1 Raja-raja 19:1-8
(1) Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang,
(2)
maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah
kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika
besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti
nyawa salah seorang dari mereka itu."
(3) Maka takutlah ia, lalu
bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke
Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di
sana.
(4) Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari
perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia
ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah
nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."
(5)
Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi
tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya:
"Bangunlah, makanlah!"
(6) Ketika ia melihat sekitarnya, maka
pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu
ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.
(7) Tetapi
malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta
berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti
terlalu jauh bagimu."
(8) Maka bangunlah ia, lalu makan dan
minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat
puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.
Don’t Quit, Take a Rest!
Fisik
kita tidak dicipta tanpa batas, tapi ada batas ambang yang kalau masuk
didalamnya kita akan merasa lelah. Badan kita bisa sakit,dan kita merasa
lelah dengan pekerjaan yang berat atau masalah yang berat. Pekerjaan
sehari-hari kita tanpa kita sadari menyerap banyak persediaan tenaga
dalam diri kita, yang seringkali menimbulkan kelelahan baik secara fisik
maupun secara mental. Bahkan aktivitas pelayanan kita baik di gereja
maupun dimana saja seringkali juga menimbulkan kelelahan yang bukan
hanya fisik, tapi juga mental.
Elia sedang mengalami kelelahan
yang sangat dalam. Pikiranya tidak berjalan secara benar. Bayangkan
saja, Elia adalah seorang pahlawan yang gagah berani ini baru saja
memenangkan pertandingan hebat dan menyembelih nabi-nabi Baal sebagai
tanda kemenangannya. Lalu ketika muncul tekanan dari seorang perempuan
yang berkata, “besok pada jam yang sama aku akan membunuh kamu”, Elia
menjadi sangat takut dan tertekan. Elia tidak siap dengan “serangan
balik” yang tiba-tiba datang padanya ditengah-tengah puncak
kemenangannya melawan nabi-nabi Baal. Ini memang masa-masa yang rawan,
yaitu ketika ada di puncak sebuah kesuksesan dimana keberhasilan sudah
ditangan, tapi pada saat yang sama kelelahan juga mencapai puncaknya.
Elia
tidak siap karena dia sendiri memang secara fisik dan mental sedang
mengalami kelelahan. Dia merasa kemenangan yang hebat saja tidak
menyurutkan niat Ahab dan Izebel untuk tidak membunuh dia, bahkan
membuat Izebel menjadi lebih berani. Kalau sudah begini, seringkali
orang menjadi tidak realistis dengan dirinya sendiri, sehingga melihat
diri lemah, tidak berdaya, tidak berguna, dan hanya korban belaka.
Demikian juga Elia mengatakan, “cukuplah…aku tidak lebih baik daripada
leluhurku”. Inilah gambar diri Elia yang mengasihani dirinya sendiri.
Ditengah
rasa lelah fisik dan mental yang dialami Elia, Allah menemui hamba-Nya
ini. Tak ada teguran, tak ada menyalahkan, ataupun nasihat. Allah hanya
menyuruh Elia makan! Lalu Allah memberikan roti bakar dan air segar.
Perhatikan betapa indah yang Allah lakukan bagi hamba-Nya ini, Allah
pencipta langit dan bumi seakan sedang membujuk, menghibur bahkan
memanjakan Elia. Ini memang tahapan yang sangat awal, sebelum kemudian
Allah mengajak Elia masuk dalam pembaharuan berikutnya. Tapi kita
melihat dalam tahap ini Allah ingin Elia pulih dulu secara fisik supaya
dia dapat berpikir lebih jernih untuk menerima pemulihan berikutnya.
Sobat
muda, ketika kita merasa lelah dan mental kita pun menjadi lemah, maka
mudah buat kita berpikir salah tentang diri kita sendiri bahkan tentang
Allah. Ini seringkali membuat banyak orang mengambil
keputusan-keputusan yang salah dalam hidupnya ataupun berespons tidak
tepat terhadap sekelilingnya. Misalnya kemarahan yang tiba-tiba meledak,
menganggap diri tidak berguna, merasa ditinggalkan dan bahkan menyerah.
Dalam keadaan lelah, kita perlu istirahat. Bahkan pulihkan kelelahan
anda itu dengan mengambil waktu melakukan hal-hal yang menyenangkan.
Orang Kristen sering merasa bersalah kalau beristirahat, padahal
istirahat adalah karunia dan pengkhotbah pun mengatakan bahwa rasa
senang adalah karunia Allah (3:13).
Sobat muda, kalau hari
ini anda merasa lelah dan rasanya berat sekali melakukan apa saja dalam
kelelahan itu, beristirahatlah dan menikmati Allah yang selalu
memelihara kita. Dengan itu juga kita bisa menikmati hidup yang
Allah berikan bagimu. Pekerjaan bisa menunggu, orang bisa menunggu, bila
diperlukan hari ini engkau beristirahat, istirahatlah!
March 15, 2011
March 14, 2011
Renungan: Memang Hitam Aku Tetapi Cantik!
Kidung Agung 1:1-8
(1) Kidung agung dari Salomo.
(2) --Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,
(3) harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!
(4) Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!
(5) Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.
(6) Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.
(7) Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembara dekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu?
(8) --Jika engkau tak tahu, hai jelita di antara wanita, ikutilah jejak-jejak domba, dan gembalakanlah anak-anak kambingmu dekat perkemahan para gembala.
Sahabatku, banyak orang gelisah kalau pada usia tertentu dia belum memiliki pacar. Lalu hidupnya akan menjadi semakin muram ketika dia melihat kawan-kawan disekelilingnya sudah punya pacar sedangkan dia sendiri belum. Memasuki relasi intim sebagai “pacar” memang pengalaman yang ditunggu-tunggu oleh orang muda. Ketika seseorang menyatakan cinta padamu, langit-langit seakan terbuka dan kembang api bertaburan indah di atasnya. Bahkan seringkali pengalaman itu begitu dasyatnya sehingga mempengaruhi bagaimana cara-mu memandang kepada dirimu sendiri. Sehingga pemuda pemudi yang belum memiliki pacar seringkai merasa diri mereka kurang berharga karena seakan tidak ada yang ‘menginginkan’nya untuk menjadi teman dekat atau ‘pacar’.
Hati-hati dengan konsep diri yang salah. Banyak orang berpacaran menjadi salah memperlakukan dirinya atau pacarnya karena memiliki konsep diri yang salah juga. Ketika seorang perempuan mengatakan “ I always feel not good enough for him”, maka ia akan berusaha memberikan apa saja bahkan seluruh tubuhnya. Kebanyakan pasangan jatuh ke dalam seks pra-nikah, karena mereka sendiri tidak punya pemahaman yang benar tentang keberhargaan diri. Jangan pernah mencari pacar, hanya supaya engkau merasa berharga, justru sebaliknya engkau harus mengerti betul betapa berharganya dirimu sehingga kamu tau bagaimana memperlakujkan dirimu dalam berpacaran.
Kidung Agung yang kita baca hari ini memperlihatkan seseorang yang siap dalam memasuki relasi intim dengan pasangannya. Dia tahu betul siapa dirinya dalam kelebihan dan kekurangannya. Perempuan itu mengatakann di ayat 5: “memang hitam aku, tetapi cantik”. Memang ada pemahaman budaya disini tentang kulit yang berwana ‘hitam’ dan nampaknya dia hidup di tengah pemahaman bahwa kulit berwarna hitam adalah kurang elok. Ini mengingatkan kita akan cerita Musa yang diolok-olok oleh orang-orang disekelilingnya karena mengambil istri orang Kurdi yang konon katanya berkulit hitam. Tapi calon mempelai perempuan ini memiliki keyakinan dan penghargaan yang kuat di dalam dirinya. Begitu kuatnya sehingga dia mengatakan, “memang hitam aku, tetapi cantik”. Bisakah sobat muda juga mengatakan hal yang sama tentang dirimu? Misalnya, “memang aku orang sederhana tapi aku murah hati” atau “memang aku gemuk, tapi aku penuh perhatian”, atau “memang aku pendek, tapi aku pemberani”, dan tentu masih banyak lagi.
Sahabat, hati-hati bila kamu sudah melihat bahwa kamu tidak cukup baik, atau merasa pacarmu terlalu hebat, dan popular sedangkan dirimu tidak ada apa-apanya. Karena biasanya kalau sudah demikian, seseorang akan mencari pembuktian dengan melakukan apa saja. Engkau harus bisa mengenal dirimu baik-baik, tahu dimana kelebihan dan kekuranganmu serta memberikan penghargaan yang baik kepada diri sendiri.
Terlebih lagi tentunya engkau harus tahu dan yakin bahwa kasih Tuhan didalam diri kita mendasari seluruh penghargaan terhadap diri sendiri. Punya pacar atau tidak sebenarnya tidak mempengaruhi penghargaan terhadap diri. Karena hanya dengan dikasihi Tuhan lah kita menjadi berharga di dalam diri kita. Justru kalau engkau punya penghargaan diri yang kuat, maka engkau akan menjalani pacaran yang indah!
(1) Kidung agung dari Salomo.
(2) --Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,
(3) harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!
(4) Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!
(5) Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.
(6) Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.
(7) Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembara dekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu?
(8) --Jika engkau tak tahu, hai jelita di antara wanita, ikutilah jejak-jejak domba, dan gembalakanlah anak-anak kambingmu dekat perkemahan para gembala.
Sahabatku, banyak orang gelisah kalau pada usia tertentu dia belum memiliki pacar. Lalu hidupnya akan menjadi semakin muram ketika dia melihat kawan-kawan disekelilingnya sudah punya pacar sedangkan dia sendiri belum. Memasuki relasi intim sebagai “pacar” memang pengalaman yang ditunggu-tunggu oleh orang muda. Ketika seseorang menyatakan cinta padamu, langit-langit seakan terbuka dan kembang api bertaburan indah di atasnya. Bahkan seringkali pengalaman itu begitu dasyatnya sehingga mempengaruhi bagaimana cara-mu memandang kepada dirimu sendiri. Sehingga pemuda pemudi yang belum memiliki pacar seringkai merasa diri mereka kurang berharga karena seakan tidak ada yang ‘menginginkan’nya untuk menjadi teman dekat atau ‘pacar’.
Hati-hati dengan konsep diri yang salah. Banyak orang berpacaran menjadi salah memperlakukan dirinya atau pacarnya karena memiliki konsep diri yang salah juga. Ketika seorang perempuan mengatakan “ I always feel not good enough for him”, maka ia akan berusaha memberikan apa saja bahkan seluruh tubuhnya. Kebanyakan pasangan jatuh ke dalam seks pra-nikah, karena mereka sendiri tidak punya pemahaman yang benar tentang keberhargaan diri. Jangan pernah mencari pacar, hanya supaya engkau merasa berharga, justru sebaliknya engkau harus mengerti betul betapa berharganya dirimu sehingga kamu tau bagaimana memperlakujkan dirimu dalam berpacaran.
Kidung Agung yang kita baca hari ini memperlihatkan seseorang yang siap dalam memasuki relasi intim dengan pasangannya. Dia tahu betul siapa dirinya dalam kelebihan dan kekurangannya. Perempuan itu mengatakann di ayat 5: “memang hitam aku, tetapi cantik”. Memang ada pemahaman budaya disini tentang kulit yang berwana ‘hitam’ dan nampaknya dia hidup di tengah pemahaman bahwa kulit berwarna hitam adalah kurang elok. Ini mengingatkan kita akan cerita Musa yang diolok-olok oleh orang-orang disekelilingnya karena mengambil istri orang Kurdi yang konon katanya berkulit hitam. Tapi calon mempelai perempuan ini memiliki keyakinan dan penghargaan yang kuat di dalam dirinya. Begitu kuatnya sehingga dia mengatakan, “memang hitam aku, tetapi cantik”. Bisakah sobat muda juga mengatakan hal yang sama tentang dirimu? Misalnya, “memang aku orang sederhana tapi aku murah hati” atau “memang aku gemuk, tapi aku penuh perhatian”, atau “memang aku pendek, tapi aku pemberani”, dan tentu masih banyak lagi.
Sahabat, hati-hati bila kamu sudah melihat bahwa kamu tidak cukup baik, atau merasa pacarmu terlalu hebat, dan popular sedangkan dirimu tidak ada apa-apanya. Karena biasanya kalau sudah demikian, seseorang akan mencari pembuktian dengan melakukan apa saja. Engkau harus bisa mengenal dirimu baik-baik, tahu dimana kelebihan dan kekuranganmu serta memberikan penghargaan yang baik kepada diri sendiri.
Terlebih lagi tentunya engkau harus tahu dan yakin bahwa kasih Tuhan didalam diri kita mendasari seluruh penghargaan terhadap diri sendiri. Punya pacar atau tidak sebenarnya tidak mempengaruhi penghargaan terhadap diri. Karena hanya dengan dikasihi Tuhan lah kita menjadi berharga di dalam diri kita. Justru kalau engkau punya penghargaan diri yang kuat, maka engkau akan menjalani pacaran yang indah!
March 4, 2011
Renungan: Menaruh Minat Pada Pembelajaran Rohani
Lukas 2:41-52
Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah.
Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.
Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.
Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Menaruh Minat Pada Pembelajaran Rohani
Bila kita membaca sekilas cerita ini, maka mungkin di dalam hati kita ada keheranan akan reaksi Tuhan Yesus yang masih remaja itu ketika ibunya yang gelisah dan ketakutan akhirnya menemukan dia sedang duduk-duduk nyaman di Bait Allah. Dengan tenang Tuhan Yesus menjawab, ”mengapa kamu mencari Aku..?”. Sepintas mungkin kita akan berpikir bahwa Tuhan Yesus tidak mengerti kegelisahan orang tuanya yang sudah 3 hari mencari-cari anak hilang, dan tidak menghargai kekuatiran mereka.
Tapi kalau kita memperhatikan lebih cermat dialog ini, sebenarnya Yesus bukan sedang menunjukkan ketidakpedulian-Nya terhadap usaha orang tua-Nya mencari Dia. ”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”, itulah jawaban Tuhan Yesus terhadap kecemasan orang tua-Nya. Dia sebenarnya mau mengatakan kepada orang tua-Nya bahwa sesungguhnya tidak perlu cemas dan mencari Dia kemana-mana sampai berhari-hari. Sesungguhnya sebagai orang tua, Yusuf dan Maria seharusnya tahu kemana Yesus akan pergi bila terpisah dari orang tua-Nya, yaitu Bait Allah. Bukan saja karena tempat itu adalah tempat dimana Kristus berada dalam ”rumah Bapa-Ku”, tapi sebenarnya juga menunjukkan apa yang menjadi kesukaan Yesus yang muda itu.
Lihatlah Tuhan Yesus menikmati duduk-duduk dengan alim ulama, bercakap-cakap dengan mereka dan mengajukan berbagai pertanyaan. Yesus yang muda menunjukkan minat-Nya kepada perkara-perkara rohani. Di Bait Allah, Tuhan Yesus berdiskusi dengan para teolog, karena Dia berminat besar kepada pembicaraan tentang Bapa-Nya.
Saat ini, semakin sedikit orang muda menaruh minat terhadap kebenaran-kebenaran Firman Tuhan. Mengapa demkian? Karena memang ketertarikan orang muda di jaman ini lebih kepada dirinya sendiri. Jaman ini telah menuntun orang muda untuk meng-ekploitasi dirinya sendiri. Orang muda senang mempertontonkan dirinya sendiri, baik pikiran,perasaan dan penampilannya. Minat yang besar terhadap diri sendiri membuat orang muda hidup dalam hedonisme dan narsisisme. Akhirnya sudah menjadi masalah klasik bahwa kelas-kelas pemahaman Alkitab semakin sepi, kelompok-kelompok kecil tidak lagi bergairah, acara-acara pembinaan di gereja tidak lagi diminati. Padahal ciri khas seorang yang memiliki pertumbuhan rohani adalah minat yang besar juga dalam belajar akan kebenaran Firman Tuhan, senang mendiskusikannya, dan nyaman membicarakannya berlama-lama. Kristus di Bait Allah, menunjukan passion yang besar terhadap Allah, ada kesukaan tersendiri buat Tuhan Yesus untuk berdiskusi tentang Bapa-Nya dengan para alim ulama itu.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memiliki minat bahkan kerinduan yang besar untuk membicarakan, mendiskusikan dan mempelajari kebenaran Firman Tuhan? Orang yang memiliki kegairahan yang besar kepada Allah adalah orang yang memiliki kerinduan. Rindu itu suatu rasa yang ajaib. Ada hal-hal yang besar yang bisa dilakukan oleh seseorang kalau dia merindukan sesuatu. Jadi rindu itu membuat terjadinya suatu dorongan yang besar di dalam diri kita untuk melakukan sesuatu. Orang Kristen seharusnya punya rindu pada Tuhan, sehingga dia menaruh minat yang besar pada pertumbuhan rohaninya dan pada pengenalan akan Tuhan. Pola inilah yang ditunjukkan oleh Kristus dari cerita yang sederhana tentang diri-Nya yang hilang di Yerusalem.
Didalam diri Kristus yang masih remaja yang punya kerinduan besar inilah, Lukas mencatat, bahwa Yesus bertambah besar, dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah.
Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.
Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.
Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.
Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.
Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Menaruh Minat Pada Pembelajaran Rohani
Bila kita membaca sekilas cerita ini, maka mungkin di dalam hati kita ada keheranan akan reaksi Tuhan Yesus yang masih remaja itu ketika ibunya yang gelisah dan ketakutan akhirnya menemukan dia sedang duduk-duduk nyaman di Bait Allah. Dengan tenang Tuhan Yesus menjawab, ”mengapa kamu mencari Aku..?”. Sepintas mungkin kita akan berpikir bahwa Tuhan Yesus tidak mengerti kegelisahan orang tuanya yang sudah 3 hari mencari-cari anak hilang, dan tidak menghargai kekuatiran mereka.
Tapi kalau kita memperhatikan lebih cermat dialog ini, sebenarnya Yesus bukan sedang menunjukkan ketidakpedulian-Nya terhadap usaha orang tua-Nya mencari Dia. ”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”, itulah jawaban Tuhan Yesus terhadap kecemasan orang tua-Nya. Dia sebenarnya mau mengatakan kepada orang tua-Nya bahwa sesungguhnya tidak perlu cemas dan mencari Dia kemana-mana sampai berhari-hari. Sesungguhnya sebagai orang tua, Yusuf dan Maria seharusnya tahu kemana Yesus akan pergi bila terpisah dari orang tua-Nya, yaitu Bait Allah. Bukan saja karena tempat itu adalah tempat dimana Kristus berada dalam ”rumah Bapa-Ku”, tapi sebenarnya juga menunjukkan apa yang menjadi kesukaan Yesus yang muda itu.
Lihatlah Tuhan Yesus menikmati duduk-duduk dengan alim ulama, bercakap-cakap dengan mereka dan mengajukan berbagai pertanyaan. Yesus yang muda menunjukkan minat-Nya kepada perkara-perkara rohani. Di Bait Allah, Tuhan Yesus berdiskusi dengan para teolog, karena Dia berminat besar kepada pembicaraan tentang Bapa-Nya.
Saat ini, semakin sedikit orang muda menaruh minat terhadap kebenaran-kebenaran Firman Tuhan. Mengapa demkian? Karena memang ketertarikan orang muda di jaman ini lebih kepada dirinya sendiri. Jaman ini telah menuntun orang muda untuk meng-ekploitasi dirinya sendiri. Orang muda senang mempertontonkan dirinya sendiri, baik pikiran,perasaan dan penampilannya. Minat yang besar terhadap diri sendiri membuat orang muda hidup dalam hedonisme dan narsisisme. Akhirnya sudah menjadi masalah klasik bahwa kelas-kelas pemahaman Alkitab semakin sepi, kelompok-kelompok kecil tidak lagi bergairah, acara-acara pembinaan di gereja tidak lagi diminati. Padahal ciri khas seorang yang memiliki pertumbuhan rohani adalah minat yang besar juga dalam belajar akan kebenaran Firman Tuhan, senang mendiskusikannya, dan nyaman membicarakannya berlama-lama. Kristus di Bait Allah, menunjukan passion yang besar terhadap Allah, ada kesukaan tersendiri buat Tuhan Yesus untuk berdiskusi tentang Bapa-Nya dengan para alim ulama itu.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memiliki minat bahkan kerinduan yang besar untuk membicarakan, mendiskusikan dan mempelajari kebenaran Firman Tuhan? Orang yang memiliki kegairahan yang besar kepada Allah adalah orang yang memiliki kerinduan. Rindu itu suatu rasa yang ajaib. Ada hal-hal yang besar yang bisa dilakukan oleh seseorang kalau dia merindukan sesuatu. Jadi rindu itu membuat terjadinya suatu dorongan yang besar di dalam diri kita untuk melakukan sesuatu. Orang Kristen seharusnya punya rindu pada Tuhan, sehingga dia menaruh minat yang besar pada pertumbuhan rohaninya dan pada pengenalan akan Tuhan. Pola inilah yang ditunjukkan oleh Kristus dari cerita yang sederhana tentang diri-Nya yang hilang di Yerusalem.
Didalam diri Kristus yang masih remaja yang punya kerinduan besar inilah, Lukas mencatat, bahwa Yesus bertambah besar, dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
January 15, 2011
Renungan: Money...Mooney.....Money
1 Timotius 6 : 6 - 10
6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Money, Money, Money
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan uang. Banyak orang di dunia percaya bahwa uang lah segala-galanya. Ada uang kita bisa bikin apa saja. Paling tidak ada pemikiran yang sifatnya umum yang orang pikir tentang uang: (i) Orang berpikir uang dapat memberikan rasa aman atau security. (ii) Orang berpikir uang memberikan harga diri seseorang. (iii) Orang berpikir uang dapat memberikan kebahagiaan.
Pikiran-pikiran yang mengatakan bahwa uang dapat memberikan keamanan, dan harga diri bahkan kebahagiaan, inilah yang membuat orang bisa cinta uang! Itu adalah pikiran dunia yang menyesatkan kita saat ini. Paulus memperingatkan kita dalam bacaan ini bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan dan uang tidak membawa kita kepada kebahagiaan. Ada beberapa alasan mengapa uang tidak memimpin kita kedalam kebahagiaan:
Pertama , karena uang tidaklah kekal. Ayat 7 mengatakan, “kita tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa keluar”. Kita tidak membawa apapun ke dalam dunia, yaitu ketika kita lahir ke dunia. Lalu, kitapun tidak membawa apa-apa keluar. Kita akan keluar dari dunia ini sama seperti ketika kita masuk: tidak bawa apa-apa!
Kita sering mencintai uang, mengejar uang sedemikian rupa seakan-akan uang dapat kita bawa juga keluar dari dunia ini. Kita punya dimensi hidup kekal, yang didalamnya uang itu tidak laku, tidak menambah apa-apa, dan tidak mempengaruhi apa-apa. Lalu mengapa mengejarnya sedemikian rupa padahal waktu kita mati, itu tidak artinya sedikitpun?
Kedua, karena sebenarnya kita tidak perlu kaya dan mengejar uang dengan luar biasa untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Paulus bilang “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” . Cinta akan uang tidak akan menuntun kepada kebahagiaan. Tapi asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Kata “cukup” berarti tidak kekurangan, baik dari segi materi maupun rohani.
Ketiga, mengapa kita jangan cinta Uang, karena keinginan menjadi kaya akan membawa kedalam berbagai pencobaan dan kedalam jerat yang mencelakakan dan bahkan membinasakan. Uang selalu nampaknya mempesona dan kita berpikir dapat membuat kita bahagia, tapi pengejaran kita akan uang membuat kita tidak melihat apa dibalik uang itu. Cinta akan uang akan membawa manusia bergerak menjauh dari Allah.
Uang memang mempengaruhi relasi kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Tapi sebenarnya yang dimaksud bukan uangnya, tapi “cinta pada uang” itu yang akan mempengaruhi hubungan kita. Cinta uang berarti ada kegairahan yang besar terhadap uang itu dan pemanfaatannya bagi diri, sehingga nilai uang itu dipandang lebih berharga dari lainnya. Apa yang bisa membuat 2 sahabat menjadi pecah? Uang. Apa yang membuat gereja bisa pecah? Uang juga. Uang bisa membuat seseorang mengkhianati sahabatnya sendiri, bahkan membunuh orang lain.
Tidak salah punya uang banyak. Tapi bisa jadi masalah kalau mencintai uang.
6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Money, Money, Money
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan uang. Banyak orang di dunia percaya bahwa uang lah segala-galanya. Ada uang kita bisa bikin apa saja. Paling tidak ada pemikiran yang sifatnya umum yang orang pikir tentang uang: (i) Orang berpikir uang dapat memberikan rasa aman atau security. (ii) Orang berpikir uang memberikan harga diri seseorang. (iii) Orang berpikir uang dapat memberikan kebahagiaan.
Pikiran-pikiran yang mengatakan bahwa uang dapat memberikan keamanan, dan harga diri bahkan kebahagiaan, inilah yang membuat orang bisa cinta uang! Itu adalah pikiran dunia yang menyesatkan kita saat ini. Paulus memperingatkan kita dalam bacaan ini bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan dan uang tidak membawa kita kepada kebahagiaan. Ada beberapa alasan mengapa uang tidak memimpin kita kedalam kebahagiaan:
Pertama , karena uang tidaklah kekal. Ayat 7 mengatakan, “kita tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa keluar”. Kita tidak membawa apapun ke dalam dunia, yaitu ketika kita lahir ke dunia. Lalu, kitapun tidak membawa apa-apa keluar. Kita akan keluar dari dunia ini sama seperti ketika kita masuk: tidak bawa apa-apa!
Kita sering mencintai uang, mengejar uang sedemikian rupa seakan-akan uang dapat kita bawa juga keluar dari dunia ini. Kita punya dimensi hidup kekal, yang didalamnya uang itu tidak laku, tidak menambah apa-apa, dan tidak mempengaruhi apa-apa. Lalu mengapa mengejarnya sedemikian rupa padahal waktu kita mati, itu tidak artinya sedikitpun?
Kedua, karena sebenarnya kita tidak perlu kaya dan mengejar uang dengan luar biasa untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Paulus bilang “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” . Cinta akan uang tidak akan menuntun kepada kebahagiaan. Tapi asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Kata “cukup” berarti tidak kekurangan, baik dari segi materi maupun rohani.
Ketiga, mengapa kita jangan cinta Uang, karena keinginan menjadi kaya akan membawa kedalam berbagai pencobaan dan kedalam jerat yang mencelakakan dan bahkan membinasakan. Uang selalu nampaknya mempesona dan kita berpikir dapat membuat kita bahagia, tapi pengejaran kita akan uang membuat kita tidak melihat apa dibalik uang itu. Cinta akan uang akan membawa manusia bergerak menjauh dari Allah.
Uang memang mempengaruhi relasi kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Tapi sebenarnya yang dimaksud bukan uangnya, tapi “cinta pada uang” itu yang akan mempengaruhi hubungan kita. Cinta uang berarti ada kegairahan yang besar terhadap uang itu dan pemanfaatannya bagi diri, sehingga nilai uang itu dipandang lebih berharga dari lainnya. Apa yang bisa membuat 2 sahabat menjadi pecah? Uang. Apa yang membuat gereja bisa pecah? Uang juga. Uang bisa membuat seseorang mengkhianati sahabatnya sendiri, bahkan membunuh orang lain.
Tidak salah punya uang banyak. Tapi bisa jadi masalah kalau mencintai uang.
November 20, 2010
Renungan: Menjadi Berkat Bagi Sesama
Kejadian 12:1-3
(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
(2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
(3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
Menjadi Berkat bagi sesama
Cerita ini di mulai dengan panggilan Allah kepada Abraham untuk pergi ke negeri yang Tuhan tunjukkan padanya. Alkitab hanya mencatat, Firman Tuhan kepada Abraham: “pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu…” dan seterusnya. Lihatlah betapa efektifnya panggilan Allah itu dalam diri Abraham, dan Abraham meresponinya tanpa syarat: “maka pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan”. Allah berinisiatif memanggil Abraham dan mengadakan suatu perjanjian yang besar dengannya. Tidakkah ini adalah hal yang luar biasa? Allah sang pencipta dan berkuasa, mau mengadakan perjanjian dengan ciptaann yang kecil. Abraham bukan siapa-siapa. Abraham tidak kenal siapa Allah sebelumnya, tapi penyataan Allah kepadanya sangat jelas, dan dan dia mentaati apa yang Allah perintahkan kepadanya.
Allah memanggil Abraham untuk keluar dari negerinya karena Allah ingin menjadikan dia: (i) Memiliki negeri yang Allah janjikan (ii) bangsa yang besar, (iii) memiliki nama yang masyur, dan (iv) dipelihara dan diberkati. Lihatlah hal-hal yang akan diterima oleh Abraham: Tanah, Bangsa, Nama dan Pemeliharaan. Bukankah semua orang ingin ke-empat hal ini? tanah, rumah, tempat dimana kita bisa pulang. Ini semua adalah hal yang manusia ingin dapatkan dalam hidupnya, dan Allah memberikannya pada Abraham.
Tapi semua yang dijanjikan Allah kepada Abraham itu sesungguhnya bukan sekedar supaya dia jadi Tuan tanah dan berkuasa, tapi supaya Abraham menjadi berkat! Ternyata berkat-berkat yang Abraham terima itu bukan sekedar untuk dirinya tapi supaya lewat Abraham, yaitu namanya, kebesarannya, dan imannya, orang mendapatkan berkat yang sama dan melihat sumber berkat itu sendiri yaitu Allah. Lewat hidup Abraham, Allah menyatakan diri-Nya, sehingga orang melihat sumber berkat itu.
Kata “berkat” dalam pengertian Alkitab memang bisa berarti secara fisik dan secara rohani; secara materi dan secara imateri. Diberkati memang bisa berarti memiliki tanah, harta, dan kekayaan. Tapi maknanya bukan hanya itu. Ada berkat lain yang sama besarnya yaitu berkat secara rohani, yaitu berada dalam relasi yang erat dengan Allah. Bahkan sebenarnya diberkati secara rohani, jauh lebih berharga daripada diberkati secara materi. Karena orang yang diberkati secara rohani, akan bisa menikmati berkat-berkat materinya. Orang yang diberkati secara rohani adalah orang yang bisa merasakan kasih, penghiburan dan pemeliharaan Allah. Ketika anda memiliki iman dan hidup didalam iman itu, anda adalah orang yang diberkati! Apa gunanya punya banyak materi tapi kita tidak bisa merasakan cinta dan kasih Allah lewat semua itu? Tidak ada artinya bukan?
Itu sebabnya yang ditulis dalam Ibrani tentang Abraham, bukan tentang Abraham yang dapat tanah, dapat nama, dapat kebesaran dan kemasyuran, tapi Ibrani menulis “Karena Iman Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya…” (11:8) Apakah yang membuat Abraham menjadi berkat? bukan sekedar tanah, nama dan kebesaran. Tapi imannya yang meresponi Allah , dan bagaimana ia hidup dalam relasi yang dekat dengan Allah, itulah yang membuat ia menjadi berkat.
Sobat muda, sebenarnya bisa beribadah dan punya kesadaran untuk mempercayakan hidup kita kepada Tuhan saja itu sudah merupakan berkat, dan seharusnya itu memampukan kita juga menjadi berkat bagi orang lain. Orang sering berpikir, kalau kita punya harta dan materi, itu baru berkat. Padahal kalau kita tidak punya kesadaran rasa syukur pada Allah, sebanyak apapun materi yang kita punya, maka semua itupun tidak akan ada artinya, apalagi menjadi berkat buat orang lain. Tapi orang yang sadar betul bahwa hidupnya adalah anugrah Tuhan dan meyakini berkat yang berlimpah dalam hidup rohaninya, maka pastilah orang disekelilingnya akan merasa diberkati karena melihat Allah dalam hidupnya.
(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
(2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
(3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
Menjadi Berkat bagi sesama
Cerita ini di mulai dengan panggilan Allah kepada Abraham untuk pergi ke negeri yang Tuhan tunjukkan padanya. Alkitab hanya mencatat, Firman Tuhan kepada Abraham: “pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu…” dan seterusnya. Lihatlah betapa efektifnya panggilan Allah itu dalam diri Abraham, dan Abraham meresponinya tanpa syarat: “maka pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan”. Allah berinisiatif memanggil Abraham dan mengadakan suatu perjanjian yang besar dengannya. Tidakkah ini adalah hal yang luar biasa? Allah sang pencipta dan berkuasa, mau mengadakan perjanjian dengan ciptaann yang kecil. Abraham bukan siapa-siapa. Abraham tidak kenal siapa Allah sebelumnya, tapi penyataan Allah kepadanya sangat jelas, dan dan dia mentaati apa yang Allah perintahkan kepadanya.
Allah memanggil Abraham untuk keluar dari negerinya karena Allah ingin menjadikan dia: (i) Memiliki negeri yang Allah janjikan (ii) bangsa yang besar, (iii) memiliki nama yang masyur, dan (iv) dipelihara dan diberkati. Lihatlah hal-hal yang akan diterima oleh Abraham: Tanah, Bangsa, Nama dan Pemeliharaan. Bukankah semua orang ingin ke-empat hal ini? tanah, rumah, tempat dimana kita bisa pulang. Ini semua adalah hal yang manusia ingin dapatkan dalam hidupnya, dan Allah memberikannya pada Abraham.
Tapi semua yang dijanjikan Allah kepada Abraham itu sesungguhnya bukan sekedar supaya dia jadi Tuan tanah dan berkuasa, tapi supaya Abraham menjadi berkat! Ternyata berkat-berkat yang Abraham terima itu bukan sekedar untuk dirinya tapi supaya lewat Abraham, yaitu namanya, kebesarannya, dan imannya, orang mendapatkan berkat yang sama dan melihat sumber berkat itu sendiri yaitu Allah. Lewat hidup Abraham, Allah menyatakan diri-Nya, sehingga orang melihat sumber berkat itu.
Kata “berkat” dalam pengertian Alkitab memang bisa berarti secara fisik dan secara rohani; secara materi dan secara imateri. Diberkati memang bisa berarti memiliki tanah, harta, dan kekayaan. Tapi maknanya bukan hanya itu. Ada berkat lain yang sama besarnya yaitu berkat secara rohani, yaitu berada dalam relasi yang erat dengan Allah. Bahkan sebenarnya diberkati secara rohani, jauh lebih berharga daripada diberkati secara materi. Karena orang yang diberkati secara rohani, akan bisa menikmati berkat-berkat materinya. Orang yang diberkati secara rohani adalah orang yang bisa merasakan kasih, penghiburan dan pemeliharaan Allah. Ketika anda memiliki iman dan hidup didalam iman itu, anda adalah orang yang diberkati! Apa gunanya punya banyak materi tapi kita tidak bisa merasakan cinta dan kasih Allah lewat semua itu? Tidak ada artinya bukan?
Itu sebabnya yang ditulis dalam Ibrani tentang Abraham, bukan tentang Abraham yang dapat tanah, dapat nama, dapat kebesaran dan kemasyuran, tapi Ibrani menulis “Karena Iman Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya…” (11:8) Apakah yang membuat Abraham menjadi berkat? bukan sekedar tanah, nama dan kebesaran. Tapi imannya yang meresponi Allah , dan bagaimana ia hidup dalam relasi yang dekat dengan Allah, itulah yang membuat ia menjadi berkat.
Sobat muda, sebenarnya bisa beribadah dan punya kesadaran untuk mempercayakan hidup kita kepada Tuhan saja itu sudah merupakan berkat, dan seharusnya itu memampukan kita juga menjadi berkat bagi orang lain. Orang sering berpikir, kalau kita punya harta dan materi, itu baru berkat. Padahal kalau kita tidak punya kesadaran rasa syukur pada Allah, sebanyak apapun materi yang kita punya, maka semua itupun tidak akan ada artinya, apalagi menjadi berkat buat orang lain. Tapi orang yang sadar betul bahwa hidupnya adalah anugrah Tuhan dan meyakini berkat yang berlimpah dalam hidup rohaninya, maka pastilah orang disekelilingnya akan merasa diberkati karena melihat Allah dalam hidupnya.
November 4, 2010
Renungan: Berkubang dalam luka
Mazmur 147 : 1 - 6
147:1 Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.
147:2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai;
147:3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;
147:4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.
147:5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.
147:6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.
Berkubang dalam luka
Manusia bukan hanya terdiri dari hal yang fisik, yang kalau luka terasa sakit, tapi kita juga terdiri dari yang non-fisik, yang juga bisa dilukai, tentu tidak selalu dengan benda fisik. Luka yang sifatnya non-fisik itulah yang sering kita sebut sebagai luka batin, karena yang terluka memang ‘batinnya’, yang bahkan bisa membuat kita lebih merana daripadi luka fisik. Kadang sakit fisik lebih mudah diobati dari pada sakit hati. Separah-parahnya kita sakit, masih bisa ditelusuri: dicari bakterinya dimana, jenisnya apa, lalu ditelusuri antibiotic apa yang bisa membunuh bakteri itu. Tapi kalau didalam hati engkau menyimpan rasa sakit hati, kecewa dan dendam, antibiotik apa yang cocok?
Hari ini kita membaca bahwa Allah menyembuhkan orang-orang yang patah hati atau broken in heart dan membalut luka-luka mereka. “Orang-orang yang patah hati” dalam mazmur ini bukan sekedar orang yang punya luka batin karena disakiti orang lain atau rasa kecewa dan kepahitan karena peristiwa hidup yang berat. Memang orang-orang demikian termasuk didalamnya. Tapi yang paling mendasar dari orang yang “broken in heart” adalah orang yang patah hati karena dosa. Jadi mereka adalah orang yang merasa hancur hatinya karena menyadari dosanya. Hati mereka hancur karena mereka sadar bahwa dosa-dosa itu tidak berkenan di hadapan Allah. Orang yang hancur hatinya adalah orang yang sadar dirinya adalah pendosa. Allah akan memulihkan orang yang seperti ini.
Ketahuilah bahwa dalam setiap ‘luka’ yang anda rasakan entah itu rasa kecewa, sakit hati, tidak mau mengampuni, pasti ada unsur dosa didalamnya. Mungkin seseorang mengatakan “itu bukan dosa, karena aku korban! aku disakiti, aku dihina, aku dikhianati”. Lalu biasanya orang seperti ini akan membiarkan dirinya berkubang dalam luka-lukanya, tidak mau keluar dari rasa itu. Bukankah ketidak mampuan kita untuk memaafkan, ketidak sanggupan kita untuk menerima diri kita dan rasa dendam yang menguasai kita, semua itu adalah dosa? Tapi orang yang patah hatinya adalah orang yang mengaku bahwa didalam luka-lukanya ada dosa. Mereka adalah orang yang mengatakan “Tuhan aku begitu kecewa, aku begitu sakit hati, tapi aku tidak tahu harus bagaimana, balutlah luka-lukaku supaya aku lepas dari kekecewaan ini”
Orang yang “broken heart” didalam Mazmur ini adalah orang yang sadar dirinya hancur, dan mengaku bahwa dia membutuhkan Allah. Karena dia tahu dia tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri; dia tahu hanya Allah yang sanggup menyembuhkan dan memulihkan hidupnya. Kalau bintang di langit saja Allah yang menentukan jumlahnya dan nama-namanya, apalagi mengurus luka kita yang kecil ini? Kalau begitu, mengapa masih terus berkubang dalam luka-luka hidupmu?
147:1 Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.
147:2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai;
147:3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;
147:4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.
147:5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.
147:6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.
Berkubang dalam luka
Manusia bukan hanya terdiri dari hal yang fisik, yang kalau luka terasa sakit, tapi kita juga terdiri dari yang non-fisik, yang juga bisa dilukai, tentu tidak selalu dengan benda fisik. Luka yang sifatnya non-fisik itulah yang sering kita sebut sebagai luka batin, karena yang terluka memang ‘batinnya’, yang bahkan bisa membuat kita lebih merana daripadi luka fisik. Kadang sakit fisik lebih mudah diobati dari pada sakit hati. Separah-parahnya kita sakit, masih bisa ditelusuri: dicari bakterinya dimana, jenisnya apa, lalu ditelusuri antibiotic apa yang bisa membunuh bakteri itu. Tapi kalau didalam hati engkau menyimpan rasa sakit hati, kecewa dan dendam, antibiotik apa yang cocok?
Hari ini kita membaca bahwa Allah menyembuhkan orang-orang yang patah hati atau broken in heart dan membalut luka-luka mereka. “Orang-orang yang patah hati” dalam mazmur ini bukan sekedar orang yang punya luka batin karena disakiti orang lain atau rasa kecewa dan kepahitan karena peristiwa hidup yang berat. Memang orang-orang demikian termasuk didalamnya. Tapi yang paling mendasar dari orang yang “broken in heart” adalah orang yang patah hati karena dosa. Jadi mereka adalah orang yang merasa hancur hatinya karena menyadari dosanya. Hati mereka hancur karena mereka sadar bahwa dosa-dosa itu tidak berkenan di hadapan Allah. Orang yang hancur hatinya adalah orang yang sadar dirinya adalah pendosa. Allah akan memulihkan orang yang seperti ini.
Ketahuilah bahwa dalam setiap ‘luka’ yang anda rasakan entah itu rasa kecewa, sakit hati, tidak mau mengampuni, pasti ada unsur dosa didalamnya. Mungkin seseorang mengatakan “itu bukan dosa, karena aku korban! aku disakiti, aku dihina, aku dikhianati”. Lalu biasanya orang seperti ini akan membiarkan dirinya berkubang dalam luka-lukanya, tidak mau keluar dari rasa itu. Bukankah ketidak mampuan kita untuk memaafkan, ketidak sanggupan kita untuk menerima diri kita dan rasa dendam yang menguasai kita, semua itu adalah dosa? Tapi orang yang patah hatinya adalah orang yang mengaku bahwa didalam luka-lukanya ada dosa. Mereka adalah orang yang mengatakan “Tuhan aku begitu kecewa, aku begitu sakit hati, tapi aku tidak tahu harus bagaimana, balutlah luka-lukaku supaya aku lepas dari kekecewaan ini”
Orang yang “broken heart” didalam Mazmur ini adalah orang yang sadar dirinya hancur, dan mengaku bahwa dia membutuhkan Allah. Karena dia tahu dia tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri; dia tahu hanya Allah yang sanggup menyembuhkan dan memulihkan hidupnya. Kalau bintang di langit saja Allah yang menentukan jumlahnya dan nama-namanya, apalagi mengurus luka kita yang kecil ini? Kalau begitu, mengapa masih terus berkubang dalam luka-luka hidupmu?
October 5, 2010
Renungan: Pertobatan yang nyata terlihat buahnya
Lukas 3 : 8 - 17
3:8 Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
3:9 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api."
3:10 Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
3:11 Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
3:12 Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"
3:13 Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."
3:14 Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."
3:15 Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,
3:16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
3:17 Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."
Pertobatan yang nyata terlihat buahnya
Di sekeliling kita banyak barang palsu, nampaknya asli tapi sebenarnya sebuah tiruan. Orangpun senang membeli barang-barang tiruan tersebut yang hadir dalam bentuk perhiasan, baju, tas, dan lain sebagainya. Tapi namanya juga barang tiuran, tetap saja barang tiruan, biarpun bagusnya seperti bentuk aslinya. Manusia pun sudah banyak yang tidak asli, tapi penuh kepalsuan. Misalnya anda tersenyum didepan seseorang, tapi sebenarnya anda sendiri sedang ada kekesalan dengan orang tersebut dan memilih pura-pura tersenyum didepanya. Ini bukan respon yang otentik. Banyak orang Kristen tidak otentik, nampaknya saja asli karena melakukan semua kehidupan ritual di depan publik dengan nyata: ke gereja, ibadah dengan khusuk, memberikan persembahan, dan bernyanyi dengan semangat. Tapi sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh, karena respon-respon dalam hidupnya tidak menunjukkan karakter Kristen yang sejati.
Pertobatan juga ada yang asli dan tidak asli, nampaknya saja bertobat, menyesal, minta ampun, tapi dalam hatinya tidak ada perubahan apa-apa. Itu sebabnya Yohanes berteriak supaya orang Israel, sebagai orang yang sudah mengenal Allah, yang bahkan mengaku keturunan Abraham dan mengikat perjanjian dengan Allah, bertobat. Bahkan dalam catatan Matius, disebutkan bahwa yang datang diantara orang-orang itu adalah pemuka agama dan pemimpin masyarakat: orang farisi dan orang saduki. Lalu Yohanes bilang “ hai kamu keturunan ular beludak, siapa bilang kamu dapat melarikan diri dari murka Allah?”. Keturunan ular beludak disini maksudnya adalah orang yang hatinya terpaut pada Iblis dan yang dipenuhi dengan kejahatan, yaitu mereka yang ada dalam keturunan dosa.
Itu berarti Yohanes mau bilang, bahwa tidak berarti kalau seorang ahli agama, dan pemuka masyarakat, bisa lari dari hadapan Tuhan. Orang yang sudah jadi pemuka agama saja, menurut Yohanes harus bertobat dan menunjukkan buah pertobatan. Banyak orang yang sering ke gereja, yang merasa sudah melayani banyak, merasa sudah aman, pasti masuk surga, lalu justru hidup seenaknya aja. Padahal seorang yang sungguh-sungguh Kristen dan sungguh-sungguh bertobat, harus memperlihatkan buahnya. Buahnya itu harus yang otentik, bukan yang palsu dan yang pura-pura, tapi yang sungguh-sungguh. Orang yang sungguh-sungguh bertobat, responnya akan berbeda dengan orang yang pertobatannya hanya pura-pura.
Pertobatan yang sejati menuntut adanya buah. Pertama , Pertobatan yang sejati akan membawa perubahan yang nyata dan menyeluruh dalam hidup seseorang yang dimulai dari hati. Semua memang bermula dari perubahan hati. Karena hati itu pusat hidup dan pusat dari mana segala kehendak dimulai dan keinginan diwujudkan. Kalau hati sudah bertobat, maka seluruh hidup akan terbawa mengalami perubahan juga. Pertobatan dimulai dari yang di dalam, lalu bergerak keluar menjadi sikap, nilai dan perlaku; bukan sebaliknya. Kedua , Pertobatan bukan hanya membawa perubahan di dalam diri kita sendiri secara pribadi, tapi juga membawa perubahan dalam hidup kita dengan orang lain. Jadi dampak pertobatan itu pasti harusnya terasa dan dirasakan oleh orang lain. Yohanes mengatakan, “ kalau kamu punya 2 helai baju, hendaklah ia membagi dengan yang punya.. .kalau kamu pemungut cukai, jangan menagih lebih banyak dari yang ditentukan… kalau kamu tentara, jangan merampas dan jangan memeras orang lain…” Itu berarti pertobatan seseorang bukan hanya mengubah hati, tapi relasi kita dengan orang lain juga jadi lebih baik karena hati yang sudah bertobat, akan punya belas kasihan dan kemauan untuk berbuat yang baik bagi sesamanya.
Bagaimana teman… Sudahkah buah pertobatanmu nyata?
3:8 Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
3:9 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api."
3:10 Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
3:11 Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
3:12 Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"
3:13 Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."
3:14 Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."
3:15 Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,
3:16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
3:17 Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."
Pertobatan yang nyata terlihat buahnya
Di sekeliling kita banyak barang palsu, nampaknya asli tapi sebenarnya sebuah tiruan. Orangpun senang membeli barang-barang tiruan tersebut yang hadir dalam bentuk perhiasan, baju, tas, dan lain sebagainya. Tapi namanya juga barang tiuran, tetap saja barang tiruan, biarpun bagusnya seperti bentuk aslinya. Manusia pun sudah banyak yang tidak asli, tapi penuh kepalsuan. Misalnya anda tersenyum didepan seseorang, tapi sebenarnya anda sendiri sedang ada kekesalan dengan orang tersebut dan memilih pura-pura tersenyum didepanya. Ini bukan respon yang otentik. Banyak orang Kristen tidak otentik, nampaknya saja asli karena melakukan semua kehidupan ritual di depan publik dengan nyata: ke gereja, ibadah dengan khusuk, memberikan persembahan, dan bernyanyi dengan semangat. Tapi sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh, karena respon-respon dalam hidupnya tidak menunjukkan karakter Kristen yang sejati.
Pertobatan juga ada yang asli dan tidak asli, nampaknya saja bertobat, menyesal, minta ampun, tapi dalam hatinya tidak ada perubahan apa-apa. Itu sebabnya Yohanes berteriak supaya orang Israel, sebagai orang yang sudah mengenal Allah, yang bahkan mengaku keturunan Abraham dan mengikat perjanjian dengan Allah, bertobat. Bahkan dalam catatan Matius, disebutkan bahwa yang datang diantara orang-orang itu adalah pemuka agama dan pemimpin masyarakat: orang farisi dan orang saduki. Lalu Yohanes bilang “ hai kamu keturunan ular beludak, siapa bilang kamu dapat melarikan diri dari murka Allah?”. Keturunan ular beludak disini maksudnya adalah orang yang hatinya terpaut pada Iblis dan yang dipenuhi dengan kejahatan, yaitu mereka yang ada dalam keturunan dosa.
Itu berarti Yohanes mau bilang, bahwa tidak berarti kalau seorang ahli agama, dan pemuka masyarakat, bisa lari dari hadapan Tuhan. Orang yang sudah jadi pemuka agama saja, menurut Yohanes harus bertobat dan menunjukkan buah pertobatan. Banyak orang yang sering ke gereja, yang merasa sudah melayani banyak, merasa sudah aman, pasti masuk surga, lalu justru hidup seenaknya aja. Padahal seorang yang sungguh-sungguh Kristen dan sungguh-sungguh bertobat, harus memperlihatkan buahnya. Buahnya itu harus yang otentik, bukan yang palsu dan yang pura-pura, tapi yang sungguh-sungguh. Orang yang sungguh-sungguh bertobat, responnya akan berbeda dengan orang yang pertobatannya hanya pura-pura.
Pertobatan yang sejati menuntut adanya buah. Pertama , Pertobatan yang sejati akan membawa perubahan yang nyata dan menyeluruh dalam hidup seseorang yang dimulai dari hati. Semua memang bermula dari perubahan hati. Karena hati itu pusat hidup dan pusat dari mana segala kehendak dimulai dan keinginan diwujudkan. Kalau hati sudah bertobat, maka seluruh hidup akan terbawa mengalami perubahan juga. Pertobatan dimulai dari yang di dalam, lalu bergerak keluar menjadi sikap, nilai dan perlaku; bukan sebaliknya. Kedua , Pertobatan bukan hanya membawa perubahan di dalam diri kita sendiri secara pribadi, tapi juga membawa perubahan dalam hidup kita dengan orang lain. Jadi dampak pertobatan itu pasti harusnya terasa dan dirasakan oleh orang lain. Yohanes mengatakan, “ kalau kamu punya 2 helai baju, hendaklah ia membagi dengan yang punya.. .kalau kamu pemungut cukai, jangan menagih lebih banyak dari yang ditentukan… kalau kamu tentara, jangan merampas dan jangan memeras orang lain…” Itu berarti pertobatan seseorang bukan hanya mengubah hati, tapi relasi kita dengan orang lain juga jadi lebih baik karena hati yang sudah bertobat, akan punya belas kasihan dan kemauan untuk berbuat yang baik bagi sesamanya.
Bagaimana teman… Sudahkah buah pertobatanmu nyata?
Subscribe to:
Posts (Atom)