January 15, 2013

Renungan: Domba di tengah Serigala

Matius 10:16

(16)Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.


Domba di tengah Serigala

Orang Kristen dan penderitaan adalah suatu hal yang sangat dekat. Karena memang ketika kita memiliki iman percaya kita, maka resiko terbesar dari hidup keseharian kita adalah penderitaan. Kenapa? Karena kita hidup di dunia yang berdosa, dan ada ditengah orang berdosa. Tapi kita adalah orang yang sudah di tebus dan sedang berjuang untuk tidak berdosa lagi. Dengan demikian, kalau kita sungguh-sungguh orang Kristen, kemungkinan besar, bahkan bisa dipastikan, kita akan bertemu dengan benturan antara prinsip dan nilai kekristenan kita dan nilai dunia ini. Kalau tidak, kemungkinan besar, kita sudah banyak kompromi dan melepaskan banyak hal, sehingga semua berjalan dengan nyaman. Bahkan 2 Timotius 3;12 mengatakan: Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.

Ini sudah menjadi rumusan bahwa orang yang mengikut Kristus sungguh-sungguh akan mengalami penderitaan. Penderitaan ini bukan hanya cerita kaum misionari yang ada di pedalaman atau di daerah – daerah yang sulit untuk injil masuk. Penderitaan ini bukan sekedar cerita kaum martir yang telah mati dihukum karena iman mereka. Tapi ini juga cerita milik orang biasa seperti kita. Seorang karyawan yang tidak pernah mendapatkan promosi dalam karirnya hanya karena dia orang Kristen. Atau seorang anak muda yang tetap mempertahankan hidupnya bersih walaupun orang di sekelilingnya hidup rusak. Melihat dosa ada di depan mata kita saja, seharusnya membuat hati kita tidak anak dan merasa sesak karena orang jahat ada disekitar kita.

Dalam keadaan yang sulit inilah di tengah dunia yang seringkali bertentangan dengan kebenaran-kebanaran yang kita miliki, Tuhan Yesus mengatakan, ”sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Mungkin pada umumnya kita berpikir bahwa ular itu konotasinya licik dan cenderung nipu. Itu pemahaman kita tentang ular. Tapi orang dijaman itu tahu, bahwa ular tidak identik dengan itu. Ada pemahaman ilmu orang mesir yang melihat ular sebagai binatang pandai, bijak, dan punya banyak skill untuk melindungi dirinya dan sanggup masuk ke tempat-tempat sulit. Dalam terjemahan lain, dikatakan “ be wise as serpent, harmless as dove” .Kata yang lebih tepat adalah “bijak”. Inilah sikap orang Kristen seharusnya dalam menjalani hidup ditengah-tengah srigala. Menyatakan kebenaran, ditengah dunia yang bengkok ini dengan bijak dan tulus.

Orang yang bijak adalah orang yang tahu tempat dan waktu dalam menyatakan kebenaran. Bijak itu berkaitan dengan kemampuan kita mengerti kehendak Allah. Bijak itu tidak semata suatu intelegensi yang tinggi, atau suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi, tapi daya tangkap kita akan kehendak Allah, sehingga kita tahu kapan kita bicara, kapan kita diam, kapan kita menetap, dan kapan kita harus pergi. Orang yang bijak akan mengkomunikasikan segala sesuatu dengan ketulusan dan kejujuran, bahkan menyatakan kebenaran dengan tulus tanpa ada agenda pribadi.

Bukan hanya bijak, tapi juga “harmless”, dalam arti tidak berbahaya, tidak mengancam, tidak ada kekerasan, bahkan cenderung tidak berdaya. Memang ini menjadi ciri khas anak-anak Tuhan: tidak melawan. Aneh bukan? Tapi memang “tidak melawan” itu lebih mengundang pesona, ketimbang “menyerang balik”. Bila kita disakiti orang, kita kecenderungan balik membalas bukan? Sikap tidak sepertinya memang kelihatan bodoh, tapi sebenarnya orang yang menanggung dan diam itu adalah orang yang kuat. Dengan itulah dia akan tetap terus menyatakan kebenaran.

Kita diutus ke tengah srigala, itu memang bukan pengalaman enak. Fakta bahwa kita adalah domba-domba, menunjukkan bahwa ada Gembala kita yang tidak pernah meninggalkan kita. Walaupun kita ada ditengah srigala, kita tidak takut, karena gembala kita, menyertai kita dan tidak akan membiarkan kita sendirian. Tapi memberikan kita kemampuan, dan mencukupi kita. Jangan pernah tawar hati bila anda sekarang sedang mengalami tekanan. Anda ingin menjadi orang benar dan orang baik, tapi hidup ini terlalu sulit dan keras, percayalah Gembala tidak pernah meniggalkan kita.

January 1, 2013

Renungan: Nyatakan dengan Kasih


1 Korintus 8: 1-3

(1) Tentang daging persembahan berhala kita tahu: "kita semua mempunyai pengetahuan." Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.

(2) Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu "pengetahuan", maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya.

(3) Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.


Nyatakan dengan Kasih

Orang Indonesia hidup dengan berbagai tradisi dan kepercayaan. Bahkan sebagai orang Kristen sendiri kita masih banyak terikat dengan hal-hal tersebut. Tradisi dan budaya mengikuti kita terus karena kita dalam banyak hal terikat dengan keluarga sebagai sentral keberadaan kita. Karena adat dan tradisi itu, orang Kristen seringkali diperhadapkan dengan pertanyaan “boleh atau tidak boleh”. Bolehkah membawa persembahan untuk leluhur? Bolehkah berziarah dan berdoa di depan orang yang sudah mati? Bolehkah ikut serta dalam upacara-upacara yang melibatkan kepercayaan kepada roh orang mati? Seringkali pertanyaan-pertanyaan ini sulit dijawab, karena melibatkan hubungan dengan keluarga dan juga tugas dan tanggung jawab yang terurai didalamnya. Bila tidak mengikuti upacara tertentu maka keluarga akan menganggap kita tidak mengasihi dan menghormati orang tua.

Kebanyakan orang menginginkan suatu format baku yang dapat diterapkan dalam setiap konteks dan masalah, sehingga tidak perlu pusing lagi memikirkan atau menganalisa untuk menjawab suatu perbuatan boleh atau tidak boleh. Tapi pada kenyataannya memang tidak bisa demikian. Kehidupan keseharian kita dalam menanggapi budaya memang suatu perjuangan yang menuntut kesadaran tinggi, upaya sungguh-sunguh dalam memberikan yang terbaik bagi hormat dan kemuliaan Tuhan.

Ada beberapa sikap yang harus terus kita pertahankan dalam menanggapi budaya di tengah dunia kita yang berdosa ini: Pertama, seseorang memang harus memiliki pemahaman yang benar akan kebenaran Firman Tuhan, supaya terbebas hati nuraninya dari ikatan apapun. Kebenaran Firman Tuhan akan meyakinkan kita bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Kasih Allah yang sudah dianugerahkan pada kita. Sehingga didalam kasus orang Korintus , Paulus mengatakan: “makanan tidak membuat kita lebih dekat dengan Allah. Kita tidak rugi apa-apa kalau tidak memakannya, kita tidak untung apa-apa kalau kita memakannya”. Jadi dalam hal makan makanan penyembahan berhala ini, daging-daging itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap keselamatan jiwa kita. Allah sudah menganugerahkan keselamatan yang kekal, kasih-Nya diberikan di dalam iman percaya kita kepada Yesus. Sehingga makan daging seperti itupun tidak akan membuat kita kehilangan keselamatan. Karena yang membuat kita selamat, bukanlah makanan itu,tapi iman kepada Kristus.

Tapi tidak cukup seseorang hanya mengerti dan punya pengetahuan bahwa Kristus adalah Juru selamat satu-satunya, bahwa kita sudah diselamatkan oleh darah-Nya yang mahal, lalu kita hidup untuk diri kita menikmati keselamatan itu. Paulus menegaskan memiliki pengatahuan dengan seperti itu membuat orang jadi sombong. Orang percaya memang sudah bebas dari ikatan apa saja. Tapi kebebasan ini tidak serta merta kita gunakan hanya untuk diri kita sendiri. Kebebasan itu adalah anugerah, bukan untuk dipakai seenaknya, tapi justru membuat orang Kristen lebih sungguh-sungguh. Ini prinsip yang kedua, bukan hanya memiliki pemahaman, tapi juga kasih. Setiap kita harus berpikir bahwa “apa yang saya lakukan bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi ada orang-orang disekitar saya yang melihat saya, dan kalau saya sembarangan berbicara, maka saya bisa menjadi batu sandungan buat mereka”. Bila kita, karena karena kita berpikir sudah terbebas dari ikatan apapun, kita ikut memberikan persembahan kepada leluhur, kita harus sadar bahwa tindakan itu akan membuat orang yang yang masih baru iman Kristen nya menjadi lemah.

Cara hidup orang Kristen memang cara hidup yang memikirkan orang lain. Dengan demikian juga ketika seseorang menolak untuk memberi hormat didepan kuburan leluhurnya dengan keyakinan bahwa tindakan itu akan membelokkan penyembahannya kepada Allah, maka diapun harus menyampaikannya kepada keluarganya dengan kasih, dan tidak menjadi batu sandungan. Keributan antar anggota keluarga karena ada yang mempertahankan kebenaran dengan sombong dan merendahkan orang lain membawa dampak yang jauh lebih buruk lagi. Bila kita punya pengetahuan, ingatlah tidak semua orang punya pengetahuan seperti itu. Ada orang yang memang sudah mengaku percaya, tapi dalam beberapa hal masih terikat dengan adat istiadat yang sebenarnya bertentangan dengan keyakinan iman, tapi juga belum sanggup untuk berdiri tegak.  

Teman, mari belajar menyampaikan pengetahuan kita dengan kasih, supaya jangan jadi batu sandungan, tapi justru pendorong supaya orang lain bertumbuh.

July 17, 2012

Renungan: Memandang Rendah Karena Sukunya

Bilangan 12 : 1 - 15

12:1 Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.

12:2 Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.

12:3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.

12:4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga.

12:5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.

12:6 Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi.

12:7 Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku.

12:8 Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?"

12:9 Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia.

12:10 Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!

12:11 Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami.

12:12 Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya."

12:13 Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."

12:14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali."

12:15 Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali.


Memandang Rendah Karena Sukunya

Miryam dan Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush (Bilangan 12:1)

Ada 2 orang datang mendekat kepada penjual baju dan kain khas Bali yang tergelar ramai di Kuta. Yang satu adalah seorang turis perancis, yang lainnya adalah turis lokal dari Surabaya. Sang penjual begitu antusias melayani turis yang berkulit putih ini, karena dalam pikirannya, turis asing ini punya uang yang lebih banyak ketimbang turis lokal. Tapi ternyata orang bule itu hanya melihat-lihat barangnya, mencoba disana dan disitu, tapi tak satupun yang ia beli. Ketika turis bule itu pergi, barulah dia berpaling kepada sang turis lokal yang masih sibuk memilih sendiri barang-barang yang ia cari. Akhirnya turis local ini membeli beberapa kain dan membayarnya. Ini pemandangan yang biasa terjadi di tempat-tempat wisata di negeri kita. Bangsa kita ini masih banyak melihat orang dari warna kulitnya. Padahal itu semua hanyalah warna kulit!

Konon katanya orang Kush yang dinikahi oleh Musa itu, kulitnya berwarna hitam legam. Tapi sebenarnya orang Israel juga engga putih-putih amat! Namun demikian Miriam dan Harun, seperti yang Alkitab kisahkan, mengata-ngatai Musa karena istrinya orang Kush. Padahal Musa itu adalah pemimpim besar bangsa Israel, orang yang kepadanya Allah berkenan, dan memiliki persahabatan yang erat dengan Allah. Miriam memandang rendah Musa, karena dia memandang rendah istri Musa yang orang Kush itu.

Hari ini kita melihat sikap Allah terhadap orang seperti Miriam. Allah tidak suka dengan sikap itu. Sikap yang memandang rendah orang lain karena kesukuannya. Mungkin dimata Miriam, orang Kush yang hitam legam itu sangatlah rendah dan tidak pantas untuk adiknya. Padahal Allah sendiri tidak bilang apa-apa soal perempuan Kush yang diambil Musa. Malah Allah akhirnya menghukum Miriam yang sudah terlalu berani menghina Musa dengan menjadi kusta. Ironi sekali…Miriam yang mengata-ngatai Musa karena perempuan Kush yang hitam legam itu, sekarang menjadi putih sekali, tapi putih karena seluruh tubuhnya kena Kusta!

Jangan melihat orang lain dan merendahkan mereka dimatamu hanya karena kulit warnanya. Kadang pikiran ini sudah tertanam di kepala kita, kita harus lepaskan cara pikir seperti itu, karena Allah tidak memandang dengan cara demikian.

June 16, 2012

Renungan: Keadilan Allah ditengah Carut Marut Keadilan di Negeri Kita

Ulangan 32 : 3 - 4

32:3 Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita

32:4 Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.


Keadilan Allah ditengah Carut Marut Keadilan di Negeri Kita

Akhir-akhir ini kata “keadilan” menjadi topic yang hangat di negeri kita. Kasus yang melilit institusi seperti KPK, POLRI dan Kejaksaan, menjadi berita-berita yang hangat dan terus dibicarakan orang. Dalam diri manusia memang ada “sense of Justice” atau rasa keadilan. Kita marah ketika mendengar ada orang bisa melenggang dan bebas dari hukuman yang harusnya dia terima, hanya karena dia sanggup membayar semua pihak yang terkait dalam penegakan hukum. Walau manusia punya rasa keadilan, tapi konsep keadilan manusia sudah diwarnai oleh dosa, dan dalam konsep keadilan versi manusia ini, kita sering tidak konsisten atau tidak adil. Berbicara tentang keadilan membuat kita seringkali merasa pesimis, karena di negeri kita terlalu banyak Hakim yang tidak adil, Polisi yang tidak jujur, dan Jaksa yang berkonspirasi. Kalau seperti ini perangkat keadilan di negeri kita, maka tidak heran banyak penderitaan yang kita alami dalam hidup dikarenakan ketidakadilan orang terhadap kita. Tapi puji Tuhan, perangkat keadilan yang kita temui di tengah-tengah kita itu bukanlah satu-satunya keadilan tertinggi dalam hidup kita. Ada keadilan yang lebih tinggi nilai nya dan mengatur secara penuh dan berkuasa atas seluruh hidup manusia, itulah Keadilan Allah.

Musa sedang mengajarkan suatu nyanyian yang isinya tentang pengajaran-pengajaran penting sebelum mereka masuk ke tanah yang Tuhan janjikan. Dalam nyanyian yang panjang ini, salah satu yang dibicarakan adalah tentang keadilan Tuhan. Pertama, Musa mengingatkan kita bahwa Allah yang menyatakan keadilanNya adalah Allah yang maha tinggi. Ketundukan kita secara total pada keadilan Allah menjadi sikap mendasar sebelum kita berserah pada keadilanNya. Mungkin sekeliling kita menjerat kita dengan tidak adil, tapi kalau kita punya pengakuan dan ketundukan adanya keadilan yang lebih tinggi, maka kita akan tetap memiliki harapan di dalam Tuhan. Kedua, Keadilan Allah ini adalah keadilan yang dapat kita andalkan sepenuhnya, karena Dia adalah “gunung batu” yang pekerjaanNya sempurna. “Gunung batu” adalah ungkapan untuk menjelaskan natur Allah sebagai pelindung yang kuat, dan sebagai landasan yang tidak tergoyahkan. Mengapa masyarakat cenderung bersikap pesimis terhadap keadilan di negeri kita, karena masyarakat melihat bahwa pihak-pihak yang seharusnya menegakkan hukum tidak dapat diandalkan, tidak kokoh dan mudah sekali dikendalikan. Tapi Allah yang adil adalah Allah yang tidak tergoyahkan, yang pekerjaanNya sempurna dan tidak pernah salah. Ketiga, Keadilan Allah selalu merupakan kebenaran, atau dengan kata lain, keadilan Allah selalu berjalan bersama dengan kebenaranNya, bahkan keadilan Allah berjalan bersama dengan Kasihnya.

Sahabat, dalam hidup yang sering tidak adil ini, kita harus punya keyakinan bahwa keadilan yang tertinggi adalah keadilan Allah. Sehingga ketika engkau mengatakan “this is not fair” kepada manusia, ingatlah masih ada lagi keadilan yang lebih tinggi. Namun kita juga harus sadar bahwa ketika keadilan Allah yang kita andalkan, maka kita juga harus bersikap adil pada sesama kita. Jangan pernah merugikan orang, menipu, memfitnah, mencelakakan, atau apa saja, karena keadilan Allahpun akan diberlakukan atas kita ketika kita berbuat dosa. Keadilan Allah ini harusnya membuat kita gentar, dan tidak mau sedikitpun memberi tempat pada perbuatan dosa. Kita memang tidak hidup dalam jaman Ananias dan Safira, yang berbuat dosa langsung mati di tempat, tapi itu menjadi peringatan yang sangat keras bahwa keadilan Allah berlaku juga atas kita.

Kalau Dia adalah Allah yang Adil, mengapa kita masih berani berbuat dosa?

April 10, 2012

Renungan; Jadilah Teladan

Yohanes 13:4-5

(4) Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,

(5) kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.



Jadilah Teladan

Dunia ini sering mengajarkan kita memimpin dengan kuasa, dengan status, dengan kedudukan. Itu sebabnya pemahaman yang umumnya orang milki tentang kepemimpinan adalah berkaitan erat dengan “kedudukan” atau “status”. Sehingga ketika orang bicara tentang kepemimpinan, kita berpikir itu tidak relevan untuk kita karena kita merasa diri kita tidak punya jabatan dan kedudukan apa-apa dalam kepemimpinan. Ini pemikiran yang salah: kepemimpinan tidak harus berjalan didalam jabatan atau status atau kedudukan. Karena ada orang-orang tertentu dalam komunitas yang tidak punya jabatan dan status kepemimpinan dalam komunitasnya, tapi pendapatnya selalu didengar dan diikuti oleh orang sekitarnya.

Disini kita melihat Tuhan Yesus memimpin tidak dengan power, status, jabatan, kedudukan. Tapi Dia memimpin dengan teladan. Apakah yang Kristus lakukan? Dalam ayat 4-5 yang kita baca, terdapat beberapa kata kerja yang penting yang menjelaskan apa yang Tuhan lakukan: “bangun, menanggalkan, mengambil, mengikat, menuangkan dan membasuh”. Dia tidak bicara, bahkan tidak pakai kata pengantar dari apa yang dilakukanNya.

Sebenarnya mencuci kaki bukanlah pekerjaan seorang “pemimpin” tapi budak. Di rumah orang-orang Yahudi selalu ada air didepan rumah, dan seorang budak bertugas mencuci kaki tamu-tamu yang masuk. Sepertinya tidak ada budak di rumah itu. Tapi mengapa harus Tuhan? Di Lukas 22:24 murid-murid sedang berdebat, siapakah yang terbesar diantara mereka. Tentu tidak ada yang terpikir buat mereka untuk mengambil posisi budak dan mencuci kaki orang lain karana masing-masing mereka sibuk memikirkan posisi dan kedudukan yang terbesar diantara mereka.

Disini kita melihat pola kepemimpinan Kristus yang memimpin dengan teladan. Teladan bukan suatu perbuatan tersembunyi. Teladan itu nyata, tapi juga bukan “pamer”. Suatu tindakan yang sifatnya “pamer” tidak akan jadi teladan. Teladan akan membuat orang lain terinspirasi, tercerahkan dan tersadarkan. Ini berbeda dengan “pamer”. Karena pamer dilakukan bukan supaya orang lain tersadarkan, tapi supaya orang tersebut meninggikan dirinya. Tindakan “pamer” tidak akan lama, karena orang yang melakukan perbuatan baik hanya untuk mendapatkan simpati, cepat atau lambat akan merasa lelah, bahkan jadi mundur ketika orang lain tidak memperhatikanya, karena tujuannya memang untuk diperhatikan.

Tuhan pernah mengatakan “ikutlah Aku”, itu berarti menyangkut seluruh kehidupan termasuk karakter dan perbuatan Kristus. Dia merupakan model yang kita tiru yang memimpin kita ke arah seperti Dia. Model harus ditiru dari jarak dekat! Supaya tidak salah tiru. Kristus memberi diri menjadi teladan, maka Dia hidup dekat dengan orang-orang sekelilingNya. Demikian juga dengan mencuci kaki, ini adalah suatu tindakan yang membutuhkan posisi tubuh yang sangat dekat sekali. Kita tidak akan bisa jadi teladan bila kita berdiri jauh tinggi di menara gading. Kristus sendiri harus turun ke dunia, menjadi pribadi yang dekat dan ber-relasi secara “personal” dengan orang di sekelilingnya.

Teladan memang harus dilihat dari dekat! Tapi resikonya kalau dilihat dari dekat, maka ada resiko menerima penghinaan, tidak dihargai dan dimanipulasi oleh orang yang dengannya kita ber-relasi. Tapi bukankah itu juga yang terjadi pada Tuhan Yesus ketika Dia berada di tengah-tengah manusia yang melihat Dia dari dekat? Dari tempat yang kudus Dia turun ke dunia supaya orang melihat Dia dari dekat. Tapi setelah dekat, orang memanipulasi Dia: hanya minta berkatNya tapi tidak minta pengampunanNya, bahkan menyalibkan Dia.

Sahabatku, walau resikonya berat, tapi mari belajar menjadi teladan bagi orang-orang yang sehari-harinya ada disekitar kita. Sudahkah perbuatan dan perkataan anda memimpin orang kepada Tuhan? Sudahkah orang lain tercerahkan pikirannya, atau terinspirasi dengan kehidupan yang transparan yang jelas terlihat dalam hidup anda?

October 4, 2011

Renungan: Sebuah Karya Berbasis Kesombongan

ejadian 11 : 1 - 9

11:1 Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.

11:2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.

11:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.

11:4 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."

11:5 Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,

11:6 dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

11:7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing."

11:8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu.

11:9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.


Sebuah Karya Berbasis Kesombongan oleh Kak Astri Sinaga

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Amsal 16:18)

Apa yang salah dengan pembangunan menara Babel ini? Mengapa Tuhan Allah kemudian menghentikan usaha itu? Anak-anak manusia itu berkata, “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (ayat 4). Menara yang sedang dibangun ini adalah menara yang mereka ingin ketinggiannya mencapai langit. Langit disini artinya “heaven” atau surga, tempat Tuhan Allah bertahta. Lalu mereka ingin juga menamai menara itu. Apa artinya?

Sebenarnya yang mereka bangun bukan sekedar menara, tapi suatu berhala, yang bisa menduduki surga, dan memiliki nama yang dapat mereka sembah dan mempersatukan mereka. Bila menara ini berdiri, berarti mereka memiliki sebuah kekuatan yang nyata yang memerintah dan mempersatukan mereka layaknya berhala. Dengan demikian mereka tidak membutuhkan Allah lagi, mereka melakukan segala sesuatunya sesuka hati mereka.

Sobat muda, walaupun kita ini bisa menghasilkan karya-karya yang baik, contoh pembangunan menara babel menunjukkan bahwa kita sering menghasilkan karya-karya kita untuk kesombongan kita. Kita membangun prestasi yang bagus dalam studi dan pekerjaan kita dengan motivasi supaya orang menghormati kita. Kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, supaya orang memuji-muji kita. Itu semua adalah suatu pekerjaan yang lahir dari kesombongan, dan Tuhan Allah tidak suka akan kesombongan kita.

Dia yang berkuasa dan yang memberikan kita kapasitas berkarya, berarti Dia juga sanggup menghentikan segala karya kita begitu saja kalau kita mendasari setiap karya kita dengan kesombongan. Pikirkan hari ini, apakah “aku punya motivasi kesombongan dalam pekerjaan-pekerjaan yang sadang aku lakukan?”

May 24, 2011

Renungan: Mengampuni Meski Tidak Akan Pernah Lupa

Kejadian 50:15-21

(15) Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya."

(16) Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

(17) Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.

(18) Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu."

(19) Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

(20) Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

(21) Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.


Mengampuni Meski Tidak Akan Pernah Lupa

Kita hidup di tengah dunia yang susah mengampuni. Pengampunan itu sesuatu yang sulit diberikan. Kitapun hidup dalam masyarakat yang mendorong kita untuk membalas setimpal dengan apa yang orang lain perbuat kepada kita. Kita melihat di TV orang saling tuntut, saling somasi hanya karena kata-kata yang diucapkan, entah merusak dan mencemari nama baik. Pola pikir pembalasan setimpal ala Rambo, itu sebenarnya berakar kuat di tengah masyarakat kita. Tidak lepas dari apa latar belakang ekonominya, mau kaya atau miskin, pembalasan seperti suatu nafsu yang harus terpuaskan.

Padahal kekristenan mengajarkan kita sangat jelas tentang pengampunan. Kita diminta untuk selalu mengampuni. Bahkan contoh terbesar diberikan oleh Allah sendiri yang memberikan pengampunan dosa kepada kita lewat anakNya yang tunggal. Jadi sebenarnya kegagalan kita dalam mengampuni adalah suatu ketidaktaatan dan bertolak belakang dengan iman percaya kita kepada Allah yang mengampuni. Tapi entah kenapa tetap saja kita sulit untuk mengampuni.

Hal tentang pengampunan inilah yang kita lihat dalam sikap Yusuf di pasal yang terakhir kitab kejadian. Ketika Yakub meninggal, saudara-saudara Yusuf ketakutan, dan berpikir bahwa Yusuf akan berubah, dan berbalik membalas dendam. Mereka tahu kejahatan mereka itu terlalu besar dan tidak layak untuk diampuni sehingga wajar juga kalau Yusuf jadi berbalik untuk membalas dendam kepada saudaranya. Tapi Yusuf Menunjukkan pengampunan yang sejati. Mari kita belajar, apakah yang membuat Yusuf tetap konsisten, dan memberikan pengampunan yang sesungguhnya.

Pertama, Yusuf mengatakan: ”Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?”. Disini Yusuf menempatkankan dirinya bukan pada posisi yang seakan berhak memperlakukan atau berkuasa atas saudara-saudaranya. Manusia memang seringkali bertindak seakan dia ”Tuhan” atau ”playing God”. Apalagi kalau mereka ada dalam posisi dimana banyak orang bergantung kepadanya. Mengerikan sekali kalau seseorang bertindak ”playing God” sehingga dia menuntut orang lain punya ketaatan total seakan dia adalah Allah. Tapi Yusuf tidak demikian. Dia menempatkan dirinya sebagai saudara atas kakak-kakaknya, walaupun sebenarnya dia berhak menjadi Tuan atas saudara-saudaranya itu.

Kedua, Yusuf melihat dan mengingat dengan jelas apa yang terjadi di dalam hidupnya. Orang sering mengatakan bahwa mengampuni berarti melupakan. Tapi disini kita melihat Yusuf mengatakan, ”memang kalian telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku....” Yusuf tahu persis dan ingat betul, akan kejahatan mereka. Pada umumnya orang tidak akan lupa peristiwa yang pahit dan menyakitkan karena kita punya memori. Masalahnya adalah, apa yang dapat kita lakukan dengan memori itu. Kalau anda pernah mengalami hal yang menyakitkan, entah perkataan orang atau perbuatan orang, setiap kali anda ingat, anda merasa sakit bukan? Anda bahkan ingat betul rasanya waktu itu, dan masih terasa juga sekarang. Setiap mengingatnya, seperti ada aliran listrik yang menyengat anda.

Yusuf tidak demikian, karena Yusuf melihat peristiwa-peristiwa hidupnya yang penuh dengan kejahatan saudara-saudaranya itu dengan cara yang berbeda. Peristiwa itu bukanlah sekedar peristiwa menyakitkan, tapi bagian dari rancangan Tuhan. Ketika dia melihat Tuhan di dalam memori tersebut dia mengatakan,” Tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi saat ini, memelihara hidup suatu bangsa yang besar”

Sobat muda, dua hal yang dibutuhkan dalam mengampuni: anda harus menempatkan diri sebagai sama-sama orang berdosa. Tidak mungkin anda lebih baik dari segal-galanya, anda juga perlu pemulihan dan pengampunan Tuhan; jangan pernah bertindak seakan kita ini ”Tuhan”. Yang kedua: jangan biarkan rasa sakit dan kecewa dalam peristiwa itu mengusai, lihatlah pekerjaan Tuhan dalam hidup anda. Ketika kita melihat Tuhan ada dalam peristiwa-peristiwa yang kita ingat itu, maka rasa sakit itu hilang, yang ada adalah rasa syukur, bisa melewatinya. Mari belajar mengampuni walaupun kita tetap ingat.

March 15, 2011

Renungan: Don’t Quit, Take a Rest!

1 Raja-raja 19:1-8

(1) Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang,

(2) maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu."

(3) Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.

(4) Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

(5) Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!"

(6) Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.

(7) Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu."

(8) Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.


Don’t Quit, Take a Rest!

Fisik kita tidak dicipta tanpa batas, tapi ada batas ambang yang kalau masuk didalamnya kita akan merasa lelah. Badan kita bisa sakit,dan kita merasa lelah dengan pekerjaan yang berat atau masalah yang berat. Pekerjaan sehari-hari kita tanpa kita sadari menyerap banyak persediaan tenaga dalam diri kita, yang seringkali menimbulkan kelelahan baik secara fisik maupun secara mental. Bahkan aktivitas pelayanan kita baik di gereja maupun dimana saja seringkali juga menimbulkan kelelahan yang bukan hanya fisik, tapi juga mental.

Elia sedang mengalami kelelahan yang sangat dalam. Pikiranya tidak berjalan secara benar. Bayangkan saja, Elia adalah seorang pahlawan yang gagah berani ini baru saja memenangkan pertandingan hebat dan menyembelih nabi-nabi Baal sebagai tanda kemenangannya. Lalu ketika muncul tekanan dari seorang perempuan yang berkata, “besok pada jam yang sama aku akan membunuh kamu”, Elia menjadi sangat takut dan tertekan. Elia tidak siap dengan “serangan balik” yang tiba-tiba datang padanya ditengah-tengah puncak kemenangannya melawan nabi-nabi Baal. Ini memang masa-masa yang rawan, yaitu ketika ada di puncak sebuah kesuksesan dimana keberhasilan sudah ditangan, tapi pada saat yang sama kelelahan juga mencapai puncaknya.

Elia tidak siap karena dia sendiri memang secara fisik dan mental sedang mengalami kelelahan. Dia merasa kemenangan yang hebat saja tidak menyurutkan niat Ahab dan Izebel untuk tidak membunuh dia, bahkan membuat Izebel menjadi lebih berani. Kalau sudah begini, seringkali orang menjadi tidak realistis dengan dirinya sendiri, sehingga melihat diri lemah, tidak berdaya, tidak berguna, dan hanya korban belaka. Demikian juga Elia mengatakan, “cukuplah…aku tidak lebih baik daripada leluhurku”. Inilah gambar diri Elia yang mengasihani dirinya sendiri.

Ditengah rasa lelah fisik dan mental yang dialami Elia, Allah menemui hamba-Nya ini. Tak ada teguran, tak ada menyalahkan, ataupun nasihat. Allah hanya menyuruh Elia makan! Lalu Allah memberikan roti bakar dan air segar. Perhatikan betapa indah yang Allah lakukan bagi hamba-Nya ini, Allah pencipta langit dan bumi seakan sedang membujuk, menghibur bahkan memanjakan Elia. Ini memang tahapan yang sangat awal, sebelum kemudian Allah mengajak Elia masuk dalam pembaharuan berikutnya. Tapi kita melihat dalam tahap ini Allah ingin Elia pulih dulu secara fisik supaya dia dapat berpikir lebih jernih untuk menerima pemulihan berikutnya.

Sobat muda, ketika kita merasa lelah dan mental kita pun menjadi lemah, maka mudah buat kita berpikir salah tentang diri kita sendiri bahkan tentang Allah. Ini seringkali membuat banyak orang mengambil keputusan-keputusan yang salah dalam hidupnya ataupun berespons tidak tepat terhadap sekelilingnya. Misalnya kemarahan yang tiba-tiba meledak, menganggap diri tidak berguna, merasa ditinggalkan dan bahkan menyerah. Dalam keadaan lelah, kita perlu istirahat. Bahkan pulihkan kelelahan anda itu dengan mengambil waktu melakukan hal-hal yang menyenangkan. Orang Kristen sering merasa bersalah kalau beristirahat, padahal istirahat adalah karunia dan pengkhotbah pun mengatakan bahwa rasa senang adalah karunia Allah (3:13).

Sobat muda, kalau hari ini anda merasa lelah dan rasanya berat sekali melakukan apa saja dalam kelelahan itu, beristirahatlah dan menikmati Allah yang selalu memelihara kita. Dengan itu juga kita bisa menikmati hidup yang Allah berikan bagimu. Pekerjaan bisa menunggu, orang bisa menunggu, bila diperlukan hari ini engkau beristirahat, istirahatlah!

March 14, 2011

Renungan: Memang Hitam Aku Tetapi Cantik!

Kidung Agung 1:1-8

(1) Kidung agung dari Salomo.

(2) --Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,

(3) harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!

(4) Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!

(5) Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.

(6) Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.

(7) Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembara dekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu?

(8) --Jika engkau tak tahu, hai jelita di antara wanita, ikutilah jejak-jejak domba, dan gembalakanlah anak-anak kambingmu dekat perkemahan para gembala.


Sahabatku, banyak orang gelisah kalau pada usia tertentu dia belum memiliki pacar. Lalu hidupnya akan menjadi semakin muram ketika dia melihat kawan-kawan disekelilingnya sudah punya pacar sedangkan dia sendiri belum. Memasuki relasi intim sebagai “pacar” memang pengalaman yang ditunggu-tunggu oleh orang muda. Ketika seseorang menyatakan cinta padamu, langit-langit seakan terbuka dan kembang api bertaburan indah di atasnya. Bahkan seringkali pengalaman itu begitu dasyatnya sehingga mempengaruhi bagaimana cara-mu memandang kepada dirimu sendiri. Sehingga pemuda pemudi yang belum memiliki pacar seringkai merasa diri mereka kurang berharga karena seakan tidak ada yang ‘menginginkan’nya untuk menjadi teman dekat atau ‘pacar’.

Hati-hati dengan konsep diri yang salah. Banyak orang berpacaran menjadi salah memperlakukan dirinya atau pacarnya karena memiliki konsep diri yang salah juga. Ketika seorang perempuan mengatakan “ I always feel not good enough for him”, maka ia akan berusaha memberikan apa saja bahkan seluruh tubuhnya. Kebanyakan pasangan jatuh ke dalam seks pra-nikah, karena mereka sendiri tidak punya pemahaman yang benar tentang keberhargaan diri. Jangan pernah mencari pacar, hanya supaya engkau merasa berharga, justru sebaliknya engkau harus mengerti betul betapa berharganya dirimu sehingga kamu tau bagaimana memperlakujkan dirimu dalam berpacaran.

Kidung Agung yang kita baca hari ini memperlihatkan seseorang yang siap dalam memasuki relasi intim dengan pasangannya. Dia tahu betul siapa dirinya dalam kelebihan dan kekurangannya. Perempuan itu mengatakann di ayat 5: “memang hitam aku, tetapi cantik”. Memang ada pemahaman budaya disini tentang kulit yang berwana ‘hitam’ dan nampaknya dia hidup di tengah pemahaman bahwa kulit berwarna hitam adalah kurang elok. Ini mengingatkan kita akan cerita Musa yang diolok-olok oleh orang-orang disekelilingnya karena mengambil istri orang Kurdi yang konon katanya berkulit hitam. Tapi calon mempelai perempuan ini memiliki keyakinan dan penghargaan yang kuat di dalam dirinya. Begitu kuatnya sehingga dia mengatakan, “memang hitam aku, tetapi cantik”. Bisakah sobat muda juga mengatakan hal yang sama tentang dirimu? Misalnya, “memang aku orang sederhana tapi aku murah hati” atau “memang aku gemuk, tapi aku penuh perhatian”, atau “memang aku pendek, tapi aku pemberani”, dan tentu masih banyak lagi.

Sahabat, hati-hati bila kamu sudah melihat bahwa kamu tidak cukup baik, atau merasa pacarmu terlalu hebat, dan popular sedangkan dirimu tidak ada apa-apanya. Karena biasanya kalau sudah demikian, seseorang akan mencari pembuktian dengan melakukan apa saja. Engkau harus bisa mengenal dirimu baik-baik, tahu dimana kelebihan dan kekuranganmu serta memberikan penghargaan yang baik kepada diri sendiri.

Terlebih lagi tentunya engkau harus tahu dan yakin bahwa kasih Tuhan didalam diri kita mendasari seluruh penghargaan terhadap diri sendiri. Punya pacar atau tidak sebenarnya tidak mempengaruhi penghargaan terhadap diri. Karena hanya dengan dikasihi Tuhan lah kita menjadi berharga di dalam diri kita. Justru kalau engkau punya penghargaan diri yang kuat, maka engkau akan menjalani pacaran yang indah!

March 4, 2011

Renungan: Menaruh Minat Pada Pembelajaran Rohani

Lukas 2:41-52

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah.

Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.

Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.

Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.

Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.

Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.

Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.

Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."

Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"

Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.

Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.


Menaruh Minat Pada Pembelajaran Rohani

Bila kita membaca sekilas cerita ini, maka mungkin di dalam hati kita ada keheranan akan reaksi Tuhan Yesus yang masih remaja itu ketika ibunya yang gelisah dan ketakutan akhirnya menemukan dia sedang duduk-duduk nyaman di Bait Allah. Dengan tenang Tuhan Yesus menjawab, ”mengapa kamu mencari Aku..?”. Sepintas mungkin kita akan berpikir bahwa Tuhan Yesus tidak mengerti kegelisahan orang tuanya yang sudah 3 hari mencari-cari anak hilang, dan tidak menghargai kekuatiran mereka.

Tapi kalau kita memperhatikan lebih cermat dialog ini, sebenarnya Yesus bukan sedang menunjukkan ketidakpedulian-Nya terhadap usaha orang tua-Nya mencari Dia. ”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”, itulah jawaban Tuhan Yesus terhadap kecemasan orang tua-Nya. Dia sebenarnya mau mengatakan kepada orang tua-Nya bahwa sesungguhnya tidak perlu cemas dan mencari Dia kemana-mana sampai berhari-hari. Sesungguhnya sebagai orang tua, Yusuf dan Maria seharusnya tahu kemana Yesus akan pergi bila terpisah dari orang tua-Nya, yaitu Bait Allah. Bukan saja karena tempat itu adalah tempat dimana Kristus berada dalam ”rumah Bapa-Ku”, tapi sebenarnya juga menunjukkan apa yang menjadi kesukaan Yesus yang muda itu.

Lihatlah Tuhan Yesus menikmati duduk-duduk dengan alim ulama, bercakap-cakap dengan mereka dan mengajukan berbagai pertanyaan. Yesus yang muda menunjukkan minat-Nya kepada perkara-perkara rohani. Di Bait Allah, Tuhan Yesus berdiskusi dengan para teolog, karena Dia berminat besar kepada pembicaraan tentang Bapa-Nya.

Saat ini, semakin sedikit orang muda menaruh minat terhadap kebenaran-kebenaran Firman Tuhan. Mengapa demkian? Karena memang ketertarikan orang muda di jaman ini lebih kepada dirinya sendiri. Jaman ini telah menuntun orang muda untuk meng-ekploitasi dirinya sendiri. Orang muda senang mempertontonkan dirinya sendiri, baik pikiran,perasaan dan penampilannya. Minat yang besar terhadap diri sendiri membuat orang muda hidup dalam hedonisme dan narsisisme. Akhirnya sudah menjadi masalah klasik bahwa kelas-kelas pemahaman Alkitab semakin sepi, kelompok-kelompok kecil tidak lagi bergairah, acara-acara pembinaan di gereja tidak lagi diminati. Padahal ciri khas seorang yang memiliki pertumbuhan rohani adalah minat yang besar juga dalam belajar akan kebenaran Firman Tuhan, senang mendiskusikannya, dan nyaman membicarakannya berlama-lama. Kristus di Bait Allah, menunjukan passion yang besar terhadap Allah, ada kesukaan tersendiri buat Tuhan Yesus untuk berdiskusi tentang Bapa-Nya dengan para alim ulama itu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga memiliki minat bahkan kerinduan yang besar untuk membicarakan, mendiskusikan dan mempelajari kebenaran Firman Tuhan? Orang yang memiliki kegairahan yang besar kepada Allah adalah orang yang memiliki kerinduan. Rindu itu suatu rasa yang ajaib. Ada hal-hal yang besar yang bisa dilakukan oleh seseorang kalau dia merindukan sesuatu. Jadi rindu itu membuat terjadinya suatu dorongan yang besar di dalam diri kita untuk melakukan sesuatu. Orang Kristen seharusnya punya rindu pada Tuhan, sehingga dia menaruh minat yang besar pada pertumbuhan rohaninya dan pada pengenalan akan Tuhan. Pola inilah yang ditunjukkan oleh Kristus dari cerita yang sederhana tentang diri-Nya yang hilang di Yerusalem.

Didalam diri Kristus yang masih remaja yang punya kerinduan besar inilah, Lukas mencatat, bahwa Yesus bertambah besar, dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

January 15, 2011

Renungan: Money...Mooney.....Money

1 Timotius 6 : 6 - 10

6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.


Money, Money, Money

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan uang. Banyak orang di dunia percaya bahwa uang lah segala-galanya. Ada uang kita bisa bikin apa saja. Paling tidak ada pemikiran yang sifatnya umum yang orang pikir tentang uang: (i) Orang berpikir uang dapat memberikan rasa aman atau security. (ii) Orang berpikir uang memberikan harga diri seseorang. (iii) Orang berpikir uang dapat memberikan kebahagiaan.

Pikiran-pikiran yang mengatakan bahwa uang dapat memberikan keamanan, dan harga diri bahkan kebahagiaan, inilah yang membuat orang bisa cinta uang! Itu adalah pikiran dunia yang menyesatkan kita saat ini. Paulus memperingatkan kita dalam bacaan ini bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan dan uang tidak membawa kita kepada kebahagiaan. Ada beberapa alasan mengapa uang tidak memimpin kita kedalam kebahagiaan:

Pertama , karena uang tidaklah kekal. Ayat 7 mengatakan, “kita tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa keluar”. Kita tidak membawa apapun ke dalam dunia, yaitu ketika kita lahir ke dunia. Lalu, kitapun tidak membawa apa-apa keluar. Kita akan keluar dari dunia ini sama seperti ketika kita masuk: tidak bawa apa-apa!
Kita sering mencintai uang, mengejar uang sedemikian rupa seakan-akan uang dapat kita bawa juga keluar dari dunia ini. Kita punya dimensi hidup kekal, yang didalamnya uang itu tidak laku, tidak menambah apa-apa, dan tidak mempengaruhi apa-apa. Lalu mengapa mengejarnya sedemikian rupa padahal waktu kita mati, itu tidak artinya sedikitpun?

Kedua, karena sebenarnya kita tidak perlu kaya dan mengejar uang dengan luar biasa untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Paulus bilang “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” . Cinta akan uang tidak akan menuntun kepada kebahagiaan. Tapi asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Kata “cukup” berarti tidak kekurangan, baik dari segi materi maupun rohani.
Ketiga, mengapa kita jangan cinta Uang, karena keinginan menjadi kaya akan membawa kedalam berbagai pencobaan dan kedalam jerat yang mencelakakan dan bahkan membinasakan. Uang selalu nampaknya mempesona dan kita berpikir dapat membuat kita bahagia, tapi pengejaran kita akan uang membuat kita tidak melihat apa dibalik uang itu. Cinta akan uang akan membawa manusia bergerak menjauh dari Allah.

Uang memang mempengaruhi relasi kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Tapi sebenarnya yang dimaksud bukan uangnya, tapi “cinta pada uang” itu yang akan mempengaruhi hubungan kita. Cinta uang berarti ada kegairahan yang besar terhadap uang itu dan pemanfaatannya bagi diri, sehingga nilai uang itu dipandang lebih berharga dari lainnya. Apa yang bisa membuat 2 sahabat menjadi pecah? Uang. Apa yang membuat gereja bisa pecah? Uang juga. Uang bisa membuat seseorang mengkhianati sahabatnya sendiri, bahkan membunuh orang lain.

Tidak salah punya uang banyak. Tapi bisa jadi masalah kalau mencintai uang.

November 20, 2010

Renungan: Menjadi Berkat Bagi Sesama

Kejadian 12:1-3

(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;

(2) Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

(3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."


Menjadi Berkat bagi sesama

Cerita ini di mulai dengan panggilan Allah kepada Abraham untuk pergi ke negeri yang Tuhan tunjukkan padanya. Alkitab hanya mencatat, Firman Tuhan kepada Abraham: “pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu…” dan seterusnya. Lihatlah betapa efektifnya panggilan Allah itu dalam diri Abraham, dan Abraham meresponinya tanpa syarat: “maka pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan”. Allah berinisiatif memanggil Abraham dan mengadakan suatu perjanjian yang besar dengannya. Tidakkah ini adalah hal yang luar biasa? Allah sang pencipta dan berkuasa, mau mengadakan perjanjian dengan ciptaann yang kecil. Abraham bukan siapa-siapa. Abraham tidak kenal siapa Allah sebelumnya, tapi penyataan Allah kepadanya sangat jelas, dan dan dia mentaati apa yang Allah perintahkan kepadanya.

Allah memanggil Abraham untuk keluar dari negerinya karena Allah ingin menjadikan dia: (i) Memiliki negeri yang Allah janjikan (ii) bangsa yang besar, (iii) memiliki nama yang masyur, dan (iv) dipelihara dan diberkati. Lihatlah hal-hal yang akan diterima oleh Abraham: Tanah, Bangsa, Nama dan Pemeliharaan. Bukankah semua orang ingin ke-empat hal ini? tanah, rumah, tempat dimana kita bisa pulang. Ini semua adalah hal yang manusia ingin dapatkan dalam hidupnya, dan Allah memberikannya pada Abraham.

Tapi semua yang dijanjikan Allah kepada Abraham itu sesungguhnya bukan sekedar supaya dia jadi Tuan tanah dan berkuasa, tapi supaya Abraham menjadi berkat! Ternyata berkat-berkat yang Abraham terima itu bukan sekedar untuk dirinya tapi supaya lewat Abraham, yaitu namanya, kebesarannya, dan imannya, orang mendapatkan berkat yang sama dan melihat sumber berkat itu sendiri yaitu Allah. Lewat hidup Abraham, Allah menyatakan diri-Nya, sehingga orang melihat sumber berkat itu.

Kata “berkat” dalam pengertian Alkitab memang bisa berarti secara fisik dan secara rohani; secara materi dan secara imateri. Diberkati memang bisa berarti memiliki tanah, harta, dan kekayaan. Tapi maknanya bukan hanya itu. Ada berkat lain yang sama besarnya yaitu berkat secara rohani, yaitu berada dalam relasi yang erat dengan Allah. Bahkan sebenarnya diberkati secara rohani, jauh lebih berharga daripada diberkati secara materi. Karena orang yang diberkati secara rohani, akan bisa menikmati berkat-berkat materinya. Orang yang diberkati secara rohani adalah orang yang bisa merasakan kasih, penghiburan dan pemeliharaan Allah. Ketika anda memiliki iman dan hidup didalam iman itu, anda adalah orang yang diberkati! Apa gunanya punya banyak materi tapi kita tidak bisa merasakan cinta dan kasih Allah lewat semua itu? Tidak ada artinya bukan?

Itu sebabnya yang ditulis dalam Ibrani tentang Abraham, bukan tentang Abraham yang dapat tanah, dapat nama, dapat kebesaran dan kemasyuran, tapi Ibrani menulis “Karena Iman Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya…” (11:8) Apakah yang membuat Abraham menjadi berkat? bukan sekedar tanah, nama dan kebesaran. Tapi imannya yang meresponi Allah , dan bagaimana ia hidup dalam relasi yang dekat dengan Allah, itulah yang membuat ia menjadi berkat.

Sobat muda, sebenarnya bisa beribadah dan punya kesadaran untuk mempercayakan hidup kita kepada Tuhan saja itu sudah merupakan berkat, dan seharusnya itu memampukan kita juga menjadi berkat bagi orang lain. Orang sering berpikir, kalau kita punya harta dan materi, itu baru berkat. Padahal kalau kita tidak punya kesadaran rasa syukur pada Allah, sebanyak apapun materi yang kita punya, maka semua itupun tidak akan ada artinya, apalagi menjadi berkat buat orang lain. Tapi orang yang sadar betul bahwa hidupnya adalah anugrah Tuhan dan meyakini berkat yang berlimpah dalam hidup rohaninya, maka pastilah orang disekelilingnya akan merasa diberkati karena melihat Allah dalam hidupnya.

November 4, 2010

Renungan: Berkubang dalam luka

Mazmur 147 : 1 - 6

147:1 Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.

147:2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai;

147:3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;

147:4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.

147:5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.

147:6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.


Berkubang dalam luka

Manusia bukan hanya terdiri dari hal yang fisik, yang kalau luka terasa sakit, tapi kita juga terdiri dari yang non-fisik, yang juga bisa dilukai, tentu tidak selalu dengan benda fisik. Luka yang sifatnya non-fisik itulah yang sering kita sebut sebagai luka batin, karena yang terluka memang ‘batinnya’, yang bahkan bisa membuat kita lebih merana daripadi luka fisik. Kadang sakit fisik lebih mudah diobati dari pada sakit hati. Separah-parahnya kita sakit, masih bisa ditelusuri: dicari bakterinya dimana, jenisnya apa, lalu ditelusuri antibiotic apa yang bisa membunuh bakteri itu. Tapi kalau didalam hati engkau menyimpan rasa sakit hati, kecewa dan dendam, antibiotik apa yang cocok?

Hari ini kita membaca bahwa Allah menyembuhkan orang-orang yang patah hati atau broken in heart dan membalut luka-luka mereka. “Orang-orang yang patah hati” dalam mazmur ini bukan sekedar orang yang punya luka batin karena disakiti orang lain atau rasa kecewa dan kepahitan karena peristiwa hidup yang berat. Memang orang-orang demikian termasuk didalamnya. Tapi yang paling mendasar dari orang yang “broken in heart” adalah orang yang patah hati karena dosa. Jadi mereka adalah orang yang merasa hancur hatinya karena menyadari dosanya. Hati mereka hancur karena mereka sadar bahwa dosa-dosa itu tidak berkenan di hadapan Allah. Orang yang hancur hatinya adalah orang yang sadar dirinya adalah pendosa. Allah akan memulihkan orang yang seperti ini.

Ketahuilah bahwa dalam setiap ‘luka’ yang anda rasakan entah itu rasa kecewa, sakit hati, tidak mau mengampuni, pasti ada unsur dosa didalamnya. Mungkin seseorang mengatakan “itu bukan dosa, karena aku korban! aku disakiti, aku dihina, aku dikhianati”. Lalu biasanya orang seperti ini akan membiarkan dirinya berkubang dalam luka-lukanya, tidak mau keluar dari rasa itu. Bukankah ketidak mampuan kita untuk memaafkan, ketidak sanggupan kita untuk menerima diri kita dan rasa dendam yang menguasai kita, semua itu adalah dosa? Tapi orang yang patah hatinya adalah orang yang mengaku bahwa didalam luka-lukanya ada dosa. Mereka adalah orang yang mengatakan “Tuhan aku begitu kecewa, aku begitu sakit hati, tapi aku tidak tahu harus bagaimana, balutlah luka-lukaku supaya aku lepas dari kekecewaan ini”

Orang yang “broken heart” didalam Mazmur ini adalah orang yang sadar dirinya hancur, dan mengaku bahwa dia membutuhkan Allah. Karena dia tahu dia tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri; dia tahu hanya Allah yang sanggup menyembuhkan dan memulihkan hidupnya. Kalau bintang di langit saja Allah yang menentukan jumlahnya dan nama-namanya, apalagi mengurus luka kita yang kecil ini? Kalau begitu, mengapa masih terus berkubang dalam luka-luka hidupmu?

October 5, 2010

Renungan: Pertobatan yang nyata terlihat buahnya

Lukas 3 : 8 - 17

3:8 Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!

3:9 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api."

3:10 Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"

3:11 Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
3:12 Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"

3:13 Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."

3:14 Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."

3:15 Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,

3:16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

3:17 Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."



Pertobatan yang nyata terlihat buahnya

Di sekeliling kita banyak barang palsu, nampaknya asli tapi sebenarnya sebuah tiruan. Orangpun senang membeli barang-barang tiruan tersebut yang hadir dalam bentuk perhiasan, baju, tas, dan lain sebagainya. Tapi namanya juga barang tiuran, tetap saja barang tiruan, biarpun bagusnya seperti bentuk aslinya. Manusia pun sudah banyak yang tidak asli, tapi penuh kepalsuan. Misalnya anda tersenyum didepan seseorang, tapi sebenarnya anda sendiri sedang ada kekesalan dengan orang tersebut dan memilih pura-pura tersenyum didepanya. Ini bukan respon yang otentik. Banyak orang Kristen tidak otentik, nampaknya saja asli karena melakukan semua kehidupan ritual di depan publik dengan nyata: ke gereja, ibadah dengan khusuk, memberikan persembahan, dan bernyanyi dengan semangat. Tapi sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh, karena respon-respon dalam hidupnya tidak menunjukkan karakter Kristen yang sejati.

Pertobatan juga ada yang asli dan tidak asli, nampaknya saja bertobat, menyesal, minta ampun, tapi dalam hatinya tidak ada perubahan apa-apa. Itu sebabnya Yohanes berteriak supaya orang Israel, sebagai orang yang sudah mengenal Allah, yang bahkan mengaku keturunan Abraham dan mengikat perjanjian dengan Allah, bertobat. Bahkan dalam catatan Matius, disebutkan bahwa yang datang diantara orang-orang itu adalah pemuka agama dan pemimpin masyarakat: orang farisi dan orang saduki. Lalu Yohanes bilang “ hai kamu keturunan ular beludak, siapa bilang kamu dapat melarikan diri dari murka Allah?”. Keturunan ular beludak disini maksudnya adalah orang yang hatinya terpaut pada Iblis dan yang dipenuhi dengan kejahatan, yaitu mereka yang ada dalam keturunan dosa.
Itu berarti Yohanes mau bilang, bahwa tidak berarti kalau seorang ahli agama, dan pemuka masyarakat, bisa lari dari hadapan Tuhan. Orang yang sudah jadi pemuka agama saja, menurut Yohanes harus bertobat dan menunjukkan buah pertobatan. Banyak orang yang sering ke gereja, yang merasa sudah melayani banyak, merasa sudah aman, pasti masuk surga, lalu justru hidup seenaknya aja. Padahal seorang yang sungguh-sungguh Kristen dan sungguh-sungguh bertobat, harus memperlihatkan buahnya. Buahnya itu harus yang otentik, bukan yang palsu dan yang pura-pura, tapi yang sungguh-sungguh. Orang yang sungguh-sungguh bertobat, responnya akan berbeda dengan orang yang pertobatannya hanya pura-pura.

Pertobatan yang sejati menuntut adanya buah. Pertama , Pertobatan yang sejati akan membawa perubahan yang nyata dan menyeluruh dalam hidup seseorang yang dimulai dari hati. Semua memang bermula dari perubahan hati. Karena hati itu pusat hidup dan pusat dari mana segala kehendak dimulai dan keinginan diwujudkan. Kalau hati sudah bertobat, maka seluruh hidup akan terbawa mengalami perubahan juga. Pertobatan dimulai dari yang di dalam, lalu bergerak keluar menjadi sikap, nilai dan perlaku; bukan sebaliknya. Kedua , Pertobatan bukan hanya membawa perubahan di dalam diri kita sendiri secara pribadi, tapi juga membawa perubahan dalam hidup kita dengan orang lain. Jadi dampak pertobatan itu pasti harusnya terasa dan dirasakan oleh orang lain. Yohanes mengatakan, “ kalau kamu punya 2 helai baju, hendaklah ia membagi dengan yang punya.. .kalau kamu pemungut cukai, jangan menagih lebih banyak dari yang ditentukan… kalau kamu tentara, jangan merampas dan jangan memeras orang lain…” Itu berarti pertobatan seseorang bukan hanya mengubah hati, tapi relasi kita dengan orang lain juga jadi lebih baik karena hati yang sudah bertobat, akan punya belas kasihan dan kemauan untuk berbuat yang baik bagi sesamanya.

Bagaimana teman… Sudahkah buah pertobatanmu nyata?

July 12, 2010

Renungan: Kobarkanlah Karunia Allah!

2 Timotius 1:6-8

(6) Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

(7) Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

(8) Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.


Kobarkanlah karunia Allah!

Ini adalah surat akhir menjelang ajal dari seorang pahlawan rohani, kepada anak rohaninya Timotius. Apa yang Paulus sampaikan tentu adalah hal-hal yang penting, karena dia berpikir, tidak akan pernah bertemu lagi dengan Timotius, dan tidak ada lagi waktu bersama-sama seperti yang sudah pernah mereka lalui. Tentu ini juga menjadi surat yang sangat penting sekali dan harus dibaca oleh semua pemimpin Kristen, pelayan, pekerja, dan siapa saja yang terlibat dalam pelayanan, karena yang berbicara ini adalah seorang yang sudah teruji dalam hidup pelayanannya. Ditengah kondisi menjelang datangnya ajal, Paulus menunjukkan hati yang tetap dipenuhi rasa syukur sebagai orang yang diberi kasih karunia Allah. Bahkan dalam situasi seperti itu Ia masih bersyukur, menaikkan doa permohonan bagi orang lain, bahkan mengobarkan semangat di hati Timotius.

Paulus banyak mendorong Timotius dari berbagai penjuru. Di awal surat ini saja Paulus sudah mengingatkan akan besarnya anugrah Tuhan bagi Timotius karena memiliki Ibu dan Nenek yang memperkenalkan kebenaran Allah kepadanya. Sepertinya Timotius memang orang muda yang lemah, malu-malu, takut, sungkanan, dan tidak berani konfrontasi. Mungkin dia orang yang sangat lembut hatinya, bahkan terlalu lembut untuk sanggup menghadapi kerasnya tantangan disekelilingnya. Tapi sebenarnya di dalam kelemahannya Timotius memiliki banyak karunia, dan Paulus mengatakan bahwa itu harus dikobarkan atau dipakai dengan berani.

Seringkali memang orang yang punya banyak karunia, tidak berani memakainya karena kelemahan karakternya dan tidak punya keberanian untuk memakainya. Jadi nasihat Paulus ini tepat sekali supaya Timotius punya keteguhan dan keberanian untuk memakai seluruh karunia yang sudah diberikan Allah buat dia. Kata ”mengobarkan” bukan berarti ’menyalakan’ tapi membuatnya menjadi besar. Kita sering tahu bahwa kita memiliki karunia dalam banyak hal, tapi memang apa yang kita mengerti itu hanya api yang redup-redup, dan tidak membakar apa-apa di dalam diri kita. Sehingga kita tetap menjadi orang yang tidak punya semangat melayani Tuhan dan mudah sekali mundur.

Ini sebenarya juga menunjukkan bahwa Tuhan memperlakukan kita tidak seperi robot. Tidak berarti kalau kita diberi karunia, kita langsung ”berubah” seperti mendapatkannya dengan ”bimsalabim”. Tapi karunia bekerja lewat diri kita seutuhnya, keluar dalam bentuk minat, gairah, semangat, sehingga karunia itu bekerja. Bahkan ada hal-hal yang harus diperangi untuk tetap membuat karunia itu tetap berkobar. Salah satu yang Paulus ungkapkan disini adalah ”rasa malu”.

Rasa malu sering menguasai diri sehingga performa hidup sering juga tidak maksimal. Ada rasa malu yang harus kita perangi supaya tidak menguasai perasaan kita. Misalnya rasa malu untuk sesuatu yang kita sudah bertobat. Paulus tidak malu mengakui kalau dulu dia begitu bejat, namun dia mendapatkan pengampunan. Justru hal itu membuat Ia memiliki hati yang penuh dengan ucapan syukur karena merasa tidak layak tapi tetap diberi anugerah. Malu karena masa lalu membuat kita tidak bisa bergerak menuju masa depan dan melakukan perkaran besar dalam hidup kita. Rasa malu akan masa lalu seperti penjara yang menghalangi karya-karya yang seharusnya kita hasilkan. Jangan pernah juga merasa malu untuk memuliakan Tuhan sehingga kita seringkali menurunkan standar-standar yang harusnya kita pakai, tapi karena kita malu dianggap aneh oleh komunitas, kita menurunkannya.

Sobat muda, apa yang membuat karunia dalam dirimu menjadi redup? Perangi itu, dan kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu!

May 22, 2010

Renungan: Allah Mengingat......

Kejadian 8 : 1 - 4

8:1 Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun.

8:2 Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit,

8:3 dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari.

8:4 Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat.


Allah Mengingat

Mengingat adalah pekerjaan yang penting. Dalam hidup, kita banyak mengandalkan ingatan untuk memudahkan banyak pekerjaan. Ingatan juga dibutuhkan dalam proses belajar sehari-hari, sehingga kita makin bertumbuh dan makin mengerti banyak hal. Dalam relasi pun ingatan sangat dibutuhkan untuk membangun hubungan yang baik. Sederhana saja, kalau engkau lupa akan hari ulang tahun pacar-mu, tidak kah dia kecewa? Seseorang akan merasa berharga ketika kita mengingat hal-hal penting dalam hidupnya karena ketika kita melakukannya sebenarnya kita sudah menunjukkan bahwa dia cukup penting untuk kita ingat. Banyak hal yang harus kita ingat tapi banyak hal juga yang sering terlupakan karena memang kapasitas kita mengingat sangatlah terbatas. Tapi hari ini kita melihat bahwa Allah mengingat kita dengan tidak terbatas; Dia tidak pernah melupakan apa yang Dia sudah mulai dalam hidup kita.

Cerita air bah ini sampai di satu titik penting yang ada di 8:1 “Maka Allah mengingat Nuh…”. Kata “mengingat” bukan berarti sebelumnya Allah lupa. Ini merupakan suatu ungkapan atau tanda bahwa Allah akan melakukan apa yang memang Ia harus lakukan. Allah membawa Nuh yang ada dalam bahtera untuk sampai di suatu point pemberhentiannya. Sebelumnya bahtera Nuh itu seperti sebuah kotak kecil yang terombang-ambing di tengah air bah yang menutupi bumi. Gambaran air bah yang menutupi bumi mungkin sungguh sulit untuk kita gambarkan dalam benak kita, karena ini bukan sekedar banjir besar atau tsunami yang pernah kita lihat sebelumnya. Bahkan puncak-puncak gunung pun tertutup oleh air bah yang dasyat itu. Betapa kecilnya Nuh dalam bahtera terombang-ambing di tengah kekacauan dan porak porandanya dunia saat itu. Tapi di tengah “chaos” itu, Allah mengingat satu detail kecil namun penting bagiNya, yaitu bahtera Nuh dan segala isinya.

Di tengah kesibukan yang tinggi, pergumulan yang berat dan kekacauan hidup dengan banyak detail, kita sering melupakan banyak hal, bahkan kita lupa akan janji Tuhan bahwa Dia akan selalu memelihara. Tapi se”kacau” apapun hidup kita dan sehebat apapun ‘air bah’ dalam hidup ini, Allah tetap mengingat dan tidak akan pernah melupakan kita. Dia yang maha tahu dapat melihat kedalaman hati kita ditengah chaos nya dunia ini. Ini bukan saja menunjukkan bahwa Ia berkuasa maka Ia sanggup mengingat, tapi juga menunjukkan betapa Ia mengasihi kita. Seharusnya hal ini menjadi penghiburan yang melegakan hati. Orang boleh saja melupakan engkau, tapi Allah tidak pernah begitu…Dia mengingatmu.

February 12, 2010

Renungan: Selalu Ingat Siapa Dirimu

2 Korintus 5:17

(17) Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.


Selalu ingat siapa dirimu

Ada banyak pemimpin yang kita hormati dan junjung tinggi dalam hidup kita, tapi adakah diantara mereka yang begitu dihormati dan disembah sampai kita dapat mengatakan bahwa kita ada “di dalam dia”? Sehebat apapun kuasa seseorang atas hidup orang lain, tapi tidak ada yang dapat meng-klaim bahwa orang lain ada “di dalam” dia. Paulus mengatakan “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru”. Arti “di dalam” harus kita mengerti sebagaimana Alkitab mengungkapkannya secara simbolis pada bagian-bagian lain.

Adam sebagai manusia yang pertama, telah jatuh dalam dosa. Di dalam Adam kitapun diturunkan sebagai manusia berdosa. Seorang Adam telah membuat seluruh manusia jatuh dalam dosa. Demikian juga halnya di dalam Kristus, yang kemudian berdiri sebagai Juruselamat yang menanggung hukuman atas dosa manusia, sehingga di dalam Kristus manusia memperoleh keselamatan dan terbebas dari dosa. Di dalam Kristus berarti di dalam kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, manusia memperoleh keselamatan kekal. Mungkin gambaran yang sedikit lebih mudah dimengerti ada dalam cerita Nuh. Bahtera Nuh adalah prototype Kristus. Di dalam bahtera itu Nuh memasukkan keluarganya dan segala mahluk hidup lainnya, sehingga semua yang ada dalam bahtera itu selamat dari hukuman air bah atas dunia dan isinya ini. Dalam Perjanjian Baru, Kristus menggambarkan hal ini sebagai pohon anggur, dimana Dia adalah Pokok Anggur itu sendiri. Karena pokok anggur inilah maka setiap ranting akan berbuah dengan baik. Di luar Pokok anggur ini ranting-ranting tidak akan menghasilkan apa-apa.

Di dalam Kristus kita menjadi satu dengan kematian-Nya dan kebangkitan-Nya sehingga kita memiliki hidup yang baru: menjadi ciptaan baru. Ada banyak penemuan didalam hidup kita yang kita kagumi, tapi Tuhan Allah menciptakan 2 hal yang paling dahsyat dari pada semua ciptaan dan penemuan, karena tidak ada yang sanggup meniru perbuatan Allah ini. Ciptaan yang pertama adalah ketika Dia mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Ciptaan yang kedua adalah ketika manusia lama kita disalibkan bersama Kristus dan didalam kebangkitan Kristus mengalami hidup yang baru atau manusia baru. Ini adalah dua ciptaan yang terbesar yang hanya Allah yang bisa melakukannya.

“Ciptaan baru” adalah karakteristik orang yang ada di dalam Kristus. Ciptaan yang baru ini menunjukan adanya suatu perubahan yang radikal dari yang lama menjadi baru, sedemikian rupa sehingga yang lama itu tidak terlihat lagi, diganti yang baru. Dalam manusia lama kita, dosa menjadi gaya tarik yang sangat kuat, sehingga kita diperintah bahkan diperbudak oleh dosa. Sedangkan sekarang ketika di dalam Kristus kita menjadi ciptaan baru maka kita hidup “dipimpin” oleh Roh Kudus. Roh didalam hati kita menjadi gravitasi yang terbesar, yang menuntun kita kepada apa yang baik, yang berkenan di hadapan Allah.

Masalahnya seringkali seseorang yang sudah mengaku lahir baru dan menjadi ciptaan baru, tapi masih melakukan kebiasaannya yang lama dan hidup seakan-akan tidak mengenal Kristus. Mungkinkah hal ini terjadi? Mungkin saja. Analogi yang sama adalah seperti seorang pria yang sudah menikah tapi hidup seakan-akan masih bujangan, tidak mengingat istrinya, dan hidup bersenang-senang dengan teman-temannya sendiri. Baiklah setiap orang mengingat siapa dirinya, bahwa dia adalah orang yang sudah diciptakan kembali di dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Kita perlu mengkoreksi diri kita sekali lagi, bila kita sudah di dalam Kristus dan menjadi ciptaan baru, mengapa kita masih sering bersikap seperti manusia lama yang tidak di dalam Kristus?

The duke of Windsor salah satu ahli waris kerajaan Inggris yang meninggal tahun 1972, menceritakan tentang masa kecilnya. Menurutnya, ayahnya: Raja Goerge V adalah orang tua yang sangat disiplin mendidik dia. Kadang ketika Duke of Windsor berbuat salah, Bapaknya hanya berkata: “my dear boy, you must always remember who you are

Sobat muda, ingatlah siapa kita: yaitu orang yang sudah ditebus dengan darah yang mahal, yang sudah mati bagi dosa dalam kematian Kristus, yang juga dalam pengalaman yang sama dengan kebangkitan Kristus, sehingga kita dianugrahi hidup yang baru.

February 10, 2010

Renungan: Tuhan Memandang Hati, Bukan Parasnya


1 Samuel 16:4-13

(4) Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?"

(5) Jawabnya: "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

(6) Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."

(7) Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

(8) Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."

(9) Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."

(10) Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."

(11) Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."

(12) Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."

(13) Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.


Tuhan Memandang Hati, bukan parasnya

Samuel ditugaskan Allah untuk mengurapi raja baru, yang akan menjadi orang nomor satu di Israel memimpin bangsa itu. Dalam benaknya Samuel sudah memiliki persepsi dan perkiraan seperti apakah profil seorang yang akan diurapi menjadi raja itu. Tentulah profil yang ada didalam benak Samuel adalah orang yang sebelumnya pernah Ia lihat dan dengar, yang terdekat tentunya adalah Saul. Semua orang pada waktu itu tentunya memiliki pemahaman yang mirip-mirip tentang siapakah raja pada umumnya. Dia harus seseorang dengan perawakan yang kuat karena seorang raja sudah seharusnya memimpin perang. Dia harus terlihat elok, karena dirinya secara utuh akan menjadi simbol kekuasan tertinggi di tengah negerinya. Dan mungkin ada banyak lagi pemahaman umum yang orang pikirkan tentang raja.

Itu juga yang terjadi pada Samuel. Di dalam benaknya dia sudah punya persepsi tentang profil seorang raja. Pada waktu Eliab muncul, dia berseru dalam hatinya, “..ini dia..!”. Tapi saat itu Allah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada Samuel, suatu prinsip yang harusnya dimiliki bukan hanya bagi seorang pemimpin rohani seperti Samuel tapi juga semua orang. Allah mengatakan “ Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati” Manusia memang mudah sekali tertarik dengan apa yang dilihat dengan matanya. Bahkan kita sering mengukur dan menilai orang lain hanya berdasarkan penampilan fisiknya. Persepsi kita berbicara dan memberikan nilai pada kita tentang apa artinya kulit berwarna hitam, putih dan kuning; apa artinya muka yang selalu serius atau tersenyum manis; apa artinya nada suara yang tinggi, rendah, dan kuat atau lembut; apa artinya pakaian yang mewah atau sederhana, dan lain sebagainya.

Orang menilai kita berdasarkan warna kulit, muka, perawakan, baju yang kita pakai, cara kita berbicara, dan lainnya yang kita tampilkan. Tapi seringkali kita juga terkecoh dengan penglihatan kita akan orang lain. Ada orang yang sepertinya baik dan senyumnya indah, tapi ternyata menjadi orang yang menipu kita. Ada orang yang kita pikir keras dan tidak peduli pada orang lain, ternyata menjadi satu-satunya orang yang menolong kita. Kita memang banyak hidup dalam persepsi, dan seringkali kita mandasari pemahaman tentang orang lain berdasarkan persepsi itu. Itulah yang sering menimbulkan kecurigaan dan kesalahmengertian, bahkan dinding yang tebal didalam komunitas untuk bisa saling mengenal dan menghargai satu sama lain.

Tidak demikian cara Allah melihat dan menilai kita. Allah melihat kepada hati. Mengapa hati? Karena hati adalah pusat yang menentukan seluruh perilaku kita. Keadaan hati kita akan tercermin dalam seluruh tingkah laku dan perkataan kita. Karena penilaiannya ada pada hati, maka pilihan Allah ini menjadi seperti tidak cocok dengan seluruh kriteria yang ada dalam pikiran Samuel tentang profil ideal seorang raja. Bukannya orang yang memiliki perawakan hebat dan tangguh, Allah malah memilih Daud yang terkecil dan termuda dari anak-anak Isai. Penampilan Daud sama sekali tidak mirip seorang petarung apalagi Raja, sampai-sampai Goliath menghina dia karena mukanya yang halus dan kemerah-merahan.

Sobat muda, Alkitab memberikan kesaksian bahwa Allah memang sering memilih orang-orang yang sepertinya tidak diperhitungkan. Dia memilih Rahab seorang perempuan pelacur untuk menyelamatkan orang Israel. Dia memilih Yefta yang memiliki masa lalu yang kelam dengan dibesarkan ditengah-tengah kumpulan perampok untuk memimpin orang Israel. Bahkan diantara banyak bangsa yang lebih maju dan beradab, Allah malah memilih keturunan Abraham yang saat itu hanyalah sekumpulan budak-budak yang dibawa Allah keluar dari Mesir dan menjadi bangsa Israel- Umat Allah.

Siapapun kita dan apapun yang orang pikirkan tentang kita, bersykurlah karena Tuhan tidak melihat kita seperti umumnya manusia melihat kita. Siapapun kita, kalau hati kita sungguh-sungguh dipersembahkan bagi Tuhan, maka di tangan-Nya kita akan menjadi apa saja seturut kehendak-Nya.

January 4, 2010

Renungan: Menjadi Besar dengan Cara Melayani

Matius 20 : 26 - 28

20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."


Menjadi Besar dengan Cara Melayani

Tahun yang baru, resolusi yang baru! Itulah yang biasanya kita pikirkan ketika memasuki tahun yang baru. Paling tidak kita akan menetapkan resolusi yang lebih baik atau pencapaian yang lebih tinggi lagi dari pada tahun lalu. Boleh kah kita punya keinginan menjadi orang yang lebih besar dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar juga? Bolehkah di tahun yang baru ini kita ingin menjadi orang yang lebih hebat dari tahun yang lalu? Tentu boleh, bahkan seharusnya demikian. Di awal tahun yang baru ini kita harus punya keinginan untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dari apa yang tahun lalu sudah kita buat.

Kalau anda seorang karyawan, anda harus meningkatkan kinerja yang lebih baik lagi dengan disiplin yang lebih tinggi dan target2 kerja yang lebih besar. Kalau anda seorang guru atau dosen, anda harus memperbaharui kuliah yang anda sampaikan dan mengembangkan metode baru yang efektif dalam pembelajaran. Kalau anda seorang pemimpin, anda harus menemukan inovasi baru yang menggairahkan orang-orang yang anda pimpin untuk menjadi lebih efektif lagi. Kalau anda seorang pelayan Tuhan di gereja, maka anda juga harus memikirkan pekerjaan yang lebih besar, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar yang bisa engkau ambil, lebih besar dari tahun yang lalu.

Tuhan Yesus mengatakan “ Barang siapa ingin menjadi besar diantara kamu…” Itu berarti tidak salah untuk menjadi besar. Tapi yang Tuhan peringatkan disini adalah ‘cara’ yang dilakukan untuk menjadi besar. Apa yang “besar” dalam konsep kerajaan Allah ternyata berbeda dengan konsep dunia ini mengejar untuk menjadi besar. Bila kita, atau ketika kita ingin menjadi besar, maka ada cara tertentu yang Tuhan sudah tetapkan dan tidak ada cara lain untuk mencapai kebesaran itu.

Dunia ini mengajarkan pada kita bagaimana cara untuk mencapai sukses dan besar. Kenyataan memperlihatkan pada kita, orang saling sikut untuk bisa mencapai kedudukan tertentu, saling fitnah dan menjatuhkan supaya bisa menduduki posisi tertentu. Orang harus mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya untuk mencapai suatu ukuran kesuksesan. Itulah pembelajaran yang seringkali diberikan oleh dunia ini.

Tapi Tuhan punya cara sendiri yang seharus dilakukan oleh warga kerajaan Allah yang mengejar kebesaran, yaitu: Yang menjadi besar adalah dia yang melayani.

Menjadi pelayan itu berarti menjadi hamba, atau dalam tatanan masyarakat pada waktu itu disebut budak. Budak itu hidupnya hanya bekerja memberi pelayanan bagi orang lain tanpa ada kredit sedikitpun diberikan padanya. Bahkan orang tidak bilang “terima kasih” pada budak, dan seorang budak tidak terpikirkan oleh nya untuk menuntut apresiasi dari orang yang dia layani. Sekarang Tuhan mengatakan yang terbesar adalah orang yang menempatkan dirinya sebagai budak ditengah sesamanya.

Maksud Tuhan tentu bukan supaya murid-murid semua menjadi budak dan di jual ke pasar, karena Tuhan pun hadir dalam komunitas saat itu dalam format atau status sebagai guru, bukan budak. Yang dimaksud disini adalah, menjadi hamba yang melayani harus menjadi suatu format cara pikir kita dalam melakukan apa saja, sehingga melayani menjadi paradigma hidup. Apapun profesi yang kita kerjakan, apapun tanggung jawab yang sedang kita pegang, seharusnya kita lakukan dengan hati yang “melayani”. Kita sering berpikir sempit tentang apa yang disebut “melayani” seakan hanyalah sebatas aktifitas dan kedudukan di gereja. Padahal ‘melayani’ harus menjadi cara hidup dalam keseluruhan hidup kita. Kalau anda seorang karyawan, maka bekerjalah sebagai seorang yang melayani, yang memberikan terbaik dari apa yang anda bisa lakukan. Dengan cara itulah kita menjadi orang yang “besar”. Bukankah kalau kita bekerja sungguh-sungguh, belajar sungguh-sungguh, dan memberikan yang terbaik , maka kita juga akan mendapatkan”upah” yang baik juga? Tapi semua upah itu adalah bonus, bukanlah tujuan atau goal. Tujuan hidup kita adalah melayani Tuhan.

Anda mau menjadi besar? Ayo kerjakan hal-hal yang besar, tapi dengan cara dan motivasi yang benar, yaitu dengan hati yang melayani.