November 13, 2009

Renungan: He Loves Me

Hosea 3 : 1 - 5

3:1 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis."

3:2 Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.

3:3 Aku berkata kepadanya: "Lama engkau harus diam padaku dengan tidak bersundal dan dengan tidak menjadi kepunyaan seorang laki-laki; juga aku ini tidak akan bersetubuh dengan engkau."

3:4 Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim.

3:5 Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.


He loves me

“Love” di jaman ini sudah menjadi barang usang. Tema “cinta” telah dituangkan dalam bentuk media apa saja: buku, lagu, film, photografi dan lain sebagainya. Cinta menjadi hal yang sangat umum dibicarakan dan mudah juga diungkapkan. Cinta menjadi sekedar rasa dan pengalaman, tapi tidak ada tanggung jawab, penghormatan dan komitmen dimana hal-hal itu sudah mulai ditanggalkan dalam arena cinta. Di mimbar-mimbar gereja, khotbah tentang kasih juga sudah semakin hambar di telinga jemaat, yang ketika mendengarnya akan mengatakan “itu aku sudah tahu…”. Walau tema kasih adalah tema yang popular dikhotbahkan, herannya manusia paling susah belajar tentang kasih. Kita melihat sedikit orang yang punya kasih yang tulus, lebih banyak orang jahat yang hatinya tidak lurus.
Kita boleh saja bilang tema kasih itu sudah semakin usang, bahkan kita mungkin semakin skeptis tentang kasih. Tapi Alkitab memperlihatkan bahwa Allah adalah Allah yang mengasihi manusia. Bahkan “kasih” adalah sifat Allah yang paling jelas dan sering disebut tentang diriNya. Aneh bukan? Apa yang mulia dan kudus, bahkan yang melekat pada Allah sebagai sifatNya yang kudus telah menjadi usang dalam realita manusia. Padahal kasih adalah sifat yang Ilahi, namun dalam dunia kita, hal itu sudah semakin kabur maknanya.

Begitu pentingnya pelajaran tentang Kasih, sampai-sampai Hosea harus menjelaskan tentang kasih Allah bukan dengan khotbah, tapi dengan suatu gambaran yang hidup: yaitu pengalamannya sendiri. Allah memerintahkan Hosea untuk “membeli” istrinya atau menebus istrinya sendiri dari rumah persundalan. Jadi perempuan ini sudah pernah lari dari Hosea, namun Allah memerintahkan Hosea untuk mencarinya lagi. Disini Hosea sedang menggambarkan Allah yang mengasihi orang Israel yang berkali-kali juga sudah mengkhianati Tuhan dan berpaling dariNya. Mengasihi seseorang yang tidak mengasihi kita dan bahkan tidak layak menerima kasih, tentu sangat menyakitkan. Tapi memang itulah yang Allah lakukan pada orang Israel. Berkali-kali bangsa ini berubah hatinya menyembah dan menyerahkan diri pada dewa-dewa, tapi Allah tetap mencari dan melepaskan mereka untuk kembali padaNya lagi. Semua itu semata hanya karena Allah mengasihi Israel.

Dalam hidup kita banyak orang yang mulanya mengasihi kita dan memberikan kebahagiaan pada kita, tapi dalam perjalanannya kemudian berubah dan tidak mengasihi lagi. Manusia memang mudah sekali menyerah dan berubah kasihnya. Tapi tidak demikian dengan Tuhan kita. Kekuatan Kasih Allah sanggup membuat kita kembali padaNya, walau sejauh apapun kita sudah menyimpang. Dia mencari kita dan menginginkan kita ada lekat denganNya.

Sobat muda, ketika semua orang berubah kasihnya, tetaplah bersyukur karena masih ada Tuhan yang tidak pernah berubah kasihNya.

No comments:

Post a Comment