February 12, 2010

Renungan: Selalu Ingat Siapa Dirimu

2 Korintus 5:17

(17) Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.


Selalu ingat siapa dirimu

Ada banyak pemimpin yang kita hormati dan junjung tinggi dalam hidup kita, tapi adakah diantara mereka yang begitu dihormati dan disembah sampai kita dapat mengatakan bahwa kita ada “di dalam dia”? Sehebat apapun kuasa seseorang atas hidup orang lain, tapi tidak ada yang dapat meng-klaim bahwa orang lain ada “di dalam” dia. Paulus mengatakan “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru”. Arti “di dalam” harus kita mengerti sebagaimana Alkitab mengungkapkannya secara simbolis pada bagian-bagian lain.

Adam sebagai manusia yang pertama, telah jatuh dalam dosa. Di dalam Adam kitapun diturunkan sebagai manusia berdosa. Seorang Adam telah membuat seluruh manusia jatuh dalam dosa. Demikian juga halnya di dalam Kristus, yang kemudian berdiri sebagai Juruselamat yang menanggung hukuman atas dosa manusia, sehingga di dalam Kristus manusia memperoleh keselamatan dan terbebas dari dosa. Di dalam Kristus berarti di dalam kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, manusia memperoleh keselamatan kekal. Mungkin gambaran yang sedikit lebih mudah dimengerti ada dalam cerita Nuh. Bahtera Nuh adalah prototype Kristus. Di dalam bahtera itu Nuh memasukkan keluarganya dan segala mahluk hidup lainnya, sehingga semua yang ada dalam bahtera itu selamat dari hukuman air bah atas dunia dan isinya ini. Dalam Perjanjian Baru, Kristus menggambarkan hal ini sebagai pohon anggur, dimana Dia adalah Pokok Anggur itu sendiri. Karena pokok anggur inilah maka setiap ranting akan berbuah dengan baik. Di luar Pokok anggur ini ranting-ranting tidak akan menghasilkan apa-apa.

Di dalam Kristus kita menjadi satu dengan kematian-Nya dan kebangkitan-Nya sehingga kita memiliki hidup yang baru: menjadi ciptaan baru. Ada banyak penemuan didalam hidup kita yang kita kagumi, tapi Tuhan Allah menciptakan 2 hal yang paling dahsyat dari pada semua ciptaan dan penemuan, karena tidak ada yang sanggup meniru perbuatan Allah ini. Ciptaan yang pertama adalah ketika Dia mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Ciptaan yang kedua adalah ketika manusia lama kita disalibkan bersama Kristus dan didalam kebangkitan Kristus mengalami hidup yang baru atau manusia baru. Ini adalah dua ciptaan yang terbesar yang hanya Allah yang bisa melakukannya.

“Ciptaan baru” adalah karakteristik orang yang ada di dalam Kristus. Ciptaan yang baru ini menunjukan adanya suatu perubahan yang radikal dari yang lama menjadi baru, sedemikian rupa sehingga yang lama itu tidak terlihat lagi, diganti yang baru. Dalam manusia lama kita, dosa menjadi gaya tarik yang sangat kuat, sehingga kita diperintah bahkan diperbudak oleh dosa. Sedangkan sekarang ketika di dalam Kristus kita menjadi ciptaan baru maka kita hidup “dipimpin” oleh Roh Kudus. Roh didalam hati kita menjadi gravitasi yang terbesar, yang menuntun kita kepada apa yang baik, yang berkenan di hadapan Allah.

Masalahnya seringkali seseorang yang sudah mengaku lahir baru dan menjadi ciptaan baru, tapi masih melakukan kebiasaannya yang lama dan hidup seakan-akan tidak mengenal Kristus. Mungkinkah hal ini terjadi? Mungkin saja. Analogi yang sama adalah seperti seorang pria yang sudah menikah tapi hidup seakan-akan masih bujangan, tidak mengingat istrinya, dan hidup bersenang-senang dengan teman-temannya sendiri. Baiklah setiap orang mengingat siapa dirinya, bahwa dia adalah orang yang sudah diciptakan kembali di dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Kita perlu mengkoreksi diri kita sekali lagi, bila kita sudah di dalam Kristus dan menjadi ciptaan baru, mengapa kita masih sering bersikap seperti manusia lama yang tidak di dalam Kristus?

The duke of Windsor salah satu ahli waris kerajaan Inggris yang meninggal tahun 1972, menceritakan tentang masa kecilnya. Menurutnya, ayahnya: Raja Goerge V adalah orang tua yang sangat disiplin mendidik dia. Kadang ketika Duke of Windsor berbuat salah, Bapaknya hanya berkata: “my dear boy, you must always remember who you are

Sobat muda, ingatlah siapa kita: yaitu orang yang sudah ditebus dengan darah yang mahal, yang sudah mati bagi dosa dalam kematian Kristus, yang juga dalam pengalaman yang sama dengan kebangkitan Kristus, sehingga kita dianugrahi hidup yang baru.

February 10, 2010

Renungan: Tuhan Memandang Hati, Bukan Parasnya


1 Samuel 16:4-13

(4) Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?"

(5) Jawabnya: "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

(6) Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."

(7) Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

(8) Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."

(9) Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."

(10) Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."

(11) Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."

(12) Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."

(13) Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.


Tuhan Memandang Hati, bukan parasnya

Samuel ditugaskan Allah untuk mengurapi raja baru, yang akan menjadi orang nomor satu di Israel memimpin bangsa itu. Dalam benaknya Samuel sudah memiliki persepsi dan perkiraan seperti apakah profil seorang yang akan diurapi menjadi raja itu. Tentulah profil yang ada didalam benak Samuel adalah orang yang sebelumnya pernah Ia lihat dan dengar, yang terdekat tentunya adalah Saul. Semua orang pada waktu itu tentunya memiliki pemahaman yang mirip-mirip tentang siapakah raja pada umumnya. Dia harus seseorang dengan perawakan yang kuat karena seorang raja sudah seharusnya memimpin perang. Dia harus terlihat elok, karena dirinya secara utuh akan menjadi simbol kekuasan tertinggi di tengah negerinya. Dan mungkin ada banyak lagi pemahaman umum yang orang pikirkan tentang raja.

Itu juga yang terjadi pada Samuel. Di dalam benaknya dia sudah punya persepsi tentang profil seorang raja. Pada waktu Eliab muncul, dia berseru dalam hatinya, “..ini dia..!”. Tapi saat itu Allah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada Samuel, suatu prinsip yang harusnya dimiliki bukan hanya bagi seorang pemimpin rohani seperti Samuel tapi juga semua orang. Allah mengatakan “ Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati” Manusia memang mudah sekali tertarik dengan apa yang dilihat dengan matanya. Bahkan kita sering mengukur dan menilai orang lain hanya berdasarkan penampilan fisiknya. Persepsi kita berbicara dan memberikan nilai pada kita tentang apa artinya kulit berwarna hitam, putih dan kuning; apa artinya muka yang selalu serius atau tersenyum manis; apa artinya nada suara yang tinggi, rendah, dan kuat atau lembut; apa artinya pakaian yang mewah atau sederhana, dan lain sebagainya.

Orang menilai kita berdasarkan warna kulit, muka, perawakan, baju yang kita pakai, cara kita berbicara, dan lainnya yang kita tampilkan. Tapi seringkali kita juga terkecoh dengan penglihatan kita akan orang lain. Ada orang yang sepertinya baik dan senyumnya indah, tapi ternyata menjadi orang yang menipu kita. Ada orang yang kita pikir keras dan tidak peduli pada orang lain, ternyata menjadi satu-satunya orang yang menolong kita. Kita memang banyak hidup dalam persepsi, dan seringkali kita mandasari pemahaman tentang orang lain berdasarkan persepsi itu. Itulah yang sering menimbulkan kecurigaan dan kesalahmengertian, bahkan dinding yang tebal didalam komunitas untuk bisa saling mengenal dan menghargai satu sama lain.

Tidak demikian cara Allah melihat dan menilai kita. Allah melihat kepada hati. Mengapa hati? Karena hati adalah pusat yang menentukan seluruh perilaku kita. Keadaan hati kita akan tercermin dalam seluruh tingkah laku dan perkataan kita. Karena penilaiannya ada pada hati, maka pilihan Allah ini menjadi seperti tidak cocok dengan seluruh kriteria yang ada dalam pikiran Samuel tentang profil ideal seorang raja. Bukannya orang yang memiliki perawakan hebat dan tangguh, Allah malah memilih Daud yang terkecil dan termuda dari anak-anak Isai. Penampilan Daud sama sekali tidak mirip seorang petarung apalagi Raja, sampai-sampai Goliath menghina dia karena mukanya yang halus dan kemerah-merahan.

Sobat muda, Alkitab memberikan kesaksian bahwa Allah memang sering memilih orang-orang yang sepertinya tidak diperhitungkan. Dia memilih Rahab seorang perempuan pelacur untuk menyelamatkan orang Israel. Dia memilih Yefta yang memiliki masa lalu yang kelam dengan dibesarkan ditengah-tengah kumpulan perampok untuk memimpin orang Israel. Bahkan diantara banyak bangsa yang lebih maju dan beradab, Allah malah memilih keturunan Abraham yang saat itu hanyalah sekumpulan budak-budak yang dibawa Allah keluar dari Mesir dan menjadi bangsa Israel- Umat Allah.

Siapapun kita dan apapun yang orang pikirkan tentang kita, bersykurlah karena Tuhan tidak melihat kita seperti umumnya manusia melihat kita. Siapapun kita, kalau hati kita sungguh-sungguh dipersembahkan bagi Tuhan, maka di tangan-Nya kita akan menjadi apa saja seturut kehendak-Nya.

January 4, 2010

Renungan: Menjadi Besar dengan Cara Melayani

Matius 20 : 26 - 28

20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."


Menjadi Besar dengan Cara Melayani

Tahun yang baru, resolusi yang baru! Itulah yang biasanya kita pikirkan ketika memasuki tahun yang baru. Paling tidak kita akan menetapkan resolusi yang lebih baik atau pencapaian yang lebih tinggi lagi dari pada tahun lalu. Boleh kah kita punya keinginan menjadi orang yang lebih besar dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar juga? Bolehkah di tahun yang baru ini kita ingin menjadi orang yang lebih hebat dari tahun yang lalu? Tentu boleh, bahkan seharusnya demikian. Di awal tahun yang baru ini kita harus punya keinginan untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dari apa yang tahun lalu sudah kita buat.

Kalau anda seorang karyawan, anda harus meningkatkan kinerja yang lebih baik lagi dengan disiplin yang lebih tinggi dan target2 kerja yang lebih besar. Kalau anda seorang guru atau dosen, anda harus memperbaharui kuliah yang anda sampaikan dan mengembangkan metode baru yang efektif dalam pembelajaran. Kalau anda seorang pemimpin, anda harus menemukan inovasi baru yang menggairahkan orang-orang yang anda pimpin untuk menjadi lebih efektif lagi. Kalau anda seorang pelayan Tuhan di gereja, maka anda juga harus memikirkan pekerjaan yang lebih besar, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar yang bisa engkau ambil, lebih besar dari tahun yang lalu.

Tuhan Yesus mengatakan “ Barang siapa ingin menjadi besar diantara kamu…” Itu berarti tidak salah untuk menjadi besar. Tapi yang Tuhan peringatkan disini adalah ‘cara’ yang dilakukan untuk menjadi besar. Apa yang “besar” dalam konsep kerajaan Allah ternyata berbeda dengan konsep dunia ini mengejar untuk menjadi besar. Bila kita, atau ketika kita ingin menjadi besar, maka ada cara tertentu yang Tuhan sudah tetapkan dan tidak ada cara lain untuk mencapai kebesaran itu.

Dunia ini mengajarkan pada kita bagaimana cara untuk mencapai sukses dan besar. Kenyataan memperlihatkan pada kita, orang saling sikut untuk bisa mencapai kedudukan tertentu, saling fitnah dan menjatuhkan supaya bisa menduduki posisi tertentu. Orang harus mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya untuk mencapai suatu ukuran kesuksesan. Itulah pembelajaran yang seringkali diberikan oleh dunia ini.

Tapi Tuhan punya cara sendiri yang seharus dilakukan oleh warga kerajaan Allah yang mengejar kebesaran, yaitu: Yang menjadi besar adalah dia yang melayani.

Menjadi pelayan itu berarti menjadi hamba, atau dalam tatanan masyarakat pada waktu itu disebut budak. Budak itu hidupnya hanya bekerja memberi pelayanan bagi orang lain tanpa ada kredit sedikitpun diberikan padanya. Bahkan orang tidak bilang “terima kasih” pada budak, dan seorang budak tidak terpikirkan oleh nya untuk menuntut apresiasi dari orang yang dia layani. Sekarang Tuhan mengatakan yang terbesar adalah orang yang menempatkan dirinya sebagai budak ditengah sesamanya.

Maksud Tuhan tentu bukan supaya murid-murid semua menjadi budak dan di jual ke pasar, karena Tuhan pun hadir dalam komunitas saat itu dalam format atau status sebagai guru, bukan budak. Yang dimaksud disini adalah, menjadi hamba yang melayani harus menjadi suatu format cara pikir kita dalam melakukan apa saja, sehingga melayani menjadi paradigma hidup. Apapun profesi yang kita kerjakan, apapun tanggung jawab yang sedang kita pegang, seharusnya kita lakukan dengan hati yang “melayani”. Kita sering berpikir sempit tentang apa yang disebut “melayani” seakan hanyalah sebatas aktifitas dan kedudukan di gereja. Padahal ‘melayani’ harus menjadi cara hidup dalam keseluruhan hidup kita. Kalau anda seorang karyawan, maka bekerjalah sebagai seorang yang melayani, yang memberikan terbaik dari apa yang anda bisa lakukan. Dengan cara itulah kita menjadi orang yang “besar”. Bukankah kalau kita bekerja sungguh-sungguh, belajar sungguh-sungguh, dan memberikan yang terbaik , maka kita juga akan mendapatkan”upah” yang baik juga? Tapi semua upah itu adalah bonus, bukanlah tujuan atau goal. Tujuan hidup kita adalah melayani Tuhan.

Anda mau menjadi besar? Ayo kerjakan hal-hal yang besar, tapi dengan cara dan motivasi yang benar, yaitu dengan hati yang melayani.

December 23, 2009

Renungan: Herodes, manusia yang haus akan kuasa

Matius 2 : 13 - 23

2:13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia."

2:14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,

2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."

2:16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

2:17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:

2:18 "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."

2:19 Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya:

2:20 "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati."

2:21 Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.

2:22 Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea.

2:23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.


Herodes, manusia yang haus akan kuasa

Dunia tempat kita berada ini adalah dunia yang penuh dengan kuasa. Dimana-mana orang ingin berkuasa. Banyak orang berpikir bahwa semakin dia memiliki banyak maka semakin dia lebih berkuasa lagi. Dunia ini mengajarakan bahwa kalau kita tidak berkuasa, maka kita akan dikuasai; itu saja masalahnya. Ke dalam dunia yang seperti inilah Tuhan Yesus lahir. Ketika Ia lahir, Bayi Yesus sudah dihadang oleh seorang Herodes!

Herodes adalah tipikal orang yang haus akan kekuasaan, bahkan gila kuasa. Dia memerintah dengan tangan besi. Konon dia tega membunuh keluarganya sendiri untuk mempertahankan kekuasaannya, bahkan siapapun yang menghalangi dia, akan dibunuh. Herodes disebut-sebut sebagai raja, tapi sebenarnya Herodes bukanlah orang Jahudi, dia adalah orang Edom, dia dijadikan oleh orang Romawi yang waktu itu menjajah orang Israel, sebagai raja boneka. Dalam hatinya sebenarnya dia tahu bahwa dia bukanlah raja orang Jahudi yang sesungguhnya.

Ketika Yesus lahir, Herodes sudah memerintah lebih dari 30 tahun, tapi dia tetap semangat mempertahankan kekuasaannya. Dalam keadaan dirinya sudah tua, dia tahu dia sudah banyak bunuh orang, dan banyak orang berharap dia mati. Tiba-tiba dia mendengar berita bahwa seorang bayi telah lahir dan akan jadi raja orang Israel. Tentu berita ini membuat Herodes gelisah, takut, bahkan sakit hati dan berusaha menekan perasaannya dengan kemarahannya.

Disini Tuhan hadir sepertinya dalam keadaan tidak berdaya: betapa kecilnya Yesus di tangan Herodes yang dengan ringan memerintah utuk membunuh bayi-bayi. Kristus lahir seakan tidak berdaya, lemah,diombang-ambing oleh penguasa dan harus terdesak keluar dari Betlehem, lari ke mesir. Tapi justru itulah plot yang memang harus terjadi, lari ke Mesir dan kembali setelah Herodes meninggal. Semua itu sudah dinubuatkan dan sudah direncanakan. Justru yang disaksikan oleh Matius adalah kuasa Allah yang mengatur segalanya. Pekerjaan Tuhan disini jelas sekali. Semua plot yang terjadi ini bukan kebetulan, karena Allah sudah melihatnya terlebih dulu. Allah tidak pernah kehilangan kendali, bahkan Allah memegang kendali segalanya, dan tidak satupun yang menguasai Tuhan Yesus: tidak dosa, tidak Herodes, atau kuasa lainnya.

Sobat muda, cerita kelahiran Kristus menunjukkan kuasa Allah yang nyata di bumi. Kristus memang datang sebagai bayi, tapi Dia datang sebagai Raja, yang dipenuhi oleh kemuliaan Raja. Kalau Kristus datang sebagai Raja, maka biarlah sekarang kita juga mengerti bahwa hanya Tuhan Yesus yang berkuasa atas kita, bukan uang, bukan kedudukan, dan bukan diri kita sendiri. Hidup harus dikuasai oleh Kristus. Dia hadir sebagai Tuhan yang artinya sebagai penguasa dalam hidup kita.

Apakah yang menguasai hidupmu saat ini? Banyak orang masih dikuasai hawa nafsunya dan dikuasai dirinya sendiri. Ketika kita merayakan natal, ingatlah bahwa Kristus sungguh hadir dan menguasai hidup kita. Jangan biarkan apapun atau siapapun memegang kendali atas diri kita selain Dia yang memiliki hidup kita.

December 21, 2009

Renungan: Yesus Kristus Raja Damai

Yesaya 9 : 5

9-5 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.


Yesus Kristus Raja Damai

Semua orang menginginkan kedamaian lebih dari pada keinginan lainnya. Banyak orang akan setuju, bahwa ketimbang materi lebih baik memiliki kedamaian. Karena kita mengartikan ‘damai’ sebagai suatu kondisi dimana tidak ada konflik, kekacauan, ketakutan, dan penderitaan; yang ada adalah kesejahteraan, keselarasan, dan keutuhan. Siapa yang tidak mau kondisi seperti itu?

Negeri kita memang tidak sedang dilanda perang seperti yang terjadi di belahan dunia lain. Tapi bila kita melihat sekeliling kita, tidak habis-habisnya konflik berkecamuk di negeri ini; konflik antar kelompok, perorangan bahkan antar institusi dan lembaga. Kejahatan meningkat terus dalam berbagai bentuk yang membuat kita selalu hidup dalam kekuatiran dan ketakutan. Media TV bahkan menghadirkan kekacauan itu di ruang tamu kita, yang membuat kita sadar bahwa tidak ada tempat atau sudut yang damai di dalam dunia kita. Banyak orang mencari kedamaian dan mengupayakan sedemikian rupa, tapi sering kali usaha itu tidak berhasil karena dipatahkan lagi oleh kejahatan dan keserakahan manusia.

Yesaya mengatakan bahwa Mesias itu akan disebut orang Raja damai. Kedamaian yang Tuhan Yesus berikan adalah kedamaian yang bukan datang dari dunia ini atau seperti yang diupayakan manusia. Tuhan mengatakan “Damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera kuberikan kepadamu, dan apa yang kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu…” (Yohanes 14:27) Tuhan Yesus mengatakan ini sebagai peringatan kepada Murid-murid bahwa mereka akan menghadapi berbagai pencobaan, tapi Tuhan menjanjikan kedamaian di hati mereka yang akan memberikan kekuatan. Makna kedamaian yang Tuhan berikan memang berbeda dari apa yang orang sering upayakan. Seperti apakah dunia ini mengajarkan kita bagaimana mengejar kedamaian? Kalau terjadi konflik dalam rumah tangga, cerai saja. Kalau orang berbuat jahat, balas saja. Kalau merasa bosan, pergi saja. Kalau ada masalah, lari saja. Kalau merasa kurang, cari saja. Itulah pemikiran tentang pencarian damai yang dilakukan dunia ini. Cara pikir dunia tentang damai adalah ketika tidak ada konflik, tidak ada penindasan, dan tidak ada kekacauan. Tapi “damai” yang Tuhan Yesus berikan tidak demikian. Justru Tuhan Yesus menjanjikan kedamaian di dalam hati kita bahkan ketika konflik, penindasan dan kekacauan itu masih berlangsung di sekitar kita.

Orang Jahudi menyebut damai itu sebagai “shalom” dan orang Kristen di Indonesia sekarang sering menyebut kata ini. “Shalom” adalah kata yang kaya sekali yang didalamnya mengandung makna suatu “keutuhan” dan “lengkap”. Damai yang Kristus berikan akan membuat hidup kita utuh, lengkap dan tidak kekurangan apapun. Dengan demikian, penderitaan tidak membuat kita jadi merasa ‘kurang’, konflik tidak membuat kita jadi jahat, kejahatan orang lain tidak membuat kita jadi berbuat dosa, kekacauan tidak membuat kita jadi takut. Kedamaian yang Tuhan letakkan di dalam hati kita membuat kita dapat tetap dalam keadaan ‘damai’: damai dengan Allah, damai dengan diri sendiri, bahkan damai dengan sesama kita.

Banyak orang masih mencari damai di dunia ini, padahal damai yang sesungguhnya hanya bisa kita temukan di dalam Tuhan Yesus. Dia membawa kita berdamai dengan Allah sehingga kita mendapatkan kasih anugrahNya. Dia membawa damai di dalam hati kita sehingga kita juga berdamai dengan diri sendiri dan orang lain.

Sobat muda, temukan damai yang sejati di dalam Kristus, bukan di dalam dunia ini.

December 14, 2009

Renungan: Penasehat Ajaib

Yesaya 9 : 6

9:6 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.


Penasehat Ajaib

Seringkali kita mengahadapi pilihan-pilihan yang membingunkan dalam hidup kita, atau masalah-masalah yang sangat pelik untuk dapat diselesaikan. Dalam kebingungan itu biasanya kita akan mencari seseorang yang akan memberikan kita petunjuk, nasihat ataupun pencerahan supaya kita dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Kadang masalah hidup terlalu berat dan pilihannya terlalu sulit sehingga pencerahan apapun tetap membuat jalan kita terasa gelap. Dunia ini memang semakin gelap.

Kegelapan itulah yang juga dirasakan oleh Yesaya ketika dia melihat sekelilingnya. Yesaya melihat kondisi orang Israel yang hatinya gelap karena lebih suka berbuat dosa, pemimpin-pemimpin yang hatinya juga busuk dan bahkan lebih lagi menyusahkan rakyat yang mereka pimpin. Ditengah kegelapan itu Yesaya menyampaikan pesan Allah bahwa akan lahir ditengah-tengah gelapnya dunia ini seorang “Penasihat yang ajaib”. Tentu ini janji yang sangat melegakan.

Orang Israel mengerti arti Allah yang ajaib yang sanggup melakukan apa saja. Mazmur 78:12 mengatakan “Dihadapan nenek moyang mereka dilakukanNya keajaiban-keajaiban di tanah Mesir”. Sekarang Yesaya mengatakan menyatakan secara khusus kata “ajaib” menjadi sebutan bagi anak yang akan lahir di tengah Israel dan menjadi “Penasihat ajaib”. Yesaya menunjuk sebutan ini kepada Mesias yaitu Tuhan Yesus yang lahir di tengah dunia.

Ada beberapa karakteristik “Penasihat ajaib” yang nyata dalam diri Kristus.

Pertama, seorang penasihat akan selalu bekerja secara langsung terhadap yang dinasihatkannya dalam percakapan, pendampingan dan relasi yang dekat. Mesias itu datang menghampiri manusia dan menjadi manusia dan hidup ditengah manusia. Begitulah Tuhan menjadi penasihat yang ajaib dalam hidup kita dengan membiarkan kita masuk dalam relasi denganNya.

Kedua, seorang penasihat memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan orang yang dinasihatinya. Puji Tuhan, di tengah jaman yang gelap ini, kita punya “the wonderful counselor”, yang memimpin dan mencerahkan kita dalam pengambilan keputusan-keputusan yang penting.

Ketiga, seorang penasihat harus mengerti betul apa yang disampaikannya dan tahu persis kondisi orang yang dinasihatinya. Penasihat yang ajaib ini bahkan telah turun menjadi manusia dan merasakan artinya menderita, terhimpit, dan ditekan penguasa dalam ketidak adilan. Dia tahu persis dan mengerti setiap pergumulan yang kita alami, karena Dia pun pernah mengalaminya.

Tapi ada 2 hal yang harus kita miliki supaya “Penasihat yang ajaib” sungguh kita alami secara pribadi; kita harus memiliki “trust and obey” atau percaya dan taat. Sebab pergi kepada konselor tidak ada gunanya kalau kita tidak taat melakukakan apa yang yang dia katakan. Sama saja anda pergi ke dokter lalu mendapatkan resep obat, tapi anda tidak menebus obat anda sendiri; apa artinya pergi ke dokter?

Sobat,, kemanakah engkau mencari nasihat untuk langkah-langkah hidupmu? Datanglah padaNya, Penasihat yang ajaib. BersamaNya tidak ada yang mustahil!

December 11, 2009

Renungan: Menjadi Laki-Laki yang Allah Inginkan

Kejadian 3 : 6

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

Hakim - Hakim 4 : 7 - 8

4:7 dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu."

4:8 Jawab Barak kepada Debora: "Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju."

1 Timotius 6 : 11

6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.


Menjadi Laki-Laki yang Allah Inginkan

Kita memang hidup didalam budaya dengan patriakal yang kuat. Pejuang perempuan sering bilang bahwa perempuan hidup didalam dunia laki-laki. Laki-laki dari kecil sudah menyadari perbedaan kelas yang dimilikinya dengan perempuan. Di rumah dia diperlakukan lebih istimewa dari saudara perempuannya. Orang tuanya selalu mengatakan “kamu kan anak laki….”

Tanpa disadari laki-laki menjadi bertumbuh kesadarannya bahwa memang dia lebih dari perempuan, dan perempuan bergantung padanya. Itu sebabnya pada umumnya laki-laki lebih senang bila perempuan bermanja-manja dengannya, dan melihat betapa perempuan itu membutuhkannya. Entah kondisi social ataupun kondisi psikologis yang membentuknya, tapi pada umumnya gambaran seorang laki-laki seringkali ditampilkan dengan karakteristik : kuat, berkuasa, punya harga diri, berotoritas, dan mandiri.

Tapi bagaimana potret laki-laki yang diinginkan Allah? Allah menciptakan laki-laki dan perempuan berbeda dan unik. Sekali lagi tidak berarti ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih rendah. Tapi dengan adanya 2 dan berbeda, tentu Allah punya maksud yang unik, yang Dia ingin lihat dalam diri seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kita diciptakan bukan dengan “sexless spirit” tapi kita masing-masing laki-laki dan perempuan yang berbeda, dan dengan mengerti masing-masing maka kita bisa menjalin komunikasi yang baik, dan menjadi team yang baik.

Laki-laki didisain untuk menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin jangan disamakan dengan “menguasai” apalagi “mendominasi” dan “mengeksploitir”. Allah memanggil laki-laki untuk memimpin, bukan untuk mendominasi. Adam gagal menjadi pemimpin. Dia ada disana bersama-sama istrinya, tapi dia gagal memimpin istri untuk tidak digoda oleh iblis, dan juga gagal memimpin dirinya sendiri untuk tidak tergoda hal yang sama.

Laki-laki harus kuat didalam mengambil keputusan-keputusan yang penting, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk kebaikan bersama. Harus diingat, ketika laki-laki tidak bersedia memimpin, maka perempuan akan maju; dan sebenarnya itu sesuatu yang memalukan, bukan karena kenyataan perempuan yang maju, tapi karena kenyataan laki-laki yang tidak mau maju. Begitulah cerita Debora dan Barak. Barak yang panglima perang, tidak berani maju memimpin, malah mengatakan pada Debora, “kalau kamu maju, aku ikut, kalau kamu tidak, aku juga tidak”. Barak akhirnya kehilangan peran!! Ketika laki-laki tidak mau ambil tanggung jawabnya, maka dia akan kehilangan perannya. Perhatikan cerita dalam hakim-hakim itu, pada akhirnya yang membunuh musuh Israel, adalah perempuan, dan ini sesuatu yang sangat memalukan buat orang Israel.

Laki-laki harus memimpin dalam kebenaran yaitu “speaking the truth”. Bukan berarti perempuan tidak bicara benar, tapi laki-laki dengan kepemimpinannya harus berbicara kebenaran. Mulut laki-laki harus seperti emas! Itulah nasihat Paulus kepada Timotius. Timotius dinasihati untuk berhati-hati dengan perkataan yang dapat menghancurkan orang lain bahkan keutuhan komunitas. Dalam 1 Timotius 6:11, dikatakan “hai manusia Allah (man of God) jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” Kalau laki-laki sudah gagal di ucapannya, maka sulit untuk percaya bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab.

Sobat muda, jadilah laki-laki yang diinginkan Allah!