Ratapan 3 : 21 - 24
3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
3:24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
Selalu baru tiap pagi
Kalau
kita bangun pagi, dengan perasaan enak, sebelum ke kantor, di saat kita
merasa segala sesuatunya berjalan dengan baik, maka dengan senang kita
akan mengatakannya dengan penuh penghayatan “Tak berkesudahan kasih
setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi, besar
kesetiaanMu” Tapi sebenarnya syair atau puisi ini adalah sebuah ratapan
sebuah jeritan yang kalau disuarakan, pastilah sesuatu yang menyayat
hati. Jeritan dan ratapan ini diungkapkan karena melihat Yerusalem
hancur, atau lebih tepatnya dibiarkan Allah dihancurkan. Padalah kota
ini adalah kota yang didalamnya Allah berkenan, kota yang Allah kuduskan
untuk diriNya, yang menjadi sentral umat Allah untuk menyembah Dia.
Tapi
perhatikan apakah yang Yeremia lihat dalam penderitaan itu dan apa yang
dia pikirkan yang kemudian membuat dia bisa berharap ditengah
penderitaannya. Yeremia mengatakan di ayat 21 “tapi hal-hal inilah yang
kuperhatikan”, atau “This I call to mind”. Seringkali kalau kita lagi
susah, yang kita ingat adalah kesusahan yang lain, sehingga kita makin
merasa terpuruk. Apa yang muncul dalam pikiran kita ketika penderitaan
itu datang. Ingatan itu adalah anugrah. Bersyukurlah ketika anda masih
bisa mengingat sesuatu dalam hidup anda. Yeremia mengingat: “tak
berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya”
Yeremia
berbicara hal yang paling mendasar tentang siapa Allah baginya. Dia
berharap pada Allah karena dia tahu ada sumber yang tidak habis-habis.
Kita sering mengandalkan sumber daya yang kita punya: mungkin kita bisa
optimis memasuki tahun ini, karena keuangan kita sedang bagus,
pekerjaan kita juga sedang lancar-lancarnya,dan kondisi seakan dapat
kita control dengan baik. Kalau seperti ini cara pikir kita, dan hal-hal
yang bersifat materi yang membuat kita optimis, maka ketika semua itu
makin berkurang, atau bahkan semua diambil dari anda, maka hilang juga
optimisme kita dan runtuh juga seluruh kepercayaan kita.
Tapi
Yeremia melihat sumber optimis hidupnya bukan dari apa yang dia punya,
tapi dari apa yang Allah punya! Apa yang kita punya akan habis seperti
debu dan abu, tapi apa yang Allah punya tidak akan ada habisnya.
KasihNya tidak berkesudahan, rahmatNya tidak akan habis. Dalam bahasa
aslinya rahmat memiliki akar kata yang sama dengan ‘rahim’. Kehidupan
seorang bayi dimulai dari rahim, yang menyediakan segala kebutuhan sang
bayi. Berarti rahmat ini, berasal dari Allah yang menjadikan, yang
menyediakannya. Allah adalah sumber rahmat. Dan rahmat Tuhan tidak
mungkin gagal didalam memelihara dan menopang hidup kita. Inilah sumber
optimism kita menghadapi hari-hari yang baru di depan kita. Jangan
pernah mengandalkan apa yang kita punya, apalagi apa yang orang punya,
tapi apa yang Allah bisa kerjakan bagi kita.
Dari sumber yang
tidak habis-habis ini, yang tidak berkesudahan ini, maka Yeremia dapat
melihat hidup kesehariannya adalah pemeliharan Tuhan, dari hari ke hari.
Pagi hari adalah tanda bahwa kita baru saja melewati malam yang gelap.
Pada malam hari ktia terbatas, tidak banyak yang bisa kita perbuat.
Pada malam hari kita tidak bekerja, kita tidur, dan pada saat kita tidur
Allah bekerja memelihara. Orang Jahudi menghayati “pagi hari” sebagai
moment khusus untuk berdoa,dan sebagai imam Yeremia sangat menghayati
arti pagi sebagai waktu khusunya berdoa dihadapan Tuhan. Makna ini lebih
prinsip dari sekedar makna harafiah “pagi” karena rahmat Tuhan tersedia
pagi siang dan malam. Tapi Rahmat Tuhan itu hanya terjadi dalam
hubungan kita yang erat dengan Allah.
Temans, hadapi hari ini dengan optimis; sumbernya hanya ada pada Tuhan.
No comments:
Post a Comment