October 1, 2009

Renungan: Hal Menghakimi

Matius 7 : 1 - 5

7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.

7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."


Hal Menghakimi

Makna “menghakimi” dalam bacaan kita ini bukan berarti orang Kirsten tidak boleh jadi hakim, atau memberikan penilaian terhadap orang lain. Yang dimaksud “menghakimi” disini menunjuk kepada ‘”kebiasaan” seseorang yang selalu berpikiran negative tentang orang lain dan mudah sekali mengatakan kesalahan orang lain. Orang yang punya kebiasaan ini adalah orang yang senang sekali memperlihatkan dan membesar-besarkan kesalahan orang lain, bahkan kesalahan kecil lalu dibesar-besarkan menjadi sesuatu yang dianggap luar biasa. Pada dasarnya kita memang lebih mudah mencari kesalahan orang lain dari pada kesalahan sendiri bukan? Ini adalah kebiasaan buruk yang harus kita tinggalkan.

Ada 2 alasan menurut Tuhan mengapa kita jangan menghakimi: Yang pertama, logikanya kalau kita sering menghakimi orang, maka ukuran yang sering kita pakai itu akan diberlakukan kepada kita. Ini berarti seperti pola ‘pembalasan’, bahwa orang yang kita ‘hakimi’ itu akan membalas dengan kriteria yang kita pakai juga. Berarti kebiasaan menyalahkan orang ini hanya menimbulkan kebiasaan buruk dalam sebuah kelompok. Atau dengan kata lain akan menciptakan komunitas yang tidak sehat karena terdiri dari orang-orang yang saling ‘membalas’ menyalahkan orang lain.

Yang kedua, yang lebih khusus dan penting, diungkapkan Tuhan dengan mengatakan”Mengapakah engkau melihat selumbar dimata saudaramu, sedangkan balok dimatamu tidak engkau ketahui? Selumbar berarti titik noda, kalau bisa masuk di mata berarti cukup kecil, sedangkan balok berarti besar. Ini perbandingan yang sangat besar sekali antara debu dan balok. Kiasan ini berarti: titik noda terlihat didalam hidup orang tapi balok yang besar dalam hidup kita tidak kelihatan. Apakah artinya?
Orang sering melihat kesalahan orang lain, yang kecil-kecil, lalu dibesar-besarkan, sedangkan dirinya sendiri tidak disadari kesalahannya. Kita sering melihat debu dalam diri orang lain, tapi sebenarnya Tuhan lihat balok dimata kita. Balok itu harus diangkat dulu, kalau tidak bagaimana bisa melihat debu di mata orang lain?? Kita sering membesar-besarkan kesalahan orang lain seakan-akan kesalahan itu seperti balok besarnya. Padahal sebenarnya yang kita lihat itu balok kita sendiri.

Sebenarnya kita tidak cukup ‘competent’ untuk menyatakan kesalahan orang lain. Karena sebenarnya kita hanya sanggup menemukan titik kecil dalam kesalahan orang lain. Tapi tidak berarti kita hanya diam saja melihat dosa. Dosa akan selalu ada, dan dosa tidak boleh didiamkan. Kesalah sahabat kita tidak boleh kita biarkan. Tapi memang ada cara dan mekanisme yang benar untuk menyatakan penilaian kita pada orang lain! Dan itulah yang Tuhan Yesus katakan pada kita hari ini prinsip yang penting: “Keluarkanlah dulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu” Jadi mekanisme yang benar untuk menyatakan kesalahan orang lain adalah, haruslah lebih dulu kita memeriksa diri kita sendiri di hadapan Tuhan; mengeluarkan balok dari mata kita sendiri. Saya sebut ini mekanisme koreksi diri yaitu membiarkan Tuhan mengkoreksi kita dan mengaku dosa kita dihadapan Tuhan. Dengan kerendahan hati seperti itulah maka kita baru bisa dengan tulus menyatakan kesalahan orang lain bagi kebaikan orang tersebut.

Teman, hati-hati kalau melihat kesalahan orang lain, jangan-jangan yang engkau lihat sebenarnya balok dimatamu.

August 5, 2009

Renungan: Tuhan Campur Tangan Dalam Hidupku

Markus 7:31-37

(31) Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.

(32) Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.

(33) Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.

(34) Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!

(35) Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.

(36) Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.

(37) Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."


Tuhan campur tangan dalam Hidupku

Orang tuli yang dibawa kepada Tuhan Yesus ini sebenarnya hanya minta supaya Tuhan Yesus meletakkan tanganNya diatasnya, sebagai tanda dia diberkati. Tapi lihatlah apa yang Tuhan Yesus lakukan kepadanya. Tuhan memisahkan orang itu dari orang banyak. Mengapa Tuhan melakukan hal itu? Tuhan sedang membangun kontak yang pribadi dengan orang ini, dan ternyata ini dinggap penting sekali oleh Tuhan yaitu orang yang buta dan juga gagap itu mengalami perjumpaan yang pribadi dengan Nya. Lalu Tuhan menyembuhkan orang ini juga dengan cara yang unik: “ia memasukan jariNya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu”. Orang itu hanya minta diberkati; biasanya itu hanya berupa penumpangan tangan. Tapi Tuhan malah memisahkan dia, memasukkan jari ke telinga dan menyentuh lidahnya. Lalu Tuhan mengatakan “efata” dan orang itu terbuka telinganya, dan terbuka juga ikatan yang mengikat lidahnya sehignga dia bisa berbicara dengan lancar.

Kalau kita melihat keseluruhan proses Kristus menyembuhkan orang tuli dan gagap ini : memisahkan, membuat kontak yang pribadi, dan menyembuhkan. Apa yang bisa kita pelajari? Ini memperlihatkan bahwa Kristus berkuasa melakukan intervensi dalam hidup kita: mengambil, memisahkan, memasukkan, memegang, dan menyembuhkan. Semua Ia lakukan bahkan tidak perlu minta persetujuan siapapun, karena Dia berotoritas penuh dalam hidup orang buta itu. Intervensi hanya bisa terjadi kalau ada otoritas. Itu sebabnya kadangkala ketika seseorang melakukan sesuatu atas kita tanpa persetujuan kita, maka kita akan berpikir dia telah melampaui batas dan ikut campur, sehingga kita akan mengatakan “apa urusannya dengan kamu?”

Tapi Allah berintervensi dimanapun, kapanpun Dia mau, karena Dia berdaulat penuh atas hidup kita. Sebenarnya hal ini tidaklah sulit dimengerti, bahwa Allah berdaulat dalam hidup kita. Kita sudah sering menunjukkannya sendiri dengan sikap kita yaitu: kita berdoa. Mengapa kita berdoa pada Tuhan supaya diberkati? Mengapa Anda berdoa supaya perjalanan anda selamat, atau supaya orang yang anda kasihi sembuh dari sakit? Karena kira tahu dan sadar bahwa Tuhan berkuasa untuk melakukan itu semua. Walaupun dalam keterbatasan pemahaman kita tentang Allah, beberapa dari kita berdoa hanya karena semua orang juga berdoa, dan pernah dengar kesaksian orang lain bahwa Tuhan menyembuhkan. Dalam posisi ini pun, anda sebenarnya sudah memiliki sedikit pemahaman bahwa Allah itu berkuasa.

Pagi ini mari kita belajar melihat bahwa Kristus berkuasa dan berintervensi dalam hidup kita. Dia campur tangan dalam segala perkara dan menolong dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Tentulah hal ini memberikan kelegaan pada kita yang sedang bergumul, dan berjuang dalam kehidupannya. Ini memberikan kita keyakinan untuk menghadapi hari-hari kita di depan. Tuhan tidak pernah tidak tahu dan tidak pernah tidak mengerti apa yang terjadi dengan kita.

Bila kita sekarang diingatkan kembali bahwa Kristus yang berkuasa itu selalu mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera, apakah dalam hidup ini yang membuat kita kuatir? Adakah tempat lain dimana kita bisa meletakkan kepercayaan kita selain pada Kristus? Letakkanlah kepercayaan kita pada Kristus yang berkuasa atas hidup kita.

May 4, 2009

Shenzhen di siang hari

Saya berdiri di depan taman miniatur dunia yang terkenal dengan sebutan “the window of the world” di kota shenzhen. Di hari libur yang panas itu pelataran tempat wisata ini ramai dipenuhi warga senzhen dan turis manca Negara. Saya melihat suatu pemandangan yang menarik.

Seorang anak kecil, umurnya tidak lebih dari 7-8 thn, berdiri memegang 3 tangkai mawar di tengah keramaian orang yang lalu lalang di pedestrian. Saya berpikir dia sedang menjajakan bunga mawar… Tapi tiba-tiba anak itu bergerak mendekati seorang perempuan muda yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan pasangan laki-laki-nya dan dengan cepat anak kecil ‘penjaja mawar’ ini memeluk satu kaki perempuan muda itu dengan seluruh tubuhnya. Alhasil perempuan yang masih remaja itu tidak dapat berjalan karena di kaki nya bergelayut seorang anak kecil yang dengan muka memelas seperti menangis berteriak-teriak, “ &%#..%$&*(.....!!! “. :)

Saya tidak tahu artinya, tapi sepertinya anak itu memohon supaya bunga mawarnya dibeli. Perempuan malang itu berusaha untuk melepaskan ‘japitan’ di kakinya dengan sekuat tenaga, dan dengan sekuat tenaga juga anak laki-laki itu tetap memeluk kaki itu dengan kuat. Dia mencoba mengatakan bahwa dia tidak mau membeli, tapi bocah itu tetap berteriak-teriak dengan muka menangis. Sementara sang pacar juga berusaha menarik untuk melepaskan pelukan anak itu. Orang yang lalu lalang disekitar hanya melihat dan terus berjalan seakan itu adalah pemandangan yang biasa. Aneh…saya berpikir, kalau ini terjadi di Jakarta, anak kecil itu pastilah sudah babak belur.

Setelah perempuan itu berupaya melepaskan diri dengan berbagai cara, akhirnya sang pacar mengeluarkan uangnya dan memberikannya pada anak itu. Jepitan pun dilepaskan, tapi bunga tidak diberikan, dan perempuan itupun sudah tidak peduli dengan bunga yang sudah dibayar, yang penting sudah lepas :).

Ketika itu saya sedang menunggu mobil jemputan yang akan membawa saya kembali ke hotel. Jadi saya masih sempat melihat anak kecil itu melakukan aksi yang sama kepada 5 orang lainnya dalam waktu kira-kira 30 menit. Dalam pengamatan singkat itu saya menemukan suatu pola. Anak itu hanya mendekati pasangan muda, terutama remaja yang memang terlihat sangat intim. Tidak sekalipun dia mencoba mendekati pasangan dewasa, atau suami istri; yang dia targetkan hanyalah pasangan remaja.

Mengapa demikian? Dia tahu persis bahwa kalau dia menjerat sang perempuan, maka sang pangeran yang masih muda dan bersemangat itu akan “tertantang” untuk menolong sang putri dengan segala cara, bahkan dengan cara membayarnya sekalipun. Dari 5 pasangan yang saya lihat, hanya satu pasangan yang laki-lakinya memakai kekerasan untuk menyelamatkan pacarnya, sedangkan selebihnya, membebaskan dengan cara membayar bandit kecil ini. Sebuah pemerasan yang secara terbuka di depan publik yang dilakukan seorang bocah kecil. Dunia ini memang aneh.

Mungkin bukan bocah itu yang menciptakan strategi ini, ada sutradara yang mengatur di belakang panggung. Tapi yang jelas anak yang mestinya masih bermain-main dengan teman-temannya ini, tidak seharusnya masuk dalam arena kotor penipuan yang menjual tangis, menyandera rasa malu seseorang, dan memanipulasi rasa heroic seorang laki-laki.

Wah…ini manipulasi berlapis lapis yang sanggup dilakukan seorang bocah. Dia tahu, seorang perempuan akan menjaga kelakuannya di depan pacarnya, sehingga ketika digelayuti kakinya, dia hanya meringis, berusaha bicara, dan mendorong ‘lembut’ anak itu. Dia tahu, kalau itu dilakukan di depan orang, maka perempuan itu akan malu, jangan-jangan orang berpikir itu anaknya. Coba kalau ibu-ibu yang kakinya digelayuti, sudah pasti anak itu dipukul pakai payung atau tas belanjaan karena gemes dengan kenakalan seperti itu. Dia tahu, seorang laki-laki muda akan menjadikan kesempatan itu sebagai ‘moment’ menunjukkan ke-gentle-an dan sikap melindungi pacarnya. Luar biasa bukan strateginya? Mungkin itu tidak akan berhasil di Jakarta, tapi di Shenzhen, anak itu berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuknya: hasil dari manipulasi.

Kira-kira….bandit kecil itu kalau sudah besar menjadi seperti siapa ya? Preman? Koruptor? Pejabat Negara? Dosen? Orang tua yang abusive kepada anaknya? Atau….Pendeta? :))

January 6, 2009

Renungan: Tuhan ku-ingin pancarkan kemuliaan-Mu


Mazmur 8

(1) Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud.

(2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.

(3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

(4) Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:

(5) apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

(6) Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

(7) Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:

(8) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;

(9) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

(10) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!


Tuhan ku-ingin memancarkan kemuliaan-Mu

Pemazmur sadar betul bahwa dia berdiri di hadapan Allah yang besar dan dahsyat, yang keagungan nama-Nya mengatasi segala yang ada di bumi, bahkan mencapai kemuliaan di surga. Ini adalah sesuatu yang belum pernah dilihatnya dengan kasat mata tapi dia bisa rasakan kebesaran-Nya. Lalu Pemazmur menjelaskan kebesaran Tuhan ini dengan cara yang unik. Dia mengatakan: “dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah kau letakkanya dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam”. Perhatikan dua hal yang bertolak belakang antara “bayi dan anak-anak menyusui” dengan “musuh-musuh Tuhan” ini perbandingan yang tidak sebanding. Allah menggunakan bayi-bayi dan anak-anak menyusui untuk meletakkan kekuatan-Nya oleh karena keberadaan musuh-musuh-Nya. Berarti keberadaan musuh dan pendendam itu ditanggapi Allah dengan meletakkan kekuataan-Nya bukan pada gunung atau pada ksatria perang, tapi pada bayi dan anak-anak menyusui. Apa arti puisi ini?

Ayat 3 ini berkaitan erat dengan ayat 1-2 yaitu bicara tentang keagungan nama Tuhan. “Musuh dan pendendam” adalah simbol kekuatan manusia, kesombongan dan penonjolan diri. Yang paling mendasar dari musuh dan pendendam ini adalah mereka tidak dapat mengenali dan mengakui keagungan nama Tuhan dan penyataan lewat nama itu. Sebaliknya, “bayi dan anak-anak menyusui” adalah simbol kerendahan hati dan ketidakberdayaan manusia, tapi mereka diberikan kekuatan lebih hebat dari musuh-musuh dengan mengenali keagungan nama Tuhan. Mereka disanggupkan mengenali keagungan Tuhan dan mengerti kebesaran-Nya dan penyataan-Nya. Kesombongan dan pemujaan diri adalah dinding penghalang yang paling utama untuk manusia bisa mengenali Allah dalam hidupnya. Sedangkan bagi orang yang menyadari dosanya dan ketidakberdayaannya, justru kepadanya Allah menyatakan diri-Nya.

Jadi dalam hal ini Pemazmur menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan, tapi itu bukanlah sesuatu kesadaran yang diterima begitu saja, atau diterima karena sekedar pengamatan terhadap langit dan alam semesta, atau kesadaran yang diterima karena perkataan orang lain. Tapi suatu kesadaran yang Allah letakkan dalam hatinya. Ketika kesadaran akan keagungan Tuhan ini muncul, pemazmur juga menyadari hal yang kedua: Pemazmur menemukan betapa kecilnya dan tidak berartinya dia. Tapi dalam kondisi dirinya yang mengaku tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan, justru dia menemukan bahwa Tuhan telah menjadikannya sebagai mahluk yang mulia.

Manusia diberikan tugas yang mulia yaitu menjadi master di tengah ciptaan dan mahluk hidup lainnya. Allah sebagai pencipta mendelegasikan kekuasaan-Nya atas ciptaan lainnnya kepada manusia ciptaan-Nya itu, agar manusi mengelola, mengerjakan, memanfaatkan dengan maksimal. Semua itu dilakukan bukan untuk kemuliaan manusia, tapi bagi kemuliaan Allah yang mencipta. Pemazmur menyadari untuk itulah Ia dicipta: menjadi kemuliaan Allah.

Sobat muda, kalau kita juga dicipta dengan tujuan seperti itu, maka tentulah itu mempengaruhi seluruh perilaku, sikap dan cara kita hidup. Betapa mengharukan bila kita mengingat bahwa Dia yang mulia dan berkuasa mau memakai kita yang yang hina sebagai pancaran dan pantulan kemuliaan-Nya. Pemazmur memulai dengan “ ya Tuhan, Tuhan kami betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi” dan kemudian pada bagian akhir ditutup dengan “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Kemuliaan itu sejatinya berawal dari Tuhan. Tuhan yang memberikan kemuliaan pada manusia, kembalinya kepada kemuliaan Tuhan juga.  

Biarlah semua yang kita kerjakan dalam hidup ini hanya untuk kemuliaan Allah, karena memang untuk itulah kita hidup: Memancarkan kemuliaan Tuhan.

October 26, 2008

Renungan: Dibutuhkan keberanian untuk bicara kebenaran

Dibutuhkan keberanian untuk bicara kebenaran

Yehezkiel 2:1-7


(1) Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau."

(2) Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku.

(3) Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.

(4) Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.

(5) Dan baik mereka mendengarkan atau tidak--sebab mereka adalah kaum pemberontak--mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka.

(6) Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak.

(7) Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak.


Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengar kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. (Yehezkiel 2:6a)

Sobat muda, Alkitab menceritakan kehidupan Yehezkiel di tanah pembuangan sebagai kehidupan yang sangat keras. Dia tinggal di tengah orang-orang yang melawan Allah, tidak mau diajar, bahkan menentang Yehezkiel sebagai nabi dan imam mereka. Bayangkan saja kalau kamu berjalan di tengah onak duri yang pastinya akan membuat kakimu penuh dengan luka-luka, walaupun mungkin tidak mematikan. Atau kalau kamu berjalan di dekat kalajengking, tentu kamu harus berhati-hati, karena yang satu ini bisa mematikan kalau tersengat. Begitulah Tuhan menggambarkan perkataan orang-orang yang ada di sekitar Yehezkiel, yang menyakitkan, dan dengan sengaja memberontak kepada Allah. Dengan perkataan orang bisa memfitnah, menghina, menyakiti, bahkan membunuh! Tentu saja yang dibunuh bukan fisiknya tapi karakternya.

Mungkin kamu sering mendengar perkataan-perkataan yang tidak enak di tengah-tengah komunitas dimana kamu berada, yang menyakiti hatimu bahkan menjadi fitnah untuk mu. Entah kenapa, semakin kita mempertahankan kemurnian iman dan sikap hidup kita, perkataan miring dan bernada fitnah malah datang pada kita. Bisa datang dari teman, rekan kerja, bahkan dari anggota keluarga sendiri. Sepertinya itu sudah menjadi rumusan kehidupan.
Orang yang menekan, mempertanyakan, merendahkan, dan menyalah artikan hidup kita selalu ada di sekitar kita. Orang-orang seperti itu jugalah yang ada di sekitar Yehezkiel. Tapi Allah mengutus Yehezkiel kesana. Dan nasihat Allah adalah “jangan takut!” Nasihat ini tepat sekali, karena perkataan-perkataan keras dan menyakitkan dari orang lain dapat membuat mental kita ciut, dan membuat kita terdiam, dan akhirnya kita tidak berani menyatakan kebenaran. Allah meneguhkan Yehezkiel untuk menjadi saksi yang berani dan berani berbicara menyatakan kebenaran Allah.

Memang dibutuhkan keberanian untuk bisa berbicara menyatakan kebenaran. Dunia ini semakin banyak dipenuhi orang yang “diam” walaupun dia tahu kebenaran, dengan alasan “strategi” dan “kebijaksanaan”. Padahal intinya bukan itu. Diamnya mereka lebih kepada menyelamatkan diri, tidak taat pada Tuhan, bahkan kekejian hati mereka. Banyak orang jadi menderita karena perbuatan orang yang “diam” melihat dosa. Bahkan banyak kawan-kawan kita yang tetap hidup dalam dosa jadi makin menggila dengan dosanya, justru karena kita “diam” melihat dosanya.

Memang ada waktunya diam. Tapi kalau Tuhan mau kita bicara, kita harus bicara! Walaupun satu kata saja keluar dari mulut kita bisa mendatangkan serangan balik yang bertubi-tubi bagi diri kita. Tapi kalau kebenaran Tuhan harus dinyatakan, maka tidak boleh ada yang menghentikannya.

September 10, 2008

Renungan: "Am I My Brother's Keeper?"

Kejadian 4 : 1 - 16

4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."

4:2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.

4:3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan;

4:4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,

4:5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.

4:6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?

4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."

4:8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.

4:9 Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?"

4:10 Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.
4:11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.

4:12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi."

4:13 Kata Kain kepada TUHAN: "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung.

4:14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku."

4:15 Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia.

4:16 Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.


"Am I My Brother's Keeper?"

Firman Tuhan kepada Kain: ”Dimana Habel adikmu itu?” Jawabnya: ”aku tidak tahu, apakah aku penjaga adikku?”(Kejadian 4:9)

Ini peristiwa yang tragis. Kain membunuh adiknya. Allah bertanya pada Kain, “Kain, dimanakah adikmu?” Dan orang yang sudah membunuh adiknya ini menjawab “apakah aku penjaga adikku?”. Dengan menjawab ini, Kain ingin mengatakan 2 hal: pertama, dengan mengatakan demikian berarti Kain menganggap Allah lah yang semestinya menjaga Habil, bukan dia, atau dengan kata lain dia mau bilang “kenapa tanya aku? Harusnya Engkau dong Allah yang maha tahu dan menjaga adikku dimana aja!”

Kedua, dengan demikian berarti Kain juga menolak bertanggung jawab terhadap saudaranya, dia mau mengatakan bahwa dirinya tidak ada kait mengait dengan adiknya. Pikiran Kain adalah pikiran orang berdosa, yang bukan saja menyembunyikan dosanya sendiri, tapi bahkan dengan terang-terangan menolak tanggung jawab untuk menjadi sesama bagi saudaranya. Kain menolak bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan saudaranya. Ironi sekali…orang yang menolak tanggung jawab hidup bersama ini, akhirnya dihukum dengan menjadi pengembara, atau orang asing.

Kawan, kita tidak hidup sendiri! Tuhan menjadikan kita hidup bersama dengan orang lain. Coba pikirkan, apapun yang kita lakukan adalah selalu terkait dengan kesejahteraan, kedamaian dan keselamatan orang lain. Dimana saja kita berada, baik di tempat kerja, di kampus, bahkan di rumah, ada orang-orang lain yang hidup bersama dengan kita. Semua yang kita lakukan haruslah selalu menjadi sesuatu yang berdampak baik dan membangun bagi orang disekeliling kita.

Tuhan juga akan tanya kepada kita “kenapa temanmu hidupnya morat-marit seperti itu?”, apakah kamu akan bilang juga, “mana aku tahu?? emangnya aku tukang jaga temanku?”

August 9, 2008

Renungan: Rindu Dipakai Tuhan

1 Samuel 1:23b-28

(23b) Jadi tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya.

(24) Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu.

(25) Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli;

(26) lalu kata perempuan itu: "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN.

(27) Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya.

(28) Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.


Rindu dipakai Tuhan

Hana merindukan anak. Hatinya pun merana, karena tidak punya anak di jaman itu adalah suatu kesusahan hidup yang berat. Tapi Hana tahu bahwa Allah lah yang menutup kandungannya sehingga dalam hatinya yang merana itu, dia tidak membuat usaha lain selain datang kepada Allah. Hana berbeda dari pendahulunya, seperti Sarah atau Rachel yang sama-sama mandul tapi mereka berupaya mendapatkan anak dengan cara memberikan budak-budaknya kepada suami mereka. Hana tidak melakukan itu, tapi dia hanya berdoa kepada Allah karena mengakui bahwa hanya Allah saja yang dapat membuka kembali kandungannya. Dalam doa Hana, ia bernazar, bahwa kalau Tuhan memberikan dia anak laki-laki, maka ia akan menyerahkan anak itu bagi Tuhan. Lalu Tuhan menjawab doa Hana dan memberikannya seorang anak laki-laki. Hana yang sudah mengikatkan dirinya dalam perjanjian itu, memenuhi janjinya dengan menyerahkan anak itu untuk dibesarkan oleh Imam Eli bagi pekerjaan Tuhan.

Kita jadi berpikir, kalau Hana rindu punya anak, mengapa dia minta anak kepada Tuhan, tapi kemudian menyerahkannya untuk dibesarkan oleh Imam Eli? Mengapa merindukannya kalau kemudian dia akhirnya melepaskannya? Disini kita justru melihat bahwa kesedihan Hana sebenarnya bukan hanya semata-mata karena tidak punya anak; tapi dia merasa tidak dapat memberikan apa-apa kepada Tuhan dengan tidak punya anak. Ini membuktikan bahwa Hana bukan sekedar minta anak, tapi dia minta dipakai Tuhan dengan jalan memiliki anak. Jadi kerinduan Hana yang paling mendasar sebenarnya adalah: kerinduan untuk dipakai Tuhan. Hana tahu sebagai perempuan pada jaman itu, memiliki anak adalah suatu kesempatan untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan.

Sobat muda, apakah kerinduanmu yang paling mendasar di dalam hidup ini? Kerinduan Hana yang sangat mendasar adalah : dipakai oleh Tuhan untuk kemuliaanNya. Kerinduan Hana ini dibawa dalam doanya; dalam doanya Hana mengikat janji dengan Tuhan, dan dalam janjinya, Hana memegang teguh komitmennya, sehingga Hana memang dipakai Tuhan melahirkan seorang pemimpin besar bangsa Israel yaitu, Samuel.

Kita punya banyak kerinduan. Rindu juga membuat seseorang akan rela berjalan jauh untuk bisa mendapatkan apa yang ia rindukan. Rindu yang besar akan membuat kita memegang teguh komitmen kita untuk mewujudkannya. Bila anda rindu untuk melayani Tuhan, maka kerinduan itu akan melahirkan kesungguhan dan komitmen yang teguh untuk bekerja bagi Tuhan, betapapun sulitnya. Mengapa orang sering mengatakan “ah saya sibuk, tidak ada waktu untuk pelayanan” ? Sebenarnya yang terjadi adalah, dia tidak punya “rindu untuk melayani Tuhan”. Karena tidak rindu, dia tidak mengupayakannya, apalagi berkomitmen.

Rindukah engkau dipakai Tuhan?