya tidak
begantung oleh apapun dan oleh siapapun sehingga Dia bisa kapan saja
sesuka hatiNya berintervensi dalam hidup kita. Hal ini justru seharusnya
membuat kita semakin giat mengabarkan Injil karena kita tahu bukan kita
yang mempertobatkan tapi Allah yang mempertobatkan. Dia secara
misterius bekerja dalam hati manusia menumbuhkan iman percaya dalam hati
seseorang.
Jadi sahabat,, jangan pernah berhenti memberitakan
Injil, menaburkan kebenaran dan menyatakan Kasih, karena kita tahu
jerih payah kita tidak ada yang sia-sia karena didalamnya Allah bekerja
dengan misterius dan ajaib.
December 7, 2009
November 28, 2009
Renungan: Selalu Baru Tiap Pagi
Ratapan 3 : 21 - 24
3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
3:24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
Selalu baru tiap pagi
Kalau kita bangun pagi, dengan perasaan enak, sebelum ke kantor, di saat kita merasa segala sesuatunya berjalan dengan baik, maka dengan senang kita akan mengatakannya dengan penuh penghayatan “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu” Tapi sebenarnya syair atau puisi ini adalah sebuah ratapan sebuah jeritan yang kalau disuarakan, pastilah sesuatu yang menyayat hati. Jeritan dan ratapan ini diungkapkan karena melihat Yerusalem hancur, atau lebih tepatnya dibiarkan Allah dihancurkan. Padalah kota ini adalah kota yang didalamnya Allah berkenan, kota yang Allah kuduskan untuk diriNya, yang menjadi sentral umat Allah untuk menyembah Dia.
Tapi perhatikan apakah yang Yeremia lihat dalam penderitaan itu dan apa yang dia pikirkan yang kemudian membuat dia bisa berharap ditengah penderitaannya. Yeremia mengatakan di ayat 21 “tapi hal-hal inilah yang kuperhatikan”, atau “This I call to mind”. Seringkali kalau kita lagi susah, yang kita ingat adalah kesusahan yang lain, sehingga kita makin merasa terpuruk. Apa yang muncul dalam pikiran kita ketika penderitaan itu datang. Ingatan itu adalah anugrah. Bersyukurlah ketika anda masih bisa mengingat sesuatu dalam hidup anda. Yeremia mengingat: “tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya”
Yeremia berbicara hal yang paling mendasar tentang siapa Allah baginya. Dia berharap pada Allah karena dia tahu ada sumber yang tidak habis-habis. Kita sering mengandalkan sumber daya yang kita punya: mungkin kita bisa optimis memasuki tahun ini, karena keuangan kita sedang bagus, pekerjaan kita juga sedang lancar-lancarnya,dan kondisi seakan dapat kita control dengan baik. Kalau seperti ini cara pikir kita, dan hal-hal yang bersifat materi yang membuat kita optimis, maka ketika semua itu makin berkurang, atau bahkan semua diambil dari anda, maka hilang juga optimisme kita dan runtuh juga seluruh kepercayaan kita.
Tapi Yeremia melihat sumber optimis hidupnya bukan dari apa yang dia punya, tapi dari apa yang Allah punya! Apa yang kita punya akan habis seperti debu dan abu, tapi apa yang Allah punya tidak akan ada habisnya. KasihNya tidak berkesudahan, rahmatNya tidak akan habis. Dalam bahasa aslinya rahmat memiliki akar kata yang sama dengan ‘rahim’. Kehidupan seorang bayi dimulai dari rahim, yang menyediakan segala kebutuhan sang bayi. Berarti rahmat ini, berasal dari Allah yang menjadikan, yang menyediakannya. Allah adalah sumber rahmat. Dan rahmat Tuhan tidak mungkin gagal didalam memelihara dan menopang hidup kita. Inilah sumber optimism kita menghadapi hari-hari yang baru di depan kita. Jangan pernah mengandalkan apa yang kita punya, apalagi apa yang orang punya, tapi apa yang Allah bisa kerjakan bagi kita.
Dari sumber yang tidak habis-habis ini, yang tidak berkesudahan ini, maka Yeremia dapat melihat hidup kesehariannya adalah pemeliharan Tuhan, dari hari ke hari. Pagi hari adalah tanda bahwa kita baru saja melewati malam yang gelap. Pada malam hari ktia terbatas, tidak banyak yang bisa kita perbuat. Pada malam hari kita tidak bekerja, kita tidur, dan pada saat kita tidur Allah bekerja memelihara. Orang Jahudi menghayati “pagi hari” sebagai moment khusus untuk berdoa,dan sebagai imam Yeremia sangat menghayati arti pagi sebagai waktu khusunya berdoa dihadapan Tuhan. Makna ini lebih prinsip dari sekedar makna harafiah “pagi” karena rahmat Tuhan tersedia pagi siang dan malam. Tapi Rahmat Tuhan itu hanya terjadi dalam hubungan kita yang erat dengan Allah.
Temans, hadapi hari ini dengan optimis; sumbernya hanya ada pada Tuhan.
3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
3:24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
Selalu baru tiap pagi
Kalau kita bangun pagi, dengan perasaan enak, sebelum ke kantor, di saat kita merasa segala sesuatunya berjalan dengan baik, maka dengan senang kita akan mengatakannya dengan penuh penghayatan “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu” Tapi sebenarnya syair atau puisi ini adalah sebuah ratapan sebuah jeritan yang kalau disuarakan, pastilah sesuatu yang menyayat hati. Jeritan dan ratapan ini diungkapkan karena melihat Yerusalem hancur, atau lebih tepatnya dibiarkan Allah dihancurkan. Padalah kota ini adalah kota yang didalamnya Allah berkenan, kota yang Allah kuduskan untuk diriNya, yang menjadi sentral umat Allah untuk menyembah Dia.
Tapi perhatikan apakah yang Yeremia lihat dalam penderitaan itu dan apa yang dia pikirkan yang kemudian membuat dia bisa berharap ditengah penderitaannya. Yeremia mengatakan di ayat 21 “tapi hal-hal inilah yang kuperhatikan”, atau “This I call to mind”. Seringkali kalau kita lagi susah, yang kita ingat adalah kesusahan yang lain, sehingga kita makin merasa terpuruk. Apa yang muncul dalam pikiran kita ketika penderitaan itu datang. Ingatan itu adalah anugrah. Bersyukurlah ketika anda masih bisa mengingat sesuatu dalam hidup anda. Yeremia mengingat: “tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya”
Yeremia berbicara hal yang paling mendasar tentang siapa Allah baginya. Dia berharap pada Allah karena dia tahu ada sumber yang tidak habis-habis. Kita sering mengandalkan sumber daya yang kita punya: mungkin kita bisa optimis memasuki tahun ini, karena keuangan kita sedang bagus, pekerjaan kita juga sedang lancar-lancarnya,dan kondisi seakan dapat kita control dengan baik. Kalau seperti ini cara pikir kita, dan hal-hal yang bersifat materi yang membuat kita optimis, maka ketika semua itu makin berkurang, atau bahkan semua diambil dari anda, maka hilang juga optimisme kita dan runtuh juga seluruh kepercayaan kita.
Tapi Yeremia melihat sumber optimis hidupnya bukan dari apa yang dia punya, tapi dari apa yang Allah punya! Apa yang kita punya akan habis seperti debu dan abu, tapi apa yang Allah punya tidak akan ada habisnya. KasihNya tidak berkesudahan, rahmatNya tidak akan habis. Dalam bahasa aslinya rahmat memiliki akar kata yang sama dengan ‘rahim’. Kehidupan seorang bayi dimulai dari rahim, yang menyediakan segala kebutuhan sang bayi. Berarti rahmat ini, berasal dari Allah yang menjadikan, yang menyediakannya. Allah adalah sumber rahmat. Dan rahmat Tuhan tidak mungkin gagal didalam memelihara dan menopang hidup kita. Inilah sumber optimism kita menghadapi hari-hari yang baru di depan kita. Jangan pernah mengandalkan apa yang kita punya, apalagi apa yang orang punya, tapi apa yang Allah bisa kerjakan bagi kita.
Dari sumber yang tidak habis-habis ini, yang tidak berkesudahan ini, maka Yeremia dapat melihat hidup kesehariannya adalah pemeliharan Tuhan, dari hari ke hari. Pagi hari adalah tanda bahwa kita baru saja melewati malam yang gelap. Pada malam hari ktia terbatas, tidak banyak yang bisa kita perbuat. Pada malam hari kita tidak bekerja, kita tidur, dan pada saat kita tidur Allah bekerja memelihara. Orang Jahudi menghayati “pagi hari” sebagai moment khusus untuk berdoa,dan sebagai imam Yeremia sangat menghayati arti pagi sebagai waktu khusunya berdoa dihadapan Tuhan. Makna ini lebih prinsip dari sekedar makna harafiah “pagi” karena rahmat Tuhan tersedia pagi siang dan malam. Tapi Rahmat Tuhan itu hanya terjadi dalam hubungan kita yang erat dengan Allah.
Temans, hadapi hari ini dengan optimis; sumbernya hanya ada pada Tuhan.
November 26, 2009
Renungan: Cerdas melihat Orang
Matius 7:15-20
(15) Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
(16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
(17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
(18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
(19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
(20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Kita seringkali terpesona dengan penampilan seseorang, bahkan kita mengukur seseorang itu dari penampilan luarnya; baik itu tutur katanya, sikapnya, sampai cara berpakaiannya. Memang ini sudah menjadi ciri manusia yang senang sekali melihat penampakan luar, karena memang cara melihat seperti itu lebih gampang. Padahal cara melihat seperti itu adalah tidak cerdas, bahkan Tuhan memperingatkan kita bahwa cara melihat yang seperti ini bisa membut kita terjerat oleh pengajaran yang sesat yang dibawa oleh guru-guru sesat.
Semua ajaran-ajaran sesat di dalam Kekristenan muncul dan berawal dari orang-orang tertentu yang memang punya wibawa, sanggup merekrut orang, mempesona banyak orang baik dengan perkataannya, konsep yang dia bawa, dan juga cara dia menyampaikan. Penyesat dan guru-guru palsu selalu ada di sekitar kita. Tuhan Yesus memberikan beberapa ciri-ciri khas dari mereka:
Pertama, ayat 15 mengatakan “nabi-nabi palsu yang datang padamu”; Ini menunjukkan sifat mereka yang persuasive, mereka mendatangi kita, mereka sebenarnya mudah ditemui dan banyak. Guru-guru palsu akan membuat kemudahan-kemudahan buat kita, hanya supaya kita ikut mereka.
Kedua, mereka datang dengan menyamar: bahkan mengambil rupa binatang yang sama sekali paling tidak berbahaya: domba. Orang kalau mau menyesatkan kita tentu mereka akan datang dalam bentuk yang membuat kita sangat nyaman. Tidak mungkin mereka menakut-nakuti kita. Dia tidak akan menunjukkan taringnya, tapi bulunya yang halus, karena penyamaran selalu diperlukan untuk menutupi kebobrokan atau menutupi maksud yang jahat.
Ketiga, karena ini samaran, tentu ciri khas guru palsu dan penyesat adalah, hidup mereka yang penuh kemunafikan. Sebuah kepura-puraan akan sulit dijalankan dalam waktu yang lama dan terus menerus. Sehebat-hebatnya serigala menyamar jadi domba akan ada waktunya dia capek menjadi domba dan taringnya akan keluar ketika melihat daging enak.
Tuhan mengajak kita cerdas melihat penyesat dengan memperhatikan “buahnya”. Buah disini berarti sesuatu yang dihasilkan orang tersebut. Ini bisa berupa sikap, kata-kata, dan motivasi. Tipikal penyesat pada mulanya akan memikirkan orang yang diajaknya. Tapi lama-kelamaan seorang penyesat akan meninggikan dirinya. Meninggikan diri, menguntungkan diri, dan pemujaan diri, menjadi ciri khas orang penyesat. Buah dari orang penyesat bukan saja meninggikan diri mereka sendiri, tapi juga menjauhkan kita dari kebenaran Allah. Berbeda dengan Guru-guru sejati, yang akan makin tenggelam didalam kemuliaan Tuhan, sampai mereka-pun sudah tidak kelihatan lagi karena yang orang lihat hanya Tuhan, bukan orangnya.
Mari kita belajar menjadi lebih pintar dalam menghadapi dunia kita yang selalu diisi dengan orang-orang yang berusaha menyesatkan kita. Mungkin dia tidak tampil sebagai pengkhotbah, pemimpin religius, atau orang dewasa. Tapi dia muncul sebagai teman yang paling enak engkau ajak bicara. Kita harus cerdas menyikapi teman-teman seperti ini: lihat buahnya! Apakah dia mengasihi dengan tulus, apakah dia memiliki kemunafikan yang dia tahan-tahan, dan yang lebih penting lagi: apakah bersamanya engkau menjadi orang yang justru lebih dekat dengan Tuhan? Atau malah engkau makin menjauh dari Tuhan karena pengaruhnya yang kuat?
(15) Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
(16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
(17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
(18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
(19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
(20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Kita seringkali terpesona dengan penampilan seseorang, bahkan kita mengukur seseorang itu dari penampilan luarnya; baik itu tutur katanya, sikapnya, sampai cara berpakaiannya. Memang ini sudah menjadi ciri manusia yang senang sekali melihat penampakan luar, karena memang cara melihat seperti itu lebih gampang. Padahal cara melihat seperti itu adalah tidak cerdas, bahkan Tuhan memperingatkan kita bahwa cara melihat yang seperti ini bisa membut kita terjerat oleh pengajaran yang sesat yang dibawa oleh guru-guru sesat.
Semua ajaran-ajaran sesat di dalam Kekristenan muncul dan berawal dari orang-orang tertentu yang memang punya wibawa, sanggup merekrut orang, mempesona banyak orang baik dengan perkataannya, konsep yang dia bawa, dan juga cara dia menyampaikan. Penyesat dan guru-guru palsu selalu ada di sekitar kita. Tuhan Yesus memberikan beberapa ciri-ciri khas dari mereka:
Pertama, ayat 15 mengatakan “nabi-nabi palsu yang datang padamu”; Ini menunjukkan sifat mereka yang persuasive, mereka mendatangi kita, mereka sebenarnya mudah ditemui dan banyak. Guru-guru palsu akan membuat kemudahan-kemudahan buat kita, hanya supaya kita ikut mereka.
Kedua, mereka datang dengan menyamar: bahkan mengambil rupa binatang yang sama sekali paling tidak berbahaya: domba. Orang kalau mau menyesatkan kita tentu mereka akan datang dalam bentuk yang membuat kita sangat nyaman. Tidak mungkin mereka menakut-nakuti kita. Dia tidak akan menunjukkan taringnya, tapi bulunya yang halus, karena penyamaran selalu diperlukan untuk menutupi kebobrokan atau menutupi maksud yang jahat.
Ketiga, karena ini samaran, tentu ciri khas guru palsu dan penyesat adalah, hidup mereka yang penuh kemunafikan. Sebuah kepura-puraan akan sulit dijalankan dalam waktu yang lama dan terus menerus. Sehebat-hebatnya serigala menyamar jadi domba akan ada waktunya dia capek menjadi domba dan taringnya akan keluar ketika melihat daging enak.
Tuhan mengajak kita cerdas melihat penyesat dengan memperhatikan “buahnya”. Buah disini berarti sesuatu yang dihasilkan orang tersebut. Ini bisa berupa sikap, kata-kata, dan motivasi. Tipikal penyesat pada mulanya akan memikirkan orang yang diajaknya. Tapi lama-kelamaan seorang penyesat akan meninggikan dirinya. Meninggikan diri, menguntungkan diri, dan pemujaan diri, menjadi ciri khas orang penyesat. Buah dari orang penyesat bukan saja meninggikan diri mereka sendiri, tapi juga menjauhkan kita dari kebenaran Allah. Berbeda dengan Guru-guru sejati, yang akan makin tenggelam didalam kemuliaan Tuhan, sampai mereka-pun sudah tidak kelihatan lagi karena yang orang lihat hanya Tuhan, bukan orangnya.
Mari kita belajar menjadi lebih pintar dalam menghadapi dunia kita yang selalu diisi dengan orang-orang yang berusaha menyesatkan kita. Mungkin dia tidak tampil sebagai pengkhotbah, pemimpin religius, atau orang dewasa. Tapi dia muncul sebagai teman yang paling enak engkau ajak bicara. Kita harus cerdas menyikapi teman-teman seperti ini: lihat buahnya! Apakah dia mengasihi dengan tulus, apakah dia memiliki kemunafikan yang dia tahan-tahan, dan yang lebih penting lagi: apakah bersamanya engkau menjadi orang yang justru lebih dekat dengan Tuhan? Atau malah engkau makin menjauh dari Tuhan karena pengaruhnya yang kuat?
November 20, 2009
Renungan: Miskin tapi Kaya dalam Kemurahan
2 Korintus 8:1-5
(1) Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
(2) Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
(3) Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
(4) Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
(5) Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
Banyak orang berpikir, memberi mungkin adalah hal yang mudah selama mereka memiliki banyak. Kalau kita sendiri tidak cukup materinya, apa yang mau di beri? Begitu mungkin perhitungannya. Tapi kenyataannya orang yang punya banyak kelimpahan harta justru seringkali merasa sulit untuk memberi. Karena mereka berpikir bahwa setiap orang harusnya mendapatkan apa yang mereka upayakan sendiri; tidak bekerja berarti tidak mendapatkan, sehingga memberi begitu saja kepada pihak lain, adalah sesuatu yang tidak benar. Perhitungan semacam ini membuat di pihak lain kalaupun orang memberi, maka biasanya mereka mengharapkan imbalannya seperti pengakuan di depan orang banyak. Sesungguhnya memberi itu bukan pekerjaan mudah dan tidak semata hanya masalah kita punya atau tidak punya sesuatu untuk diberi. Dibutuhkan lebih dari harta atau materi untuk membuat seseorang sanggup memberi dengan benar.
Paulus sedang menggalang dana diantara gereja-gereja non-Yahudi yang dilayaninya untuk membantu Gereja Yerusalem. Bantuan kepada gereja Yerusalem ini tidak bisa hanya dilihat sebagai makna “bantuan secara materi” belaka, tapi ada makna yang lebih mendalam. Paulus mendorong orang Korintus melihat bahwa pemberian ini juga bermakna adanya koneksi gereja-gereja non-Yahudi kepada gereja Yerusalem yang merupakan “gereja asal” dari mana pengabaran injil disebarkan secara luas. Sehingga orang-orang Korintus juga harus melihat bahwa kesempatan membantu ini menunjukkan bahwa mereka adalah sama-sama umat Tuhan dan tidak ada perbedaan antara Yahudi dan non Yahudi. Paulus mendorong orang Korintus untuk menolong Gereja Yerusalem dengan cara menceritakan bagaimana orang Makedonia telah memberi dengan berkelimpahan.
Ada beberapa kualitas yang dimiliki orang Makedonia. Orang Makedonia memang banyak terdiri dari masyarakat miskin dan hidup penuh penderitaan, tapi mereka memiliki kasih karunia yang dianugerahkan Tuhan sehingga mereka dapat memberi. Bahkan di dalam kekurangan, mereka dapat memberi melampaui kemampuan mereka. Orang Makedonia tidak perlu di desak-desak, karena mereka memberikan dalam kerelaan dan justru inisiatifnya datang dari mereka sendiri. Tidak disebutkan seberapa besar jumlah yang sudah mereka berikan, karena memang Paulus tidak menekankan soal jumlah, tapi menekankan semangat mereka dalam memberi yang berlawanan dengan kenyataan bahwa mereka hidup miskin.
Paulus menyebut orang Makedonia “miskin tapi kaya dalam kemurahan”. Kekayaan yang berharga memang bukanlah uang atau materi. Kemurahan hati adalah sebuah kekayaan, bahkan kekayaan yang dimiliki orang Makedonia adalah kemurahan yang diletakkan Tuhan sebagai anugrah di hati mereka. Kekayaan ini membuat mereka tidak bisa diam ketika melihat gereja Yerusalem membutuhkan pertolongan. Kekayaan ini membuat mereka sebenarnya bukan hanya menyerahkan ‘materi’, tapi juga diri mereka sendiri. Orang boleh saja kaya secara materi, tapi jangan sampai hatinya miskin dan sulit, bahkan tidak sanggup memberi. Orang yang sudah mengalami kasih dan kemurahan Tuhan dalam hatinya adalah orang yang kaya dalam kemurahan; mereka tidak akan diam saja, tapi akan selalu giat dalam memberi.
Sahabat , apakah engkau orang yang kaya dalam kemurahan?
(1) Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
(2) Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
(3) Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
(4) Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
(5) Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
Banyak orang berpikir, memberi mungkin adalah hal yang mudah selama mereka memiliki banyak. Kalau kita sendiri tidak cukup materinya, apa yang mau di beri? Begitu mungkin perhitungannya. Tapi kenyataannya orang yang punya banyak kelimpahan harta justru seringkali merasa sulit untuk memberi. Karena mereka berpikir bahwa setiap orang harusnya mendapatkan apa yang mereka upayakan sendiri; tidak bekerja berarti tidak mendapatkan, sehingga memberi begitu saja kepada pihak lain, adalah sesuatu yang tidak benar. Perhitungan semacam ini membuat di pihak lain kalaupun orang memberi, maka biasanya mereka mengharapkan imbalannya seperti pengakuan di depan orang banyak. Sesungguhnya memberi itu bukan pekerjaan mudah dan tidak semata hanya masalah kita punya atau tidak punya sesuatu untuk diberi. Dibutuhkan lebih dari harta atau materi untuk membuat seseorang sanggup memberi dengan benar.
Paulus sedang menggalang dana diantara gereja-gereja non-Yahudi yang dilayaninya untuk membantu Gereja Yerusalem. Bantuan kepada gereja Yerusalem ini tidak bisa hanya dilihat sebagai makna “bantuan secara materi” belaka, tapi ada makna yang lebih mendalam. Paulus mendorong orang Korintus melihat bahwa pemberian ini juga bermakna adanya koneksi gereja-gereja non-Yahudi kepada gereja Yerusalem yang merupakan “gereja asal” dari mana pengabaran injil disebarkan secara luas. Sehingga orang-orang Korintus juga harus melihat bahwa kesempatan membantu ini menunjukkan bahwa mereka adalah sama-sama umat Tuhan dan tidak ada perbedaan antara Yahudi dan non Yahudi. Paulus mendorong orang Korintus untuk menolong Gereja Yerusalem dengan cara menceritakan bagaimana orang Makedonia telah memberi dengan berkelimpahan.
Ada beberapa kualitas yang dimiliki orang Makedonia. Orang Makedonia memang banyak terdiri dari masyarakat miskin dan hidup penuh penderitaan, tapi mereka memiliki kasih karunia yang dianugerahkan Tuhan sehingga mereka dapat memberi. Bahkan di dalam kekurangan, mereka dapat memberi melampaui kemampuan mereka. Orang Makedonia tidak perlu di desak-desak, karena mereka memberikan dalam kerelaan dan justru inisiatifnya datang dari mereka sendiri. Tidak disebutkan seberapa besar jumlah yang sudah mereka berikan, karena memang Paulus tidak menekankan soal jumlah, tapi menekankan semangat mereka dalam memberi yang berlawanan dengan kenyataan bahwa mereka hidup miskin.
Paulus menyebut orang Makedonia “miskin tapi kaya dalam kemurahan”. Kekayaan yang berharga memang bukanlah uang atau materi. Kemurahan hati adalah sebuah kekayaan, bahkan kekayaan yang dimiliki orang Makedonia adalah kemurahan yang diletakkan Tuhan sebagai anugrah di hati mereka. Kekayaan ini membuat mereka tidak bisa diam ketika melihat gereja Yerusalem membutuhkan pertolongan. Kekayaan ini membuat mereka sebenarnya bukan hanya menyerahkan ‘materi’, tapi juga diri mereka sendiri. Orang boleh saja kaya secara materi, tapi jangan sampai hatinya miskin dan sulit, bahkan tidak sanggup memberi. Orang yang sudah mengalami kasih dan kemurahan Tuhan dalam hatinya adalah orang yang kaya dalam kemurahan; mereka tidak akan diam saja, tapi akan selalu giat dalam memberi.
Sahabat , apakah engkau orang yang kaya dalam kemurahan?
November 13, 2009
Renungan: He Loves Me
Hosea 3 : 1 - 5
3:1 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis."
3:2 Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.
3:3 Aku berkata kepadanya: "Lama engkau harus diam padaku dengan tidak bersundal dan dengan tidak menjadi kepunyaan seorang laki-laki; juga aku ini tidak akan bersetubuh dengan engkau."
3:4 Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim.
3:5 Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.
He loves me
“Love” di jaman ini sudah menjadi barang usang. Tema “cinta” telah dituangkan dalam bentuk media apa saja: buku, lagu, film, photografi dan lain sebagainya. Cinta menjadi hal yang sangat umum dibicarakan dan mudah juga diungkapkan. Cinta menjadi sekedar rasa dan pengalaman, tapi tidak ada tanggung jawab, penghormatan dan komitmen dimana hal-hal itu sudah mulai ditanggalkan dalam arena cinta. Di mimbar-mimbar gereja, khotbah tentang kasih juga sudah semakin hambar di telinga jemaat, yang ketika mendengarnya akan mengatakan “itu aku sudah tahu…”. Walau tema kasih adalah tema yang popular dikhotbahkan, herannya manusia paling susah belajar tentang kasih. Kita melihat sedikit orang yang punya kasih yang tulus, lebih banyak orang jahat yang hatinya tidak lurus.
Kita boleh saja bilang tema kasih itu sudah semakin usang, bahkan kita mungkin semakin skeptis tentang kasih. Tapi Alkitab memperlihatkan bahwa Allah adalah Allah yang mengasihi manusia. Bahkan “kasih” adalah sifat Allah yang paling jelas dan sering disebut tentang diriNya. Aneh bukan? Apa yang mulia dan kudus, bahkan yang melekat pada Allah sebagai sifatNya yang kudus telah menjadi usang dalam realita manusia. Padahal kasih adalah sifat yang Ilahi, namun dalam dunia kita, hal itu sudah semakin kabur maknanya.
Begitu pentingnya pelajaran tentang Kasih, sampai-sampai Hosea harus menjelaskan tentang kasih Allah bukan dengan khotbah, tapi dengan suatu gambaran yang hidup: yaitu pengalamannya sendiri. Allah memerintahkan Hosea untuk “membeli” istrinya atau menebus istrinya sendiri dari rumah persundalan. Jadi perempuan ini sudah pernah lari dari Hosea, namun Allah memerintahkan Hosea untuk mencarinya lagi. Disini Hosea sedang menggambarkan Allah yang mengasihi orang Israel yang berkali-kali juga sudah mengkhianati Tuhan dan berpaling dariNya. Mengasihi seseorang yang tidak mengasihi kita dan bahkan tidak layak menerima kasih, tentu sangat menyakitkan. Tapi memang itulah yang Allah lakukan pada orang Israel. Berkali-kali bangsa ini berubah hatinya menyembah dan menyerahkan diri pada dewa-dewa, tapi Allah tetap mencari dan melepaskan mereka untuk kembali padaNya lagi. Semua itu semata hanya karena Allah mengasihi Israel.
Dalam hidup kita banyak orang yang mulanya mengasihi kita dan memberikan kebahagiaan pada kita, tapi dalam perjalanannya kemudian berubah dan tidak mengasihi lagi. Manusia memang mudah sekali menyerah dan berubah kasihnya. Tapi tidak demikian dengan Tuhan kita. Kekuatan Kasih Allah sanggup membuat kita kembali padaNya, walau sejauh apapun kita sudah menyimpang. Dia mencari kita dan menginginkan kita ada lekat denganNya.
Sobat muda, ketika semua orang berubah kasihnya, tetaplah bersyukur karena masih ada Tuhan yang tidak pernah berubah kasihNya.
3:1 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis."
3:2 Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.
3:3 Aku berkata kepadanya: "Lama engkau harus diam padaku dengan tidak bersundal dan dengan tidak menjadi kepunyaan seorang laki-laki; juga aku ini tidak akan bersetubuh dengan engkau."
3:4 Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim.
3:5 Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.
He loves me
“Love” di jaman ini sudah menjadi barang usang. Tema “cinta” telah dituangkan dalam bentuk media apa saja: buku, lagu, film, photografi dan lain sebagainya. Cinta menjadi hal yang sangat umum dibicarakan dan mudah juga diungkapkan. Cinta menjadi sekedar rasa dan pengalaman, tapi tidak ada tanggung jawab, penghormatan dan komitmen dimana hal-hal itu sudah mulai ditanggalkan dalam arena cinta. Di mimbar-mimbar gereja, khotbah tentang kasih juga sudah semakin hambar di telinga jemaat, yang ketika mendengarnya akan mengatakan “itu aku sudah tahu…”. Walau tema kasih adalah tema yang popular dikhotbahkan, herannya manusia paling susah belajar tentang kasih. Kita melihat sedikit orang yang punya kasih yang tulus, lebih banyak orang jahat yang hatinya tidak lurus.
Kita boleh saja bilang tema kasih itu sudah semakin usang, bahkan kita mungkin semakin skeptis tentang kasih. Tapi Alkitab memperlihatkan bahwa Allah adalah Allah yang mengasihi manusia. Bahkan “kasih” adalah sifat Allah yang paling jelas dan sering disebut tentang diriNya. Aneh bukan? Apa yang mulia dan kudus, bahkan yang melekat pada Allah sebagai sifatNya yang kudus telah menjadi usang dalam realita manusia. Padahal kasih adalah sifat yang Ilahi, namun dalam dunia kita, hal itu sudah semakin kabur maknanya.
Begitu pentingnya pelajaran tentang Kasih, sampai-sampai Hosea harus menjelaskan tentang kasih Allah bukan dengan khotbah, tapi dengan suatu gambaran yang hidup: yaitu pengalamannya sendiri. Allah memerintahkan Hosea untuk “membeli” istrinya atau menebus istrinya sendiri dari rumah persundalan. Jadi perempuan ini sudah pernah lari dari Hosea, namun Allah memerintahkan Hosea untuk mencarinya lagi. Disini Hosea sedang menggambarkan Allah yang mengasihi orang Israel yang berkali-kali juga sudah mengkhianati Tuhan dan berpaling dariNya. Mengasihi seseorang yang tidak mengasihi kita dan bahkan tidak layak menerima kasih, tentu sangat menyakitkan. Tapi memang itulah yang Allah lakukan pada orang Israel. Berkali-kali bangsa ini berubah hatinya menyembah dan menyerahkan diri pada dewa-dewa, tapi Allah tetap mencari dan melepaskan mereka untuk kembali padaNya lagi. Semua itu semata hanya karena Allah mengasihi Israel.
Dalam hidup kita banyak orang yang mulanya mengasihi kita dan memberikan kebahagiaan pada kita, tapi dalam perjalanannya kemudian berubah dan tidak mengasihi lagi. Manusia memang mudah sekali menyerah dan berubah kasihnya. Tapi tidak demikian dengan Tuhan kita. Kekuatan Kasih Allah sanggup membuat kita kembali padaNya, walau sejauh apapun kita sudah menyimpang. Dia mencari kita dan menginginkan kita ada lekat denganNya.
Sobat muda, ketika semua orang berubah kasihnya, tetaplah bersyukur karena masih ada Tuhan yang tidak pernah berubah kasihNya.
October 1, 2009
Renungan: Hal Menghakimi
Matius 7 : 1 - 5
7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
Hal Menghakimi
Makna “menghakimi” dalam bacaan kita ini bukan berarti orang Kirsten tidak boleh jadi hakim, atau memberikan penilaian terhadap orang lain. Yang dimaksud “menghakimi” disini menunjuk kepada ‘”kebiasaan” seseorang yang selalu berpikiran negative tentang orang lain dan mudah sekali mengatakan kesalahan orang lain. Orang yang punya kebiasaan ini adalah orang yang senang sekali memperlihatkan dan membesar-besarkan kesalahan orang lain, bahkan kesalahan kecil lalu dibesar-besarkan menjadi sesuatu yang dianggap luar biasa. Pada dasarnya kita memang lebih mudah mencari kesalahan orang lain dari pada kesalahan sendiri bukan? Ini adalah kebiasaan buruk yang harus kita tinggalkan.
Ada 2 alasan menurut Tuhan mengapa kita jangan menghakimi: Yang pertama, logikanya kalau kita sering menghakimi orang, maka ukuran yang sering kita pakai itu akan diberlakukan kepada kita. Ini berarti seperti pola ‘pembalasan’, bahwa orang yang kita ‘hakimi’ itu akan membalas dengan kriteria yang kita pakai juga. Berarti kebiasaan menyalahkan orang ini hanya menimbulkan kebiasaan buruk dalam sebuah kelompok. Atau dengan kata lain akan menciptakan komunitas yang tidak sehat karena terdiri dari orang-orang yang saling ‘membalas’ menyalahkan orang lain.
Yang kedua, yang lebih khusus dan penting, diungkapkan Tuhan dengan mengatakan”Mengapakah engkau melihat selumbar dimata saudaramu, sedangkan balok dimatamu tidak engkau ketahui? Selumbar berarti titik noda, kalau bisa masuk di mata berarti cukup kecil, sedangkan balok berarti besar. Ini perbandingan yang sangat besar sekali antara debu dan balok. Kiasan ini berarti: titik noda terlihat didalam hidup orang tapi balok yang besar dalam hidup kita tidak kelihatan. Apakah artinya?
Orang sering melihat kesalahan orang lain, yang kecil-kecil, lalu dibesar-besarkan, sedangkan dirinya sendiri tidak disadari kesalahannya. Kita sering melihat debu dalam diri orang lain, tapi sebenarnya Tuhan lihat balok dimata kita. Balok itu harus diangkat dulu, kalau tidak bagaimana bisa melihat debu di mata orang lain?? Kita sering membesar-besarkan kesalahan orang lain seakan-akan kesalahan itu seperti balok besarnya. Padahal sebenarnya yang kita lihat itu balok kita sendiri.
Sebenarnya kita tidak cukup ‘competent’ untuk menyatakan kesalahan orang lain. Karena sebenarnya kita hanya sanggup menemukan titik kecil dalam kesalahan orang lain. Tapi tidak berarti kita hanya diam saja melihat dosa. Dosa akan selalu ada, dan dosa tidak boleh didiamkan. Kesalah sahabat kita tidak boleh kita biarkan. Tapi memang ada cara dan mekanisme yang benar untuk menyatakan penilaian kita pada orang lain! Dan itulah yang Tuhan Yesus katakan pada kita hari ini prinsip yang penting: “Keluarkanlah dulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu” Jadi mekanisme yang benar untuk menyatakan kesalahan orang lain adalah, haruslah lebih dulu kita memeriksa diri kita sendiri di hadapan Tuhan; mengeluarkan balok dari mata kita sendiri. Saya sebut ini mekanisme koreksi diri yaitu membiarkan Tuhan mengkoreksi kita dan mengaku dosa kita dihadapan Tuhan. Dengan kerendahan hati seperti itulah maka kita baru bisa dengan tulus menyatakan kesalahan orang lain bagi kebaikan orang tersebut.
Teman, hati-hati kalau melihat kesalahan orang lain, jangan-jangan yang engkau lihat sebenarnya balok dimatamu.
7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
Hal Menghakimi
Makna “menghakimi” dalam bacaan kita ini bukan berarti orang Kirsten tidak boleh jadi hakim, atau memberikan penilaian terhadap orang lain. Yang dimaksud “menghakimi” disini menunjuk kepada ‘”kebiasaan” seseorang yang selalu berpikiran negative tentang orang lain dan mudah sekali mengatakan kesalahan orang lain. Orang yang punya kebiasaan ini adalah orang yang senang sekali memperlihatkan dan membesar-besarkan kesalahan orang lain, bahkan kesalahan kecil lalu dibesar-besarkan menjadi sesuatu yang dianggap luar biasa. Pada dasarnya kita memang lebih mudah mencari kesalahan orang lain dari pada kesalahan sendiri bukan? Ini adalah kebiasaan buruk yang harus kita tinggalkan.
Ada 2 alasan menurut Tuhan mengapa kita jangan menghakimi: Yang pertama, logikanya kalau kita sering menghakimi orang, maka ukuran yang sering kita pakai itu akan diberlakukan kepada kita. Ini berarti seperti pola ‘pembalasan’, bahwa orang yang kita ‘hakimi’ itu akan membalas dengan kriteria yang kita pakai juga. Berarti kebiasaan menyalahkan orang ini hanya menimbulkan kebiasaan buruk dalam sebuah kelompok. Atau dengan kata lain akan menciptakan komunitas yang tidak sehat karena terdiri dari orang-orang yang saling ‘membalas’ menyalahkan orang lain.
Yang kedua, yang lebih khusus dan penting, diungkapkan Tuhan dengan mengatakan”Mengapakah engkau melihat selumbar dimata saudaramu, sedangkan balok dimatamu tidak engkau ketahui? Selumbar berarti titik noda, kalau bisa masuk di mata berarti cukup kecil, sedangkan balok berarti besar. Ini perbandingan yang sangat besar sekali antara debu dan balok. Kiasan ini berarti: titik noda terlihat didalam hidup orang tapi balok yang besar dalam hidup kita tidak kelihatan. Apakah artinya?
Orang sering melihat kesalahan orang lain, yang kecil-kecil, lalu dibesar-besarkan, sedangkan dirinya sendiri tidak disadari kesalahannya. Kita sering melihat debu dalam diri orang lain, tapi sebenarnya Tuhan lihat balok dimata kita. Balok itu harus diangkat dulu, kalau tidak bagaimana bisa melihat debu di mata orang lain?? Kita sering membesar-besarkan kesalahan orang lain seakan-akan kesalahan itu seperti balok besarnya. Padahal sebenarnya yang kita lihat itu balok kita sendiri.
Sebenarnya kita tidak cukup ‘competent’ untuk menyatakan kesalahan orang lain. Karena sebenarnya kita hanya sanggup menemukan titik kecil dalam kesalahan orang lain. Tapi tidak berarti kita hanya diam saja melihat dosa. Dosa akan selalu ada, dan dosa tidak boleh didiamkan. Kesalah sahabat kita tidak boleh kita biarkan. Tapi memang ada cara dan mekanisme yang benar untuk menyatakan penilaian kita pada orang lain! Dan itulah yang Tuhan Yesus katakan pada kita hari ini prinsip yang penting: “Keluarkanlah dulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu” Jadi mekanisme yang benar untuk menyatakan kesalahan orang lain adalah, haruslah lebih dulu kita memeriksa diri kita sendiri di hadapan Tuhan; mengeluarkan balok dari mata kita sendiri. Saya sebut ini mekanisme koreksi diri yaitu membiarkan Tuhan mengkoreksi kita dan mengaku dosa kita dihadapan Tuhan. Dengan kerendahan hati seperti itulah maka kita baru bisa dengan tulus menyatakan kesalahan orang lain bagi kebaikan orang tersebut.
Teman, hati-hati kalau melihat kesalahan orang lain, jangan-jangan yang engkau lihat sebenarnya balok dimatamu.
August 5, 2009
Renungan: Tuhan Campur Tangan Dalam Hidupku
Markus 7:31-37
(31) Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.
(32) Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
(33) Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
(34) Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
(35) Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
(36) Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
(37) Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."
Tuhan campur tangan dalam Hidupku
Orang tuli yang dibawa kepada Tuhan Yesus ini sebenarnya hanya minta supaya Tuhan Yesus meletakkan tanganNya diatasnya, sebagai tanda dia diberkati. Tapi lihatlah apa yang Tuhan Yesus lakukan kepadanya. Tuhan memisahkan orang itu dari orang banyak. Mengapa Tuhan melakukan hal itu? Tuhan sedang membangun kontak yang pribadi dengan orang ini, dan ternyata ini dinggap penting sekali oleh Tuhan yaitu orang yang buta dan juga gagap itu mengalami perjumpaan yang pribadi dengan Nya. Lalu Tuhan menyembuhkan orang ini juga dengan cara yang unik: “ia memasukan jariNya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu”. Orang itu hanya minta diberkati; biasanya itu hanya berupa penumpangan tangan. Tapi Tuhan malah memisahkan dia, memasukkan jari ke telinga dan menyentuh lidahnya. Lalu Tuhan mengatakan “efata” dan orang itu terbuka telinganya, dan terbuka juga ikatan yang mengikat lidahnya sehignga dia bisa berbicara dengan lancar.
Kalau kita melihat keseluruhan proses Kristus menyembuhkan orang tuli dan gagap ini : memisahkan, membuat kontak yang pribadi, dan menyembuhkan. Apa yang bisa kita pelajari? Ini memperlihatkan bahwa Kristus berkuasa melakukan intervensi dalam hidup kita: mengambil, memisahkan, memasukkan, memegang, dan menyembuhkan. Semua Ia lakukan bahkan tidak perlu minta persetujuan siapapun, karena Dia berotoritas penuh dalam hidup orang buta itu. Intervensi hanya bisa terjadi kalau ada otoritas. Itu sebabnya kadangkala ketika seseorang melakukan sesuatu atas kita tanpa persetujuan kita, maka kita akan berpikir dia telah melampaui batas dan ikut campur, sehingga kita akan mengatakan “apa urusannya dengan kamu?”
Tapi Allah berintervensi dimanapun, kapanpun Dia mau, karena Dia berdaulat penuh atas hidup kita. Sebenarnya hal ini tidaklah sulit dimengerti, bahwa Allah berdaulat dalam hidup kita. Kita sudah sering menunjukkannya sendiri dengan sikap kita yaitu: kita berdoa. Mengapa kita berdoa pada Tuhan supaya diberkati? Mengapa Anda berdoa supaya perjalanan anda selamat, atau supaya orang yang anda kasihi sembuh dari sakit? Karena kira tahu dan sadar bahwa Tuhan berkuasa untuk melakukan itu semua. Walaupun dalam keterbatasan pemahaman kita tentang Allah, beberapa dari kita berdoa hanya karena semua orang juga berdoa, dan pernah dengar kesaksian orang lain bahwa Tuhan menyembuhkan. Dalam posisi ini pun, anda sebenarnya sudah memiliki sedikit pemahaman bahwa Allah itu berkuasa.
Pagi ini mari kita belajar melihat bahwa Kristus berkuasa dan berintervensi dalam hidup kita. Dia campur tangan dalam segala perkara dan menolong dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Tentulah hal ini memberikan kelegaan pada kita yang sedang bergumul, dan berjuang dalam kehidupannya. Ini memberikan kita keyakinan untuk menghadapi hari-hari kita di depan. Tuhan tidak pernah tidak tahu dan tidak pernah tidak mengerti apa yang terjadi dengan kita.
Bila kita sekarang diingatkan kembali bahwa Kristus yang berkuasa itu selalu mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera, apakah dalam hidup ini yang membuat kita kuatir? Adakah tempat lain dimana kita bisa meletakkan kepercayaan kita selain pada Kristus? Letakkanlah kepercayaan kita pada Kristus yang berkuasa atas hidup kita.
(31) Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.
(32) Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
(33) Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
(34) Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
(35) Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
(36) Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
(37) Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."
Tuhan campur tangan dalam Hidupku
Orang tuli yang dibawa kepada Tuhan Yesus ini sebenarnya hanya minta supaya Tuhan Yesus meletakkan tanganNya diatasnya, sebagai tanda dia diberkati. Tapi lihatlah apa yang Tuhan Yesus lakukan kepadanya. Tuhan memisahkan orang itu dari orang banyak. Mengapa Tuhan melakukan hal itu? Tuhan sedang membangun kontak yang pribadi dengan orang ini, dan ternyata ini dinggap penting sekali oleh Tuhan yaitu orang yang buta dan juga gagap itu mengalami perjumpaan yang pribadi dengan Nya. Lalu Tuhan menyembuhkan orang ini juga dengan cara yang unik: “ia memasukan jariNya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu”. Orang itu hanya minta diberkati; biasanya itu hanya berupa penumpangan tangan. Tapi Tuhan malah memisahkan dia, memasukkan jari ke telinga dan menyentuh lidahnya. Lalu Tuhan mengatakan “efata” dan orang itu terbuka telinganya, dan terbuka juga ikatan yang mengikat lidahnya sehignga dia bisa berbicara dengan lancar.
Kalau kita melihat keseluruhan proses Kristus menyembuhkan orang tuli dan gagap ini : memisahkan, membuat kontak yang pribadi, dan menyembuhkan. Apa yang bisa kita pelajari? Ini memperlihatkan bahwa Kristus berkuasa melakukan intervensi dalam hidup kita: mengambil, memisahkan, memasukkan, memegang, dan menyembuhkan. Semua Ia lakukan bahkan tidak perlu minta persetujuan siapapun, karena Dia berotoritas penuh dalam hidup orang buta itu. Intervensi hanya bisa terjadi kalau ada otoritas. Itu sebabnya kadangkala ketika seseorang melakukan sesuatu atas kita tanpa persetujuan kita, maka kita akan berpikir dia telah melampaui batas dan ikut campur, sehingga kita akan mengatakan “apa urusannya dengan kamu?”
Tapi Allah berintervensi dimanapun, kapanpun Dia mau, karena Dia berdaulat penuh atas hidup kita. Sebenarnya hal ini tidaklah sulit dimengerti, bahwa Allah berdaulat dalam hidup kita. Kita sudah sering menunjukkannya sendiri dengan sikap kita yaitu: kita berdoa. Mengapa kita berdoa pada Tuhan supaya diberkati? Mengapa Anda berdoa supaya perjalanan anda selamat, atau supaya orang yang anda kasihi sembuh dari sakit? Karena kira tahu dan sadar bahwa Tuhan berkuasa untuk melakukan itu semua. Walaupun dalam keterbatasan pemahaman kita tentang Allah, beberapa dari kita berdoa hanya karena semua orang juga berdoa, dan pernah dengar kesaksian orang lain bahwa Tuhan menyembuhkan. Dalam posisi ini pun, anda sebenarnya sudah memiliki sedikit pemahaman bahwa Allah itu berkuasa.
Pagi ini mari kita belajar melihat bahwa Kristus berkuasa dan berintervensi dalam hidup kita. Dia campur tangan dalam segala perkara dan menolong dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Tentulah hal ini memberikan kelegaan pada kita yang sedang bergumul, dan berjuang dalam kehidupannya. Ini memberikan kita keyakinan untuk menghadapi hari-hari kita di depan. Tuhan tidak pernah tidak tahu dan tidak pernah tidak mengerti apa yang terjadi dengan kita.
Bila kita sekarang diingatkan kembali bahwa Kristus yang berkuasa itu selalu mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera, apakah dalam hidup ini yang membuat kita kuatir? Adakah tempat lain dimana kita bisa meletakkan kepercayaan kita selain pada Kristus? Letakkanlah kepercayaan kita pada Kristus yang berkuasa atas hidup kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)